PENONTON TV

 

Siapakah penonton tv, baik di Indonesia maupun di negara-negara lain ?  kalau mau sangat disederhanakan, cuma ada 2 kategori penonton.  Pertama, penonton iseng.  Kedua, penonton dengan niat. Penonton iseng itu nonton sambil memegang remote control.  Dia mencari-cari sesuatu yang dia sendiri tidak yakin apa.   Kalau ada yang menarik dia akan berhenti sejenak.  Tapi kemudian dia cepat bosan dan segera pindah lagi ke saluran lain.   Buat produser dan pengatur jadwal program tv,  acuhkan saja penonton iseng ini.  Tidak ada cara memikat dia.  Karakteristiknya memang mengambang.    Penonton ini tak ubahnya seperti floating mass.    Kadang-kadang penonton ini berkumpul di satu program hingga membuat ratingnya lumayan, tapi dengan cepat di episode-episode berikutnya penonton ini sudah menghilang.

 

Produser dan pengatur jadwal program mestinya fokus pada penonton jenis kedua, penonton dengan niat.  Penonton jenis ini pun terbagi dua.  Ada yang memang berniat menonton karena semata-mata pertimbangan pribadi.  Dia menyukai sebuah program tv tanpa dipengaruhi siapa pun. Dan kalau suka program itu , dia tidak merasa perlu untuk merekomendasikan program ini ke orang-orang lain.  Penonton niat jenis berikutnya adalah penonton yang berniat menonton karena cukup banyak dipengaruhi oleh pihak lain.  Para remaja memiliki karakteritik menonton sebuah program tv ketika para teman sebaya ternyata menonton program yang sama. Dan ketika dia tergerak menonton kemudian menyukai program itu maka dia dengan sangat jujur memberitahukan kepada teman-teman sebayanya. Secara langsung maupun lewat media sosial.  Sehingga menonton bisa sangat viral.  Menonton tidak sekadar sebuah aktivitas tapi ritual kebersamaan.  Ketika ada kegairahan masif untuk menonton sebuah program tv,  maka orang yang bahkan pernah menonton program tersebut, bisa ikut menonton sebagai ritual kebersamaan.

 

Jadi rumusnya:  temukan sesuatu yang menjadi pijakan awal untuk memicu kegairahan masif hingga kemudian terjadi  ritual kebersamaan menonton yang berusaha dipertahankan selama mungkin.  Misalnya pemicunya adalah sebuah lagu yang mempunyai daya tarik sangat kuat untuk melekatkan para calon penonton.

(27 July 2015)

IKLAN LEBARAN

 

Setiap kali momen lebaran, di tv  sering ada iklan korporasi yang menunjukkan jajaran direksi dari sebuah perusahaan berdiri bersama-sama menyampaikan ucapan selamat idul fitri mohon maaf lahir batin. Apa misi dari iklan korporasi seperti ini  ?   Berikut adalah kemungkinan-kemungkinannya.

 

  • Menunjukkan bahwa perusahaan ini punya kesadaran ikut merasakan kegembiraan dalam perayaan hari raya.

 

  • Memperkenalkan jajaran direksi secara lengkap yang selama ini tidak punya kesempatan untuk diperkenalkan.

 

  • Menunjukkan bahwa perusahaan memang pernah melakukan kesalahan sehingga semua jajaran direksi menyatakan permintaan maaf secara terbuka kepada seluruh masyarakat Indonesia – baik kepada pelanggan maupun non pelanggan

 

  • Menunjukkan bahwa perusahaan cukup profitable karena mampu membiayai iklan korporasi yang tidak kecil biayanya.

 

  • Menunjukkan bahwa perusahaan ini dipimpin oleh para direksi yang tidak segan berhadapan langsung dengan khalayak banyak.

 

  • Menunjukkan bahwa perusahaan tidak abai terhadap kepantasan yang memang harus dilaksanakan ketika menyangkut hari raya.

 

  • Menunjukkan bahwa perusahaan menjunjung nilai-nilai religiositas

 

  • Untuk mendapatkan eksposur lebih baik dibandingkan kompetitor

 

  • Sebagai bentuk menyapa  para pelanggan yang lebih efektif daripada mengirimi mereka kartu ucapan satu per satu

 

  • Untuk menghindari membuat iklan layanan masyarakat yang lebih canggih dan mahal dengan hanya cukup minta tolong para direksi bergaya di depan kamera selama beberapa menit.

