MENGHANCURKAN

Ada istilah yang dimunculkan tahun 1940-an tapi masih relevan hingga sekarang. Istilah tersebut adalah creative destruction: inovasi yang dihasilkan para pengusaha sebagai kekuatan utama yang menjaga pertumbuhan jangka panjang sekaligus menghancurkan nilai-nilai mapan dari berbagai perusahaan yang dalam beberapa tingkat memegang kendali monopolistik. Yang melahirkan istilah itu seorang ahli ekonomi Austria, Joseph Schumpeter.

 

Dalam sebuah industri, creative destruction bisa dalam beberapa bentuk

 

  • Pasar baru.

 

  • Produk/Fitur produk baru .

 

  • Sumber tenaga kerja dan material baru.

 

  • Metode produksi baru

 

  • Metode transportasi baru.

 

  • Struktur organisasi/teknik manajemen baru.

 

  • Metode komunikasi baru.

 

Menyambung era 1940-an dengan sekarang Tom Peter 10 tahun lalu mengatakan “Destruction is job no. 1. Tugas utama pemimpin bisnis adalah MERUSAK bisnis.” Dan kini kata-kata itu menjadi terasa benar ketika populer sebuah jabatan baru CDO (chief Destruction Officer). Kalau CEO bertugas mengelola seluruh strategi dan operasi perusahaan; CFO mengelola keuangan perusahaan; CMO membangun strategi pemasaran; lha si CDO ini tugasnya “menghancurkan” perusahaan.

 

Dalam kata-kata Yuswohady di blog-nya

 

“Untuk bisa survive di tengah perubahan yang kaotik tersebut kuncinya terletak pada satu kata: “PENGHANCURAN”. Untuk sukses di era light-speed changes Anda tak boleh segan-segan menghancurkan sendi-sendi kesuksesan masa lalu Anda: “break with the immediate past”. Kenapa? Karena barangkali formula dan sendi-sendi kesuksesan tersebut sudah tak relevan lagi sekarang.

 

Bahkan kalau perlu, Anda harus bengis “membunuh” organisasi Anda, dan kemudian membangunnya kembali menjadi organisasi yang sama sekali baru. Anda tak perlu ragu untuk “menghabisi” model bisnis lama yang sudah tak relevan lagi dengan yang lebih baru dan fresh. Kapanpun, Anda harus siap dan tak segan-segan melakukan creative destruction, penghancuran secara kreatif.

 

Kalau krisis bisa kapan pun datang dan terus “mengintai”, tanpa sinyal, tanpa pemberitahuan, maka creative destruction haruslah menjadi “keseharian” operasi perusahaan Anda. Organisasi Anda, orang Anda, sistem yang Anda bangun, budaya perusahaan Anda, haruslah memiliki kapasitas dan kepiawaian untuk melakukan creative destruction.”

 

Saya jadi tercenung. Seorang teman bercerita bahwa perusahaannya selama 4 tahun mempunyai problem yang sama. Semua orang dalam perusahaan itu sadar sumber masalahnya apa, tapi tidak kunjung ada tindakan. Sehingga di tahun berikutnya ketika muncul masalah itu lagi, seperti biasa dibicarakan dalam rapat-rapat, dicarikan cara untuk menyesuasikan dengan masalah itu, tak pernah ada upaya menghancurkan masalah tersebut.

 

Sebuah perusahaan yang membayar seorang CDO (Chief Destruction Officer) pada dasarnya si pemilik pemilik perusahaan sudah menjabat tangan CDO itu sambil mengatakan “Baik. Saya rela dan ikhlas anda menghancurkan sistem dalam perusahaan saya. Saya ingin anda melakukan creative destruction.” Sayangnya, pemilik perusahaan yang memiliki kesadaran dan keikhlasan seperti itu sangat-sangat sedikit.

 

(1 July 2015)