SUKA DAN DISUKAI

 

 

Yang disukai orang banyak itu bisa kita ambil keuntungan. Contoh paling gampang saat ini: orang banyak suka akik. Ketika kesukaan pada akik sudah begitu masif, peluang untuk berjualan pernak-pernik akik terbuka begitu lebar.

Apa yang disukai orang banyak, belum tentu kita suka. Jika niatnya berdagang,  apa yang kita tidak suka bukan merupakan hambatan. Orang yang tidak suka durian bisa saja berjualan durian.  Orang yang tidak suka bepergian bisa saja berjualan tiket pesawat.

Tapi proses ini bisa dibalik. Apa yang kita suka bakal disukai orang banyak. Inilah tantanga bagi para kreator.Apa yang kita suka untuk dikerjakan dengan sungguh-sungguh, pada akhirnya disukai orang banyak. Di dunia animasi, banyak animator yang suka dengan idenya dan mengerjakan dengan sungguh-sungguh tapi kemudian ternyata hasil realisasi ide itu tidak disukai banyak orang.

Mungkinkah sejak awal kita mencocokkan atau mengklopkan antara apa yang kita sukai dengan apa yang disukai orang banyak ?  Sangat mungkin !  Itulah yang menjadi sebab PIXAR mampu mencetak film animasi box office selama 13 tahun berturut-turut. Mereka membuat rumusan mengenai animasi yang bakal disukai orang banyak, dan apa yang disukai orang banyak itu bakal mereka kerjakan dengan suka cita dan sungguh-sungguh.

Sebagian animator di Indonesia, mampu menemukan ide yang mereka suka sehingga mereka kerjakan dengan sungguh-sungguh. Namun kemudian terbukti mereka kesulitan untuk mengklopkan apa yang mereka suka dengan apa yang orang banyak suka. Dengan kata lain, mereka kesulitan menjual karya animasi mereka.

Peluang:  melakukan kajian untuk memberi arahan pada para animator Indonesia mengenai apa yang bakal disuka orang banyak.

(16 May 2015)

LEMBAGA SURVAI

 

Kalau anda menjadi juara satu di kelas, orang tua anda tidak akan memprotes para guru. Ungkapan itu berlaku di dunia penyiaran televisi, siapa pun yang menjadi top five tidak punya persoalan dengan lembaga survai yang menentukan rating.

Dalam perbincangan antar orang tv sudah biasa mengomentari kualitas lembaga survai yang dianggap masih banyak kelemahannya. Entah soal metodologi, entah soal responden. Tapi ketika berhadapan dengan para pengiklan, hasil survai ini yang ditunjukkan.

Ada standar ganda di sini. Di satu sisi dicaci maki, di sisi lain tetap jadi andalan untuk mencari duit.

Harus diakui hasil dari lembaga survai mengenai rating ini sudah sangat menentukan budaya kerja di stasiun tv. Kinerja karyawan diukur berdasarkan rating. Seorang karyawan tidak bisa disebut kreatif kalau tidak berbanding lurus dengan hasil rating yang didapat dari program tv yang dikelolanya. Dan, jangan-jangan, sebutan kreatif itu menjadi tidak penting ketika sebuah program tv yang secara kualitatif obyektif jelek menghasilkan rating besar yang pada gilirannya menghasilkan uang banyak.

Kemudian terdengar lagi kritik yang sudah basi dari stasiun tv: jangan salahkan kami jika kami menghasilkan program-program yang berselera rendah karena memang itu yang diinginkan penonton. Berarti ada 2 hal di sini: menyalahkan lembaga survai dan menyalahkan selera penonton.

Padahal bukan itu poin terpentingnya. Sebagai akibat terlalu fokus pada rating, stasiun tv mengabaikan penonton. Stasiun tv punya rumusan sendiri dalam meraih rating berdasarkan analisis terhadap pola siaran sekian puluh tahun. Analisis ini pada akhirnya menempatkan penonton sekadar sebagai variable dari penentuan rating.

Padahal mestinya penonton adalah klien utama stasiun tv. Stasiun tv tak lebih sebagai penyedia jasa (hiburan atau berita). Ketika banyak penonton puas, rating dengan sendirinya akan besar. Karena penonton adalah klien utama, mestinya riset diarahkan pada kebutuhan penonton. Bahkan mestinya proses penciptaan program tv pun melibatkan penonton (sebagaimana yang biasa disebut prinsip co creative dalam service design). Tapi itu tidak pernah dilakukan.

Stasiun tv harus mulai mengutamakan penonton. Jika tidak, industri lain yang akan melakukannya. Misalnya, industri internet lewat internet tv atau website.

(14 May 2015)

FANTASTIK DAN FENOMENAL

 

Bagaimana jika anda mau mempromosikan sebuah acara dan anda tidak menemukan kata yang tepat untuk membuat orang tertarik menontonnya ? Sebagian besar orang menggunakan kata fantastik dan fenomenal.

Kata fantastik dan fenomenal begitu sering digunakan sehingga bahkan kata tersebut tidak mampu lagi membuat kita membayangkan sebuah pertunjukan sebagai sesuatu yang wah banget.