 

Mungkin saja tak satu pun dari 10 itu yang menjadi misi perusahaan untuk beriklan korporasi menyampaikan selamat idul fitri.  Tapi layak untuk dipikirkan:  efektifkah iklan semacam itu jika tidak mampu meninggalkan ingatan apa-apa di tengah banyak ucapan sejenis yang bersliweran pada momen seperti itu ?

 

(24 July 2015)

KREATIVITAS DI PERUSAHAAN BESAR

 

Ketika kita berada di perusahaan besar, kita bisa merasakan bahwa kreativitas bukan prioritas nomer satu. Bahkan jika perusahaan itu bergerak di bisnis industri kreatif sekalipun.  Adakalanya kita merasakan bahwa kultur perusahaan mengharuskan kita menjalankan sesuatu yang sudah tercatat atau terbukti berhasil,  di luar itu dianggap mempunyai risiko menghambur-hamburkan uang.  Ketika yang pernah berhasil di masa lalu kemudian diproduksi  lagi ternyata tidak berhasil, apa yang akan dilakukan ?   Kembali ke aturan.  Eksperimen adalah sesuatu yang menakutkan. Pegawai pun dianggap telah bekerja dengan baik selama mematuhi aturan.

 

Gil Laroya, salah seorang desainer produk dari silivon valley, menulis di Hufftington Post.    “Pengalaman saya di perusahaan besar,  ada sebuah kultur internal yang harus  dipatuhi semua pegawai.  Kultur ini  memberi batasan tentang  bagaimana pegawa bekerja dan berinteraksi dengan tiap orang dalam operasional harian.   Memang kultur ini membantu mengatur  berbagai ekspektasi perusahaan.  Tapi dalam kaitan dengan kekuatan dan kelebihan masing-masing individu demi keuntungan perusahaan,  kultur berubah menjadi  “monster Frankeinstein”. Hanya bergerak berdasarkan perintah,  tanpa ada keberanian  mencipta.      Monster ini pada waktunya akan membunuh karakter kreatif dari setiap pegawai,    Kreativitas dan innovasi hampir selalu menjadi korban dari  mentalitas perusahaan seperti ini.  Jika perusahaan tidak benar-benar berusaha untuk “mengendalikan monster” tersebut, para pencipta dan inovator menjadi tertindih di bawah beratnya struktur dan regulasi.”

 

Artinya,  monster Frankenstein ini tidak pernah kelihatan tapi kita bisa merasakan kehadirannya.  Kata-kata yang umum adalah “business as usual”.  Seakan sebisa mungkin persaingan dimenangkan melalui sebuah usaha-usaha yang biasa. Kreativitas dan inovasi menjadi kata yang sering diucapkan sekaligus menakutkan untuk dilakukan.

 

Untuk membuktikan  Frankenstein ini hidup dalam perusahaan anda, cobalah bereksperimen.  Dan ketika hasil dari eksperimen itu  mengecewakan, lihatlah reaksi para atasan anda. Seberapa marah mereka.   Seberapa kuat mereka mendorong untuk adanya eksperimen lagi.

 

(15 July 2015)

SENSASIONAL

 

Apa itu drama ?   Drama yang kita kenal adalah cerita yang disampaikan melalui seni peran melalui medium panggung, tv, radio atau televisi. Drama biasanya fiksi.  Namun tak tertutup kemungkinan memang kisah nyata atau sekadar bumbu “berdasarkan kisah nyata”  yang sebenarnya justru memperkuat nilai drama itu. Rumus drama sudah sangat jelas: harus menggerakkan sisi emosional dari penontonnya.  Karena cerita tentang seorang gadis yang teraniaya dan miskin kemudian mendapatkan pangeran kaya,  lebih menggugah ketimbang anak gadis orang kaya  yang pintar dan sangat baik hati kemudian mendapatkan suami ganteng yang kaya juga.

 

Mungkinkah drama dilebih-lebihkan ?  jelas mungkin.  Untuk mendapatkan efek yang jauh lebih hebat lagi,  si tokoh ini mengalami penderitaan yang luar biasa berat.  Bukan berarti dalam kisah nyata tidak ada penderitaan yang ekstrem berat, namun demi efek dramatis, penderitaan ini bisa menjadi karya tulis yang menarik ulur antara penderitaan dan kelegaaan agar penonton larut dalam cerita.

 

Apakah mungkin peristiwa nyata mempunyai unsur drama ?  jelas mungkin juga.  Drama juga didefinisikan sebagai serangkaian peristiwa yang menggugah, emosional atau tidak terduga.  Karena itu beberapa peristiwa penyelamatan korban kecelakaan pesawat terbang atau korban bencana alam sering disebut sebagai drama karena di situ ada yang menggugah, emosional, dan banyak kejadian tak terduga.  Namun unsur dramanya tidak muncul jika disampaikan dalam potongan-potongan kecil yang terfragmentasi. Untuk memunculkan drama perlu storytelling.

 

Lalu apa itu sensasional ?  Orang sering menyebut bahwa artis-artis berlomba menciptakan sensasi-sensasi agar namanya tetap terjaga di anak tangga popularitas. Sensasional  didefinisikan sebagai sesuatu yang dimaksudkan untuk memunculkan keingintahuan yang kuat atau reaksi panas terutama dengan cara melebih-lebihkan detail. Misalnya, banyak dilakukan program gosip tv,  cerita asmara antara seorang artis muda dengan aktor yang jauh lebih tua. Berita semacam ini cukup berhasil memunculkan keingintahuan yang kuat dari para penonton untuk mengikuti berita-berita berikutnya.  Berita semacam ini masih cukup menarik minat meskipun penonton pada akhirnya tahu bahwa itu hanya bohong-bohongan saja. Penonton merasa dibohongi tapi dengan segera dilupakan dan mencari lagi berita sejenis.

 

Drama dan sensasional dalam kadar tertentu sama melebih-lebihkan.  Namun yang membedakan drama masih mampu mengundang empati namun sensasional jelas-jelas punya tujuan untuk memanipulasi. Drama berpusat pada penonton, sensasional berpusat pada diri si pembuat sensasi.  Drama membutuhkan storytelling.  Sensasional  hanya perlu ledakan-ledakan.  Pada akhirnya, drama bisa diceritakan ulang –bahkan berkali-kali.  Sedangkan sensasional cukup diceritakan sekali saja, setelah itu menjadi sangat berkurang daya kejutnya.

 

Setiap orang pada dasarnya adalah brand. Pilihan ada pada kita:  mau menjaga brand kita lewat drama atau sensasional. Yang jadi bahan pertimbangan pun berbeda:  kita ingin brand kita diceritakan berulang-ulang karena inspiratif atau harus terus-menerus dikobarkan dengan api yang lebih besar untuk membakar sensasi.

(12 July 2015)

REMAKE

Di industri film, tv dan musik sudah biasa ada “remake”.  Artinya,  karya yang sudah ada sebelumnya dibuat atau diproduksi ulang dengan konsep baru.   Betulkah remake harus menggunakan konsep baru ?   tidak selalu. Sebagian karya remake memang dicurigai melakukan remake karena kehabisan ide untuk membuat karya baru.  Dicurigai seperti itu ketika karya remake tersebut tidak menawarkan apapun yang berbeda dari karya sebelumnya selain  pemeran dan seting yang berubah.

 

Sebagian film remake berhasil, sebagian lagi tidak.  Di Indonesia baru-baru ini ada film remake dari film tahun 1970-an.   Apakah film remake ini berhasil ?   Kita lihat saja dari data perolehan penonton 2015.  Yang jelas film remake ini tidak termasuk dalam 10 film dengan jumlah penonton terbanyak.  Kesepuluh film dengan penonton terbanyak itu, berdasarkan data hingga akhir semester 2015 adalah  Di Balik 98,  Tarot, Toba Dreams, Filosofi Kopi The Movie, Youtubers, Kapan Kawin ?, Romeo + Rinjanji,  CJR The Movie: Lawan Rasa Takutmu, Air & Api, This Is Cinta. Dengan penonton antara terendah  150.073 penonton hingga yang tertinggi  648.947 penonton.

 

Di Hollywood  juga ada film-film remake yang tidak berhasil. Contohnya:   Planet of the Apes, The Poseiden Adventure, The Pink Panther, Point of No Return, Sabrina, Charlie and the Chocolate Factory,  dan masih banyak lagi.

 

Adakah syarat pembuatan remake yang berhasil ?   Stephen Farber, seorang kritikus film Hollywood terkemuka, hanya memberi batasan 2 hal yang mesti dihindari dalam produksi film remake

 

  • Janganlah membuat remake atas film yang sangat terikat kuat dengan era tertentu.  Contoh utama adalah remake yang dibuat Warren Beatty  “Love Affair”  yang aslinya film produksi 1939.   Cerita yang berlangsung di masa 1930an itu tidak berhasil diadaptasi untuk era 1990an

 

  • Janganlah  memproduksi film remake yang dalam pembuatannya ada passion luar biasa.  Karena itulah tidak ada yang berani dengan serius membuat remake untuk film seperti “Citizen Kane”  atau “Casablanca”.  Mungkin juga nantinya tidak ada yang berani membuat remake untuk film Titanic.

 

Setidaknya nasehat itu mengingatkan satu hal: mungkin kita keliru kalau tujuan awal membuat film remake itu adalah menghadirkan keberhasilan masa lalu di masa sekarang. Seringkali ketika beberapa karya tidak menunjukkan keberhasilan,  kemudian terpikir cara gampang yaitu melakukan remake atas film-film atau program-progam tv yang sudah berhasil di masanya.  Tapi justru itu jebakannya. Yang bisa menjadi peluang dan tantangan kreativitas adalah melakukan remake atas karya yang dulu belum berhasil. Dengan konsep baru  yang kita kembangkan, harapannya karya tersebut bisa relevan dan diterima untuk masa sekarang.

 

(8 July 2015)

MITRA PENGUAT

Setiap kali disebut McDonald’s , kebanyakan orang ingatnya Ray Kroc. Tokoh yang berjuang sejak awal.  Padahal kebehasilan McDonald’s  tidak bisa dilepaskan dari satu orang lagi.  Siapa dia ?

 

Pada saat awal Kroc dan keluarga McDonalds masih bekerja sama-sama, Kroc berjuang keras untuk membuat bisnis tersebut menghasilkan laba.  Namun, Kroc sebagai pemilik  restoran yang di franchise kan  tidak mampu menghasilkan pendapatan yang cukup.  Kesulitannya yang utama adalah mendapatkan uang untuk membayar tanah dan bangunan  untuk restoran.   Agar kendali bisnis masih bisa terjaga maka proses penjualan franchise mesti dijalankan satu per satu, tidak bisa sekaligus banyak franchise di sebuah area tertentu (seperti yang dijalankan oleh jaringan lain). Kroc harus menempuh cara itu karena para pembeli calon pembeli franchise Kroc tidak punya uang cukup besar untuk membayar tanah dan bangunan.

 

Namun cara bisnis ini berubah total di tahun 1956 ketika Kroc mempekerjakan Harry Sonneborne yang meyakinan Kroc bahwa sukses sesungguhnya dari McDonald’s adalah bisnis property. Ide Sonneborne adalah mengharuskan perusahaan McDonald untuk menyewa  tanah dan bangunan untuk keperluan setiap restoran.  Kemudian Mc Donald’s menyewakan lagi (sublease) kepada franchisee yang menjalankan restoran tersebut. Berikutnya Sonneborn merancang sebuah perencanaan untuk pada akhirnya mengambil alih kredit atas tanah dan bangunan tersebut sehingga memilikinya.  Segera setelah itu Kroc mendirikan Franchise Reality Corp untuk melakukan negosiasi-negosiasi dengan para pemilik tanah.   Awalnya, McDonald’s mengenakan biaya 20% dari harga franchise sebagai biaya sewa, namun kemudian biaya sewa ini naik hingga 40%.

 

Di tahun 1965, Kroc membuka lebih dari  700 restoran di 44 negara bagian.   Saat ini McDonald’s mempunyai 30.000 restoran di 100 negara.  Dengan total semua restoran ini, total net asset McDonald’s berdasarkan data 31 Maret 2015 adalah  $ US   32,1 miliar.

