MEMBANGUN AUDIENS

 

Di sebuah toko buku di mall kemarin diadakan talkshow tentang buku baru.    Acara akan dimulai pk 15.30  tapi dip k 15.25  situasi masih sepi pengunjung. Yang ada hanya penulis buku dan satu orang pendamping.  Sisanya hanya kursi kosong.  Seorang panitia seperti tidak peduli.  Tetap asyik main ponsel di atas panggung.  Penulis mulai panik.  Dia mendekati salah seorang panitia, “ayo dong ajak para pengunjung untuk duduk di sini.  Ayo dong.”    Acara dimulai juga meski terlambat.  Ketika ditengok,  posisi pengunjung tak berubah.  Ada tambahan pengunjung yang jelas-jelas mengenakan seragam toko buku tersebut.  Begitu sulitkah menarik orang untuk menjadi audiens ?

 

Menarik orang menjadi audiens mungkin tidak sulit.  Hanya saja audiens tidak lagi bisa diperlakukan sebagai orang yang bisa “diundang secara mendadak”.  Audiens bukan sekelompok orang pengangguran yang dalam waktu sekejap bisa menyesuaikan minatnya untuk sesuatu yang sama sekali belum pernah dia tahu, kenal, baca atau dengar.  Sehingga pada dasarnya audiens itu harus dibangun jauh sebelum ada acara itu.

 

Bisa dipahami jika pembuat film berusaha memproduksi film dari novel-novel yang sudah best seller,  karena dengan begitu ketika film ini ditayangkan untuk pertama kalinya  audiens itu sudah ada dan sudah terbentuk.  Bayangkan jika seorang memasuki gedung bioskop lalu memandangi poster-poster judul film yang dia sama sekali tidak punya bayangan ini bercerita mengenai apa dan tidak tahu bagaimana kualitasnya.  Dia akan merasa bukan sebagai audiens film tersebut.  Tapi ketika seseorang melihat di poster film itu ada nama sutradara yang sangat dikaguminya dan telah menonton semua filmnya,  ketidaktahuan terhadap cerita film itu menjadi tidak penting.   Orang tersebut telah mengidentifikasi sebagai audiens dari sutradara ternama itu.  Sebaliknya, sutradara itu telah membangun audiensnya sekian lama.

 

Bisa saja kita menghasilkan sebuah novel yang sangat bagus. Tapi karena audiens tidak dibangun sejak awal,  bisa jadi ketika meluncurkan novel tersebut, sebagian besar kursi terisi oleh para karyawan toko buku itu sendiri.

(28 June 2015)

 

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 × 4 =