Misalnya sebuah konser dangdut menggunakan promo seperti itu: “Saksikan acara konser dangdut yang fantastik dan fenomenal !” Kira-kira apa yang kita bayangkan ? Apakah para penyanyinya akan menggunakan tokoh-tokoh fantasi seperti spiderman, superman dan Iron Man sehingga disebut fantastik ? Fenomenalnya bagaimana ? Apakah penyanyinya akan nyanyi sambil jumpalitan sepanjang konser dan itu memang belum pernah dilakukan di konser mana pun ? (kenyataannya para penyanyi ini menyanyi dengan cara yang normal-normal saja).

Kata fantastik dan fenomenal itu terbukti tidak imajinatif. Tidak membuat calon penonton membayangkan sesuatu dan kemudian tergerak untuk membeli tiket atau tergerak untuk menonton.

Namun kesimpulannya juga bisa dibalik, karena tidak menemukan sesuatu yang istimewa dari pertunjukan, maka yang bekerja sebagai tukang promosi sekadar mencari kata-kata yang umum, yaitu: fantastik dan fenomenal. Jadi, kreatif dulu dalam merancang isi program, dengan begitu lebih mudah mempromosikannya.

(13 May 2015)

PENOLAKAN

 

Apakah profesi anda saat ini tidak terlalu bersentuhan dengan risiko penolakan ? Jika jawabannya ya maka perlu intropeksi: jangan-jangan anda berada dalam comfort zone yang begitu hebatnya sehingga anda tidak perlu mengusulkan sebuah ide pun kepada atasan atau teman kerja.

Seorang tenaga sales yang baik menemui banyak sekali penolakan untuk bisa menjadi sales terbaik. Seorang karyawan berprestasi pasti cukup sering ditolak ide-idenya dalam melakukan perbaikan. Seorang produser film mengalami berbagai penolakan investor hingga akhirnya dipercaya sebagai produser yang mampu mengolah investasi film dengan baik.

Penolakan itu setidaknya mempunyai 2 wajah. Wajah yang pertama, yang paling umum, adalah wajah merendahkan dan menghina terhadap produk/ide/saran yang kita punya. Wajah ini menyebabkan kekecewaan dan kemarahan karena seakan-akan merupakan bentuk konfrontasi langsung pada diri kita. Wajah ini mematikan dan membekukan. Siapapun yang menghadapi wajah ini akan menghentikan usahanya. Merasakan ada yang salah dari tindakannya itu sehingga tidak perlu melanjutkan lagi segalah usahanya.

Wajah kedua dari penolakan adalah wajah yang memberi masukan. Wajah ini hanya mengajak berdiskusi mengenai produk/ide/saran kita. Wajah ini tampak ramah untuk mengingatkan bahwa kita mesti berusaha lebih baik lagi. Sehingga kita merasa tak ada yang salah dari tindakan kita untuk menawarkan produk/ide/saran. Justru wajah penolakan ini memberi keyakinan bahwa yang kita lakukan sudah benar, hanya saja kita perlu melakukan dengan lebih baik lagi.

Kabar gembiranya: setiap penolakan bisa kita persepsikan sebagai wajah pertama atau wajah kedua terserah kita. Fakta: pribadi-pribadi berhasil seringkali berhadapan dengan wajah kedua ini.

(12 May 2015)

THEME SONG

 

Jika saya ditanya theme song film apa saja yang masih ingat sampai sekarang, mungkin saya hanya bisa menyebut beberapa saja. Diantaranya adalah “My Heart Will Go On dari film Titanic, Ada Apa Dengan Cinta dari film Ada Apa Dengan Cinta, Ayat Ayat Cinta dari film Ayat Cinta.” Satu tambahan lagi adalah sebuah theme song untuk mini seri tv yang saya ingat “Rahasia Hati dari Element untuk mini seri Cowok Komersil.” Saya ingat karena kebetulan saya yang menulis skenarionya.

Drama, di layar lebar maupun layar tv, tak sekadar sebuah cerita. Dalam cerita itu ada adegan-adegan. Dalam adegan-adegan itu ada emosi yang sengaja ditularkan kepada penonton. Dan upaya menularkan emosi itu tak lengkap jika tak ada musik atau lagu.

Ketika sedang menonton, music scoring membantu membangun mood dalam diri penonton. Suasana menegangkan, suasana dramatis, suasana sentimental. Namun ketika film selesai ditonton, music scoring itu tak terlalu diingat. Yang tertinggal adalah theme song yang mungkin masih sering diputar diradio atau tv atau konser. Sebuah theme song dari film yang sangat berkesan pasti akan meninggalkan kenangan yang bertahan lama. Sepuluh atau duapuluh tahun kemudian, theme song itu menjelma fungsinya menjadi penghubung dengan kenangan akan film tersebut. Kenangan akan adegan-adegan tertentu yang mengesankan. Kenangan yang disertai perasaaan ketika menonton film tersebut.

Sehingga theme song punya tugas tambahan: mengabadikan film.

Setiap kali terdengar lagu “My Heart Will Go On” sebagian orang masih teringat adegan Leornardo DiCaprio dan Kate Winslet sedang bergaya terbang di ujung buritan kapal. Pada akhirnya unsur KONEKSI dalam karya tidak hanya menghubungkan karya dengan khalayak sasaran pada saat itu tapi juga menghