12 TRILIUN

Industri penyiaran tv Indonesia tahun lalu mencatat pendapatan bersih sekitar Rp 12 triliun. Sebagian orang mungkin bilang: kok kecil ? Bisa dimaklumi karena beberapa media menyiarkan pendapatan kotor industri tv Indonesia mencapai Rp 70 triliuan (data ADEX). Iya memang ada banyak sekali diskon. Sehingga pendapatan bersihnya cuma “segitu”.

 

Namun 12 triliun tetap besar. Dengan penghasilan sebesar itu, apa yang telah dihasilkan tv Indonesia ?

 

Masih banyak komentar sana sini bahwa tv Indonesia masih menayangkan program berkualitas rendah. Komentar ini tidak bisa dipandang remeh mengingat otoritas pemantau televisi Indonesia, KPI, baru saja menyampaikan hasil survei kualitatif bahwa sebagian besar program yang tayang di tv Indonesia berkualitas rendah.

 

Tentu saja terminologi “kualitas rendah” itu mendapat banyak tentangan dari orang-orang tv. Target mereka bukan kualitas. Target mereka adalah program yang disukai. Kalau program itu ditonton banyak orang itu sudah cukup untuk menandakan program itu disukai. Program disukai berarti rating tinggi. Rating tinggi berarti mempunyai peluang untuk mendapatkan pendapatan besar lewat iklan. Lalu aspek “kualitas” itu ada dimana ?

 

Kualitas itu disuarakan oleh organisasi-organisasi pemerhati media massa, pemerhati anak-anak dan para orang tua kelas menengah yang sangat memperhatikan nilai edukasi sebuah tayangan tv. Sehingga penilaian kualitas program tv itu selalu dikaitkan dengan aspek edukasinya. Contoh sebuah program tv yang dianggap memenuhi kualifikasi seperti itu adalah Kick Andy. Sebuah program talkshow yang sering dinilai memberi inspirasi positif pada penontonnya. Namun jika program ini jika ditakar dengan ukuran banyaknya penonton, maka program ini bisa dibilang penontonnya tak banyak alias rating kecil.

 

Dengan kata lain, “kualitas” bukan kata menarik dalam industri tv. Sama saja dengan logika berjualan produk fisik: jika jauh lebih menguntungkan berjualan produk-produk mutu rendah yang murah, mengapa mesti bersikeras berjualan produk tinggi yang mahal ?

 

Namun di sisi lain, industri tv mestinya berpikir bahwa masyarakat penonton yang sangat peduli terhadap kualitas ini akan terus bertumbuh seiring pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan kesejahteraan. Pertumbuhan ini sampai satu titik yang mendesak para keluarga kelas menengah nan sejahtera ini untuk pelan-pelan menutup akses keluarganya ke program tv Indonesia dan beralih ke program-program tv asing yang dinilai lebih berkualitas. Di titik itu mungkin kita semua akan merasa terlambat untuk membangun budaya kreativitas yang sungguh-sungguh untuk menghasilkan program-program tv Indonesia yang menghibur sekaligus punya nilai edukasi.

 

(25 June 2015)

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

two × three =