LEBIH BAIK

 

Ketika dalam iklan kita mengatakan sebuah produk itu “lebih baik” dari  produk-produk lain maka maksud kita sebenarnya adalah produk tersebut adalah produk “terbaik”  (lebih baik dibandingkan produk-produk lain kan berarti itu yang terbaik).  Namun ketika produk-produk lain diiklankan juga dengan kata “lebih baik”  maka menyatakan produk kita “lebik baik”  itu berarti kita menyatakan produk kita “sama dengan”  produk-produk lain.

 

Dalam iklan ada banyak teknik untuk membuat klaim supaya produk itu tidak dianggap paritas (mempunyai banyak kesamaan dengan produk-produk lain). Tapi klaim yang paling mustajab ketika kata “lebih baik”  itu tersirat dari berbagai komentar pelanggan mengenai produk tersebut.

Di tv Indonesia banyak sinetron.  Bagaimana caranya membuat klaim bahwa sebuah sinetron itu lebih baik dari sinetron lain ?  Rating sudah pasti .  Tapi sebuah program yang mendapatkan rating tertinggi ternyata justru mendapat kecaman paling keras sebagai sinetron yang tidak bermutu.  Sedangkan sinetron lain yang menempati urutan ketiga dalam hal rating justru dipenuhi pujian dari para penggemarnya.  Para penggemar ini memberi berbagai komentar yang positif.  Mulai dari yang merasa tak bisa lepas untuk terus mengikuti episode demi episode sampai yang menceritakan bahwa dia hanya membolehkan keluarganya menonton sinetron tersebut karena menyampaikan nilai-nilai positif.

 

Pada akhirnya sebuah produk tidak bisa diklaim “lebih baik” (bisa saja diklaim “lebih baik” namun tak banyak gunanya)  sampai akhirnya terdengar komentar-komentar antusias dari para penggunanya  yang membuat produk itu tidak paritas dengan produk-produk lain.

(29 June 2015)

 

MEMBANGUN AUDIENS

 

Di sebuah toko buku di mall kemarin diadakan talkshow tentang buku baru.    Acara akan dimulai pk 15.30  tapi dip k 15.25  situasi masih sepi pengunjung. Yang ada hanya penulis buku dan satu orang pendamping.  Sisanya hanya kursi kosong.  Seorang panitia seperti tidak peduli.  Tetap asyik main ponsel di atas panggung.  Penulis mulai panik.  Dia mendekati salah seorang panitia, “ayo dong ajak para pengunjung untuk duduk di sini.  Ayo dong.”    Acara dimulai juga meski terlambat.  Ketika ditengok,  posisi pengunjung tak berubah.  Ada tambahan pengunjung yang jelas-jelas mengenakan seragam toko buku tersebut.  Begitu sulitkah menarik orang untuk menjadi audiens ?

 

Menarik orang menjadi audiens mungkin tidak sulit.  Hanya saja audiens tidak lagi bisa diperlakukan sebagai orang yang bisa “diundang secara mendadak”.  Audiens bukan sekelompok orang pengangguran yang dalam waktu sekejap bisa menyesuaikan minatnya untuk sesuatu yang sama sekali belum pernah dia tahu, kenal, baca atau dengar.  Sehingga pada dasarnya audiens itu harus dibangun jauh sebelum ada acara itu.

 

Bisa dipahami jika pembuat film berusaha memproduksi film dari novel-novel yang sudah best seller,  karena dengan begitu ketika film ini ditayangkan untuk pertama kalinya  audiens itu sudah ada dan sudah terbentuk.  Bayangkan jika seorang memasuki gedung bioskop lalu memandangi poster-poster judul film yang dia sama sekali tidak punya bayangan ini bercerita mengenai apa dan tidak tahu bagaimana kualitasnya.  Dia akan merasa bukan sebagai audiens film tersebut.  Tapi ketika seseorang melihat di poster film itu ada nama sutradara yang sangat dikaguminya dan telah menonton semua filmnya,  ketidaktahuan terhadap cerita film itu menjadi tidak penting.   Orang tersebut telah mengidentifikasi sebagai audiens dari sutradara ternama itu.  Sebaliknya, sutradara itu telah membangun audiensnya sekian lama.

 

Bisa saja kita menghasilkan sebuah novel yang sangat bagus. Tapi karena audiens tidak dibangun sejak awal,  bisa jadi ketika meluncurkan novel tersebut, sebagian besar kursi terisi oleh para karyawan toko buku itu sendiri.

(28 June 2015)

 

MASALAH

 

Seorang teman punya pendapat:  gampang saja menentukan seseorang itu pekerja kreatif atau bukan.  Bagaimana ?   “lihat saja dalam satu hari dia lebih banyak ngomongin masalah atau ide-ide.”

 

Ada pekerja yang seharian ngomong betapa bos otoriter dalam menentukan keputusan,  betapa tidak ada leadership dalam tim,  betapa kacaunya administrasi kerja di kantor,  betapa tidak pedulinya kantor terhadap masalah-masalah yang menghambat penuntasan kerja.  Masalah-masalah.

 

Bayangkan jika itu bukan satu orang.  Bayangkan jika itu menjadi kebiasaan mengasyikan. Sekelompok pekerja yang merasa terbelenggu oleh masalah-masalah dan akhirnya menikmati saling bercerita tentang masalah-masalah.  Tak ada ide dalam pembicaraan mereka.  Karena memang bukan ide yang menjadi target tapi sebagai sekadar justifikasi terhadap kinerja kerjanya yang biasa-biasa saja.

 

Sebuah perusahaan yang parah adalah perusahaan yang para staf dan karyawan menikmati pembicaraan tentang masalah-masalah. Para karyawan jenis ini tak terpikir mengenai ide-ide solusi karena masalah-masalah tersebut telanjur diyakini hanya bisa diselesaikan di tingkat direksi atau owner.

 

Sekali lagi membuktikan.  Corporate culture adalah utama. Perusahaan seperti Google adalah perusahaan yang telah menjadi studi kasus di banyak buku bahwa perusahaan yang bertumpu pada budaya berlomba menghasilkan ide-ide baru berbanding lurus dengan kinerja tinggi.  Sedangkan perusahaan yang bertumpu pada budaya perusahaan yang bergosip dan bicara masalah-masalah tidak tercatat dimana-mana karena  sudah ambruk lebih dulu.

 

(26 June 2015)

12 TRILIUN

Industri penyiaran tv Indonesia tahun lalu mencatat pendapatan bersih sekitar Rp 12 triliun. Sebagian orang mungkin bilang: kok kecil ? Bisa dimaklumi karena beberapa media menyiarkan pendapatan kotor industri tv Indonesia mencapai Rp 70 triliuan (data ADEX). Iya memang ada banyak sekali diskon. Sehingga pendapatan bersihnya cuma “segitu”.

 

Namun 12 triliun tetap besar. Dengan penghasilan sebesar itu, apa yang telah dihasilkan tv Indonesia ?

 

Masih banyak komentar sana sini bahwa tv Indonesia masih menayangkan program berkualitas rendah. Komentar ini tidak bisa dipandang remeh mengingat otoritas pemantau televisi Indonesia, KPI, baru saja menyampaikan hasil survei kualitatif bahwa sebagian besar program yang tayang di tv Indonesia berkualitas rendah.

 

Tentu saja terminologi “kualitas rendah” itu mendapat banyak tentangan dari orang-orang tv. Target mereka bukan kualitas. Target mereka adalah program yang disukai. Kalau program itu ditonton banyak orang itu sudah cukup untuk menandakan program itu disukai. Program disukai berarti rating tinggi. Rating tinggi berarti mempunyai peluang untuk mendapatkan pendapatan besar lewat iklan. Lalu aspek “kualitas” itu ada dimana ?

 

Kualitas itu disuarakan oleh organisasi-organisasi pemerhati media massa, pemerhati anak-anak dan para orang tua kelas menengah yang sangat memperhatikan nilai edukasi sebuah tayangan tv. Sehingga penilaian kualitas program tv itu selalu dikaitkan dengan aspek edukasinya. Contoh sebuah program tv yang dianggap memenuhi kualifikasi seperti itu adalah Kick Andy. Sebuah program talkshow yang sering dinilai memberi inspirasi positif pada penontonnya. Namun jika program ini jika ditakar dengan ukuran banyaknya penonton, maka program ini bisa dibilang penontonnya tak banyak alias rating kecil.

 

Dengan kata lain, “kualitas” bukan kata menarik dalam industri tv. Sama saja dengan logika berjualan produk fisik: jika jauh lebih menguntungkan berjualan produk-produk mutu rendah yang murah, mengapa mesti bersikeras berjualan produk tinggi yang mahal ?