 

Ray Kroc bisa meraih keberhasilan hingga sejauh ni tidak bisa dilepaskan dari andil yang begitu besar dari  Harry Sonneborne.  Di balik pemimpin bisnis yang hebat selalu ada mitra yang luar biasa juga.  Sebagaimana ada Steve Wozniak di balik keberhasilan Steve Jobs.

 

(7 July 2015)

OTAK KANAN

Meski ada beberapa tulisan yang menyatakan teori tentang  otak kanan-otan kiri sudah usang,  namun wacana tentang pembagian peran antara otak kanan dan otak kiri tidak akan mati.  Otak kiri berkaitan dengan peran logika, analisis, matematika.  Sedangkan otak kanan berkenaan dengan peran visual, imajinasi,  seni.

 

Begitu populernya pendekatan otak kanan-otak kiri ini hingga langkah-langkah penjualan menggunakan pendekatan tersebut.  Diyakini:   tindakan apapun  harus melalui otak kanan.  Jadi, ketika sebuah informasi hanya masuk dan diolah di otak kirim, maka tidak bisa berbuah tindakan.  Dalam kerangka penjualan, sebuah produk yang hanya masuk dalam otak kiri saja, maka tidak mungkin terjadi penjualan.  Informasi produk apapun harus mampu masuk otak kiri kemudian “mampir” di otak kanan baru kemudian ada peluang terjadi penjualan.

 

Contoh umum,  sebuah brosur tentang produk yang hanya berisi angka dan statistik  hanya akan berhenti di otak kiri.  Jangan harap konsumen akan tertarik pada produk tersebut karena sama sekali tidak mampir ko otak kanan.  Karena itu diperlukan visual dan estetika dalam sebuah brosur.  Apalagi jika mampu menyentuh imajinasi si konsumen.

 

Karena itu pula promosi apartemen seringkali lebih efektif bukan melalui informasi brosur atau iklan tertulis lainnya tapi datang langsung ke lokasi dan staf penjualan bercerita secara imajinatif mengenai berbagai kenyamanan yang akan diterima si calon pembeli jika sudah menempati unit apartemen itu.  Penjelasan semacam itu sangat memesona otak kana sehingga berpeluang mengarah pada penjualan.

 

Bagaimana dengan dunia tv  ?  Haruskah program tv membuat otak kanan penonton aktif ?   Mengapa harus.  Memangnya ada tindakan yang diharapkan dari penonton setelah menonton sebuah program tv ?   Jelas ada.  Penonton diharapkan menonton lagi di kesempatan berikutnya sehingga perlu pendekatan otak kanan ini.

 

Namun kenyataannya beberapa program tv tidak mampu mampir ke otak kanan penonton karena standar estetikanya rendah.  Otak kanan mencari-cari estetika.  Otak kanan mencari-cari pemuasan lewat sesuatu yang imajinatif.   Ketika visual dicerna sebagai informasi masuk otak kiri.  Otak kiri  memproses, menganalisis, membandingkan dengan tayangan-tayangan yang pernah ditontonnya,  jika kualitasnya lebih rendah maka kecil peluang untuk menyeberang ke otak kanan.  Dan akhirnya tidak ada tindakan untuk mengulang menonton.

 

Selalu menjadi tantangan menarik untuk menciptakan produk atau mempromosikan produk agar memesona otak kanan.

 

(6 July 2015)

TANPA

Bagaimana membuat iklan shampoo tanpa visualisasi rambut ?
Bagaimana membuat program tv mengharukan tanpa adegan orang menangis ?
Bagaimana membuat film horor tanpa kehadiran sosok hantu ?
Bagaimana membuat kelas belajar tanpa  bangku ?
Bagaimana mengadakan sebuah seminar tanpa pembicara ?
Bagaimana membuat paket liburan tanpa tempat tujuan obyek wisata ?
Bagaimana menyanyi tanpa sebuah lagu ?
Bagaimana berbisnis tanpa modal uang ?
Bagaimana menggerakkan orang tanpa kalimat dan kata perintah ?

 

Semua itu sudah ada yang melakukan. Tapi tetap menarik untuk terus dilakukan. Dan terus menjadi sebuah tantangan kreativitas:  akankah  sesuatu menjadi lebih menarik bahkan lebih baik justru ketika tampil tanpa elemen utamanya ?

 

(2 July 2015)