catatan dan inspirasi

Month: May 2015

SUKA DAN DISUKAI

SUKA DAN DISUKAI

    Yang disukai orang banyak itu bisa kita ambil keuntungan. Contoh paling gampang saat ini: orang banyak suka akik. Ketika kesukaan pada akik sudah begitu masif, peluang untuk berjualan pernak-pernik akik terbuka begitu lebar. Apa yang disukai orang banyak, belum tentu kita suka. Jika […]

LEMBAGA SURVAI

LEMBAGA SURVAI

  Kalau anda menjadi juara satu di kelas, orang tua anda tidak akan memprotes para guru. Ungkapan itu berlaku di dunia penyiaran televisi, siapa pun yang menjadi top five tidak punya persoalan dengan lembaga survai yang menentukan rating. Dalam perbincangan antar orang tv sudah biasa […]

FANTASTIK DAN FENOMENAL

FANTASTIK DAN FENOMENAL

 

Bagaimana jika anda mau mempromosikan sebuah acara dan anda tidak menemukan kata yang tepat untuk membuat orang tertarik menontonnya ? Sebagian besar orang menggunakan kata fantastik dan fenomenal.

Kata fantastik dan fenomenal begitu sering digunakan sehingga bahkan kata tersebut tidak mampu lagi membuat kita membayangkan sebuah pertunjukan sebagai sesuatu yang wah banget.

Misalnya sebuah konser dangdut menggunakan promo seperti itu: “Saksikan acara konser dangdut yang fantastik dan fenomenal !” Kira-kira apa yang kita bayangkan ? Apakah para penyanyinya akan menggunakan tokoh-tokoh fantasi seperti spiderman, superman dan Iron Man sehingga disebut fantastik ? Fenomenalnya bagaimana ? Apakah penyanyinya akan nyanyi sambil jumpalitan sepanjang konser dan itu memang belum pernah dilakukan di konser mana pun ? (kenyataannya para penyanyi ini menyanyi dengan cara yang normal-normal saja).

Kata fantastik dan fenomenal itu terbukti tidak imajinatif. Tidak membuat calon penonton membayangkan sesuatu dan kemudian tergerak untuk membeli tiket atau tergerak untuk menonton.

Namun kesimpulannya juga bisa dibalik, karena tidak menemukan sesuatu yang istimewa dari pertunjukan, maka yang bekerja sebagai tukang promosi sekadar mencari kata-kata yang umum, yaitu: fantastik dan fenomenal. Jadi, kreatif dulu dalam merancang isi program, dengan begitu lebih mudah mempromosikannya.

(13 May 2015)

PENOLAKAN

PENOLAKAN

  Apakah profesi anda saat ini tidak terlalu bersentuhan dengan risiko penolakan ? Jika jawabannya ya maka perlu intropeksi: jangan-jangan anda berada dalam comfort zone yang begitu hebatnya sehingga anda tidak perlu mengusulkan sebuah ide pun kepada atasan atau teman kerja. Seorang tenaga sales yang […]

THEME SONG

THEME SONG

  Jika saya ditanya theme song film apa saja yang masih ingat sampai sekarang, mungkin saya hanya bisa menyebut beberapa saja. Diantaranya adalah “My Heart Will Go On dari film Titanic, Ada Apa Dengan Cinta dari film Ada Apa Dengan Cinta, Ayat Ayat Cinta dari […]

KACAMATA KONSUMEN

KACAMATA KONSUMEN

 

Di suatu petang yang super macet di bilangan Senayan, saya harus ke Jalan Tendean. Angkutan yang paling praktis adalah ojek untuk menembus kemacetan tersebut. Saya datangi para tukang ojek yang mangkal di depan mall.

= mau kemana mas ?
+ Jalan Tendean Mau ? Berapa ?
= Limapuluh ribu mas
+ Tigapuluh aja
= Tigapuluh lima
+ Nggak. Tiga puluh aja.

Ternyata harga jasa tukang ojek itu mentok di angka Rp 35.000. Saya penasaran, berjalan ke pangkalan ojek berikutnya. Ada seorang tukang ojek.