 

Namun di sisi lain, industri tv mestinya berpikir bahwa masyarakat penonton yang sangat peduli terhadap kualitas ini akan terus bertumbuh seiring pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan kesejahteraan. Pertumbuhan ini sampai satu titik yang mendesak para keluarga kelas menengah nan sejahtera ini untuk pelan-pelan menutup akses keluarganya ke program tv Indonesia dan beralih ke program-program tv asing yang dinilai lebih berkualitas. Di titik itu mungkin kita semua akan merasa terlambat untuk membangun budaya kreativitas yang sungguh-sungguh untuk menghasilkan program-program tv Indonesia yang menghibur sekaligus punya nilai edukasi.

 

(25 June 2015)

KEBERLIMPAHAN

 

 

Dalam sebuah rapat para produser program tv ternyata tidak didapat sama sekali ide program baru. Seorang produser beralasan: “tv indonesia sudah berjalan selama 25 tahun, selama itu sudah dibuat ribuan program,  kami tidak mampu menemukan ide program yang sama sekali tidak pernah dibuat sebelumnya.  Semua sudah pernah dibuat.”

 

Jelas ini sebuah alasan saja untuk berusaha membenarkan dirinya yang tidak mampu menghasilkan satu ide pun.

 

Namun di sisi lain, ini memberikan hikmah lain:  kreativitas itu tidak hanya penting untuk mengelola keterbatasan tapi juga penting untuk mengelola keberlimpahan.  Setiap hari kita dilimpahi jutaan data dan informasi,  setiap hari tersedia ribuan karya,  dan setiap hari tidak berkurang sedikit pun tuntutan untuk menghasilkan ide-ide baru. Keberlimpahan itu bagian dari kenyataan hidup kita. Secara bersamaan keberlimpahan adalah bagian terpenting dari kendala kita. Sebagian orang tidak mau repot-repot sehingga memilih sebagai penyampai ide saja.  Dalam twitter tidak sedikit kita temu akun-akun yang sekadar berfungsi sebagai pihak yang me retweet  dari akun-akun lain  Dalam youtube jumlah terbesar adalah menayangkan ulang ide-ide yang sudah dieksekusi dan ditayangkan di tempat-tempat lain.

 

Paradoksnya,  keberlimpahan menciptakan keterbatasan.  Keterbatasan waktu dan keahlian  untuk mengelola keberlimphan seringkali membuat kita menempuh cara gampang yaitu:  copy paste.  Kebiasaan copy-paste itu alih-alih berusaha mengurai keberlimpahan tapi malah menambah ruwet keberlimpahan dengan adanya ide-ide yang diduplikasi berkali-kali.

 

Pada akhirnya kita harus memilih:  sekadar penduplikasi ide-ide atau tetap berjuang menghasilkan ide-ide segar di tengah keberlimpahan.

 

(23 June 2015)

MITRA

 

 

Berapakah peluang kita menemukan mitra yang setara dengan kemitraan seperti Steve Jobs dan Steve Wozniak ?

Di tahun 1970 Steve Wozniak sudah mahasiswa dan penggiat bidang komputer.  Steve Wozniak didorong-dorong untuk berkenalan dengan seorang anak yang masih SMA.  Wozniak akhirnya mau bertemu dan berkenalan dengan anak SMA tersebut.  Anak tersebut adalah Steve Jobs. Beda umur mereka sekitar 5 tahun.  Wozniak cocok berteman dengan Jobs.  Sama-sama sedang fokus mempelajari chip,  suatu benda yang pada masa itu belum jelas seberapa besar  kapasitasnya dan apa saja yang bisa dilakukan benda itu.  Kemitraan keduanya diawali dengan kegairahan yang sama. Hingga sejarah mencatat mereka membangun perusahaan dan produk yang fenomenal hingga sekarang.

Saya pernah mengawali sebuah kemitraan bisnis di sebuah restoran. Dengan kata-kata semacam “yuk kita bisnis bareng.’   Kami pun berkantor bersama di sebuah tempat.  Mulai bekerja.  Dan tak lebih dari 4 bulan kemudian, kemitraan ini diakhiri dengan kata-kata “rasanya kita tidak cocok bermitra bisnis, sebaiknya kita tetap berteman saja.”   Sebuah awal yang mudah dengan akhir yang mudah pula.

Berbisnis memang bisa sendirian.  Di sisi lain, setiap orang punya kelemahan.  Bermitra memungkinkan kerjasama untuk saling menguatkan potensi masing-masing.  Kemudian pertanyaannya:  bagiamana memilih mitra ?   Scott Gerber  membagi langkah-langkah yang selama ini diterapkannya.

(1)    Cari referensi.   Curriculum vitae sangat bisa dikarang-karang karena itu tidak bisa  dipercaya.  Selidiki saja contoh-contoh dari apa yang pernah dihasilkan  calon mitra.  Bicaralah dengan orang-orang yang pernah bekerja sama dengan calon mitra. Apa yang dirasakan orang tersebut dan bagaimana pandangan orang tersebut atas kelemahan calon mitra ini.  Perhatikan keberadaan dia di dunia internet.

 

(2)    Bisa juga dipelajari calon mitra ini dari media sosial. Dengan siapa saja dia berhubungan.  Apa yang orang-orang katakan mengenai dirinya dan apa yang dikatakan dia mengenai orang (ini bisa menjadi petunjuk penting mengenai dirinya).  Twitter memungkinkan kita memahami bagaimana cara berpikir calon mitra dan bagaimana pandangan dirinya mengenai dunia. Facebook dapat membantu kita memahami apa yang penting bagi kehidupan pribadinya.

 

(3)    Pastikan Anda berdua mempunyai value yang sama. Banyak sekali kegagalan bermintra disebabkan perbedaan value.  Jika anda punya value terpentingnya adalah integritas,  jangan berharap bisa bertahan lama dengan mitra yang punya value kekayaan ditempuh dengan segala cara.

 

(4)    Bekerjalah bersama dia selama satu minggu.  Tidak ada yang bisa menjelaskan siapa calon mitra ini dengan  nyata selain mencoba bekerja bersama orang ini. Ini akan menunjukkan bagaimana si calon mitra mengambil keputusan dan bagaimana dia menjalani pekerjaan secara  umum.

Masih ada beberapa lagi yang disebutkan Scott Gerber untuk mendapatkan mitra.  Empat itu saja sudah cukup mengingatkan kita yang sering lupa bahwa bermitra bisnis itu sekadar berteman.  Pertemanan yang baik malah membuat kita buta mengenai visi, nilai-nilai, cara kerja dari orang tersebut.  Padahal itu aspek-aspek penting untuk membuat kemitraan yang mampu melipatgandakan kekuatan kita.

 

(17 June 2015)

MILITAN

 

Militan dalam pengertian Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah bersemangat tinggi, penuh gairah, berhaluan keras.

 

Apakah untuk militan terhadap suatu pekerjaan harus diberi iming-iming uang ?  Ternyata tidak. Dan itu melegakan.

 

Dalam sebuah kesempatan saya pernah harus menguji sebuah modul pelatihan selama 2 hari.  Saya dibantu sebuah komunitas untuk mendapatkan peserta.  Panitianya juga dari komunitas ini.  Mereka menyiapkan semuanya.  Mulai dari ruangan, susunan kursi,  pesertanya,  tata suara,  fasilitator  (bahkan mereka sendiri menjadi fasilitator yang cukup baik)  hingga alat peraga.  Mereka menjadi panitia tanpa dibayar selama 2 hari penuh.  Darimana datangnya semua militansi ini ?

 

Kemarin baru bertemu direktur utama IBM Indonesia. Seorang anak muda belum 40. Dia bercerita tentang sebuah komunitas anak muda yang dia menjadi mentornya. Di komunitas itu ada 10 mentor dan dia bersedia menjadi salah satu mentor dari 10 itu.  Dia tidak dibayar tapi dia bangga pada anak-anak muda yang tergabung dalam komunitas tersebut.  Bahkan ada sekelompok anak muda dari Yogya datang ke acara dengan biaya sendiri yang seadanya, tidur di masjid, hanya untuk mendapatkan mentoring dari dia.  Ini yang membuat dia mengatakan, “kalau melihat itu saya yakin bangsa ini masih punya harapan.”

 

Militansi yang bisa digerakkan tanpa menggunakan uang itu memang menggetarkan.

 

Di sisi lain, dalam kesempatan memberi materi seminar kreativitas di sebuah kampus, saya merasa sangat tertantang.  Sebagian besar audiens mahasiswa tampak memperhatikan tapi tidak ada semangat. Sebagian kecil malah dengan sengaja menunjukkan ketidakpedulian  (sekadar tanda tangan kehadiran karena ini seminar yang diwajibkan oleh dosennya). Tentu saja ada teknik-teknik untuk membuat para audiens terus berkonsentrasi.  Interaksi diperbanyak.  Cerita-cerita menarik disajikan.  Ketika sesi tanya jawab, sangat sedikit yang menjawab.  Saya tetap berusaha memancing lebih banyak pertanyaan, intonasi lebih banyak dimainkan agar mereka tetap terjaga konsentrasinya.    Tapi semangat itu tak kunjung terbakar.   Mengapa di kampus lainnya, dengan materi yang sama, menunjukkan semangat yang hebat, bahkan interaksi terjadi dengan  cair  ?   Apakah mahasiswanya memang berbeda ?   Apa yang menyebabkan tingkat militansinya berbeda ?

 

Terima kasih pada teman-teman penggerak komunitas semua.  Tanpa menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas kalian sudah melakukan aksi untuk mempraktekkannya.  Menggerakkan anak-anak muda untuk bersikap militan yang produktif-kreatif tanpa harus diberi iming-iming uang.  Dan itu modal yang sangat utama untuk memulai perubahan positif.

 

(16 June 2015)

LINEAR

 

Kita terbiasa bertindak secara linear. Berpikir pun begitu. Sehingga membaca pun biasanya dari awal hingga akhir.  Kalau pun ada beberapa halaman atau bab yang kita lewatkan,  itu tidak mengubah esensi bahwa kita membaca dari awal hingga akhir.

 

Bayangkan anda menemukan sebuah buku dan di situ tertulis “Cara Membaca Buku Ini “

–          Baca glosarium di belakang buku ini lebih dulu. Customer development memiliki bahasanya sendiri

–          Sebelum masuk ke detail, baca Manifesto Customer Development di halaman 37 – 57

–          Jika anda familiar dengan customer development, baca sekilas bab 1-3  lalu mulailah dengan bab 4 “ Hipotesis-Hipotesis Model Bisnis.”

–          Jika anda ingin menyamakan pemahaman para rekan pendiri,  karyawan tahap awal, investor dan penasehat mengenai filosofi customer development, minta mereka membaca Bab 1 dan 2.

 

 

Daftar ini masih panjang. Sejak awal penulis buku tersebut mengingatkan bahwa betul-betul pemborosan waktu jika anda membaca dari awal hingga akhir. Kemudian ada kutipan “Buku ini bukan sebuah novel…  Ini adalah sebuah referensi panduan.”

 

Buku tersebut adalah The Startup Owner’s Manual karya Steve Blank dan Bob Dorf dengan jumlah halaman  601.

 

Kita terbiasa linear. Sehingga ketika menemukan sesuatu yang tidak linear otak kita perlu adaptasi beberapa saat.  Coba anda nonton film  21 Grams karya  sutradara Meksiko Alejandro Gonzales Inarritu.  Tak ada cerita linear di sana.  Kejadian seperti meloncat ke sana ke mari.  Tapi kemudian di ujungnya anda paham mengenai ceritanya.

 

Untuk kreatif bukan berarti harus tidak linear.  Tapi agar pikiran yang terlalu berpola itu mencair, sangat menarik untuk melatih dengan karya-karya hebat yang tidak linear. Perkembangan ide itu tidak linear.  Seringkali berkembang secara  tidak linear bahkan chaos hingga akhirnya menjadi bentuk finalnya.

 

(15 June 2015)

TENGGAT WAKTU

 

Setiap orang punya batas waktu. Baik yang riel maupun imajiner.  Baik yang ditentukan orang lain maupun diri sendiri.

 

Berdasarkan penuturun Steve Wozniak,  Steve Jobs itu selalu dibayangi batas waktu kehidupannya hanya sampai umur 40 tahun.  Dia terus-menerus berusaha bekerja dengan sangat cepat karena waktunya terbatas. Dia dikejar waktu untuk segera menghasilkan legacy.

 

Seorang wartawan terbiasa dengan deadline. Wartawan majalah mingguan pasti mengalami hari dalam satu minggu yang harus habis-habisan.  Harus habis-habisan karena dalam benaknya terngiang-ngiang kata-kata:  terbit besok atau mati.

