REMAKE

Di industri film, tv dan musik sudah biasa ada “remake”.  Artinya,  karya yang sudah ada sebelumnya dibuat atau diproduksi ulang dengan konsep baru.   Betulkah remake harus menggunakan konsep baru ?   tidak selalu. Sebagian karya remake memang dicurigai melakukan remake karena kehabisan ide untuk membuat karya baru.  Dicurigai seperti itu ketika karya remake tersebut tidak menawarkan apapun yang berbeda dari karya sebelumnya selain  pemeran dan seting yang berubah.

 

Sebagian film remake berhasil, sebagian lagi tidak.  Di Indonesia baru-baru ini ada film remake dari film tahun 1970-an.   Apakah film remake ini berhasil ?   Kita lihat saja dari data perolehan penonton 2015.  Yang jelas film remake ini tidak termasuk dalam 10 film dengan jumlah penonton terbanyak.  Kesepuluh film dengan penonton terbanyak itu, berdasarkan data hingga akhir semester 2015 adalah  Di Balik 98,  Tarot, Toba Dreams, Filosofi Kopi The Movie, Youtubers, Kapan Kawin ?, Romeo + Rinjanji,  CJR The Movie: Lawan Rasa Takutmu, Air & Api, This Is Cinta. Dengan penonton antara terendah  150.073 penonton hingga yang tertinggi  648.947 penonton.

 

Di Hollywood  juga ada film-film remake yang tidak berhasil. Contohnya:   Planet of the Apes, The Poseiden Adventure, The Pink Panther, Point of No Return, Sabrina, Charlie and the Chocolate Factory,  dan masih banyak lagi.

 

Adakah syarat pembuatan remake yang berhasil ?   Stephen Farber, seorang kritikus film Hollywood terkemuka, hanya memberi batasan 2 hal yang mesti dihindari dalam produksi film remake

 

  • Janganlah membuat remake atas film yang sangat terikat kuat dengan era tertentu.  Contoh utama adalah remake yang dibuat Warren Beatty  “Love Affair”  yang aslinya film produksi 1939.   Cerita yang berlangsung di masa 1930an itu tidak berhasil diadaptasi untuk era 1990an

 

  • Janganlah  memproduksi film remake yang dalam pembuatannya ada passion luar biasa.  Karena itulah tidak ada yang berani dengan serius membuat remake untuk film seperti “Citizen Kane”  atau “Casablanca”.  Mungkin juga nantinya tidak ada yang berani membuat remake untuk film Titanic.

 

Setidaknya nasehat itu mengingatkan satu hal: mungkin kita keliru kalau tujuan awal membuat film remake itu adalah menghadirkan keberhasilan masa lalu di masa sekarang. Seringkali ketika beberapa karya tidak menunjukkan keberhasilan,  kemudian terpikir cara gampang yaitu melakukan remake atas film-film atau program-progam tv yang sudah berhasil di masanya.  Tapi justru itu jebakannya. Yang bisa menjadi peluang dan tantangan kreativitas adalah melakukan remake atas karya yang dulu belum berhasil. Dengan konsep baru  yang kita kembangkan, harapannya karya tersebut bisa relevan dan diterima untuk masa sekarang.

 

(8 July 2015)