+ Ke jalan tendean mau nggak ? (Si tukang ojek tampak tidak terlalu antusias)
= Macet parah. Capek saya ke sananya. Kalau situ mau limapuluh ribu, saya mau mau aja.
+ O saya pikir bisa tigapuluh ribu

Si tukang ojek menoleh pun tidak. Dia sedang menunjukkan sikap “tarif saya Rp 50.000, take it or leave it.” Akhirnya saya naik taksi. Sesampai di tujuan jalan Tendean argometer menunjukkan angka 50.000 lebih sedikit.
Apa bedanya ojek dan taksi ? Ojek memberi harga atas jasa yang diberikan berdasarkan seberapa capek atau seberapa menderita si pemberi jasa/tukang ojek dalam memberikan jasanya. Dua tukang ojek bisa berbeda harga jasanya. Sementara taksi, penderitaan si pemberi jasa/sopir taksi bukan variabel dalam menentukan harga jasa. Secara umum ada 3 variable penentu harga jasa: cost plus pricing, competitor’s pricing dan perceived value to the customer. Untuk variabel “perceived value to the customer” intinya adalah seberapa besar uang yang ingin dibayarkan pelanggan untuk menerima jasa itu. Di situlah kita harus masuk ke dalam kacamata konsumen. Kesalahan tukang ojek di atas: dia tidak berpikir berapa besar uang yang rela saya bayarkan, dia hanya berpikir berapa uang yang layak untuk mengganti segala kelelahan dalam menyediakan jasa tesebut.

(8 May 2015)

APA GUNANYA BERITA ?

APA GUNANYA BERITA ?

  Saya serius bertanya itu. Mungkin karena terbiasa mengkonsumsi berita, kita jadi merasa ganjil menanyakan apa gunanya berita. Berkat membaca buku Black Swan karya Nassim Nicholas Taleb, saya pernah punya kebiasaan untuk mengikuti anjurannya, yaitu membaca koran dengan terlambat. Untuk hari ini saya membaca koran […]

SARAPAN

SARAPAN

SARAPAN(6 May 2015) Kualitas layanan dari sebuah hotel bisa dilihat dari sarapannya. Ada hotel yang begitu ramainya sehingga ketika sarapan suasananya seperti sedang sarapan di pasar. Riuh dan tak menimbulkan selera. Yang standar adalah ucapan selamat pagi dan bertanya nomer kamar berapa. Tempat duduk favorit […]

RADIO

RADIO

 

Radio lebih membutuhkan sentuhan kreativitas dibandingkan media lain.

Kok bisa begitu ?

Adakah di antara kita yang dengan sengaja menyalakan radio untuk mendengar sebuah program pada jam tertentu ? Bahkan jangan-jangan sudah banyak yang tidak memiliki radio di rumah. Seorang teman ketika mendengar ada perbincangan di sebuah radio tentang topic khusus, dia harus masuk ke mobil dan menyalakan radio di situ.

Beda dengan dulu. Puluhan tahun lalu radio adalah wajib. Setiap berangkat sekolah diiringi siraran berita dari RRI. Ada juga program radio yang ditunggu-tunggu: Sandiwara Radio Saur Sepuh. Sekarang, kita biasa dengar komentar orang, “radio ini enak. Sepanjang hari cuma muter lagu.” Radio bagus justru diidentikkan dengan tidak ada program sama sekali selain memutar lagu.

Program seperti apa yang bisa membuat orang kembali mendengar radio sebagai sebuah rencana ? Bukan sekadar mengisi keisengan di mobil ketika macet atau ketika tidak ada perbincangan dalam mobil.

Salah satu stasiun radio memenuhi siarannya dengan program-program talkshow mulai dari motivasi, manajemen hingga hipnoterapi. Sebagian besar pendengarnya mendengar siaran tersebut dengan rencana. Mereka merencanakan topik apa saja yang akan mereka dengar. Itu pertanda bagus. Berarti program di radio bisa dikaitkan dengan topik-topik yang mempunyai basis di komunitas. Tema-tema mengenai hipnoterapi bisa menjadi peluang program ketika basis komunitasnya cukup besar. Tema-tema mengenai cara meraih sukses, mempunyai basis yang tak kalah besar. Tapi tentu tidak bisa bertumpu pada komunitas pemilik Lamborghini, misalnya. Terlalu segmented. Intinya, setidaknya kreativitas bisa mencari jalan dengan mengaitkan pendengar dan komunitas tertentu.

(05 May 2015)

KOMUNITAS

KOMUNITAS

  Ada dua macam komunitas. Pertama, kumpulan orang-orang yang ingin meraih sesuatu. Misalnya komunitas wirausaha. Belum tentu semua anggota sudah punya bisnis. Kebanyakan malah masuk komunitas supaya mendapatkan bisnis. Kedua, kumpulan orang yang sudah memiliki sesuatu. Misalnya komunitas pemilik Lamborghini. Siapapun bisa masuk ke situ […]