 

Seorang produser drama tv sudah terbayang bahwa ramadhan  4 bulan lagi drama ramadhannya sudah harus beres. Karena itu segenap tenaga dan pikiran difokuskan untuk menyelesaikan itu.  Ketika persoalannya menjadi persoalan hidup atau mati,  energi itu menjadi sangat luar biasa.

 

Itu juga yang membedakan antara orang bisa menghasilkan 20 judul buku dan orang yang satu judul pun selama sepuluh tahun tak selesai.  Alasan demi kualitas tidak bisa diterima jika kualitas yang mau ditunjukkan belum ada (apa yang akan ditunjukkan jika buku yang katanya penuh kualitas itu belum selesai dibuat).

 

Pada akhirnya tenggat waktu adalah kemampuan mau “menyiksa diri”.  Tenggat waktu harus ditetapkan karena tubuh selalu menginginkan kenyamanan.  Kenyamanan ini dikirimkan ke otak reptil masing-masing kita untuk mencegah ‘penderitaan’.   Sebagian besar kisah orang-orang yang sangat produktif adalah kisah tentang kemampuan menyiksa diri.  Kemampuan memberi tenggat waktu sendiri sehingga otak reptil tidak berdaya untuk mendesak kenyamanan yang segera.

 

Setiap saat kita mesti diingatkan apa yang harus selesai tiga hari lagi ?  Apa yang harus selesai minggu depan ?  Apa yang harus selesai bulan depan ?

 

(14 June 2015)

MENJUAL IDE

 

Menjual ide tak pernah ada rumusnya,  tapi yang jelas menjual ide masih dalam bentuk proposal punya banyak risiko.

 

Sekian lama saya berada dalam divisi programming sebuah stasiun tv.  Sekian banyak juga yang berusaha mengusulkan ide dalam bentuk-bentuk proposal.  Ide-ide dalam bentuk proposal tak pernah bisa dinilai. Pertama,  karena sudah ada pengalaman bahwa  ide yang kelihatan menjanjikan dalam bentuk proposal ternyata hancur lebur dalam eksekusi produksinya.  Kedua, pihak yang menawarkan ide dalam bentuk proposal memberikan bayangan mengenai kondisi finansial pihak tersebut (membuat demo tape saja tidak mampu bagaimana nanti mampu mendukung opeasional produksi yang membutuhkan dana jauh lebih besar lagi ?)

 

Sehingga ide harus dalam bentuk demo tape atau pilot.

 

Beberapa anak mahasiswa juga menanyakan hal yang sama, “kami punya ide tapi kami tidak punya cukup uang untuk merealisasikannya,  bagaimana cara menjual ide tersebut ke stasiun tv ?”

 

Realisasikan dulu ide itu dalam bentuk sebuah demo tape atau pilot atau film jadi.  Kalau tidak ada uang,  putar otak dan kreativitas untuk mencari pendanaan.  Karena undang-undang hak cipta tidak melindungi ide tapi melindungi ekspresi atau fiksasi dari ide.  Jadi ide itu harus dalam bentuk jadi, sudah dipublikasi,  baru hak cipta melekat di situ dan bisa dilindungi.

 

Ketika kemarin saya bertemu seorang pemilik studio besar animasi di Bali dia menegaskan hal yang sama, bahkan satu episode seri animasi yang tuntas produksi – semenarik apapun itu–  belum mampu mengundang calon pembeli.  Pemilik ide harus mampu menjadi pengusaha.  Ketika satu episode seri animasi terselesaikan,  dia harus berusaha mencari investor untuk membiayai minimal 2 season ( 2 x 13 episode).  Bayangkan jika 1 episode animasi menghabiskan dana Rp 100 – 200 juta , berarti minimal butuh Rp 2,6 M  yang belum tentu mendapatkan pembeli. Tapi harus dilakukan.  Harus berani mengolah sebuah ide menjadi magnet.

 

Jadi tetap tidak ada rumusnya menjual ide.  Namun berkaca dari  subsektor industri kreatif yaitu tv broadcast dan animasi,  ide mengharuskan satu paket pengolahannya sebelum bisa dijual.  Ide harus dibuat jadi menjadi magnet.  Ide yang masih mentah akan tenggelam dalam berbagai ide lain yang sedang berlomba menjadi magnet.

(12 June 2015)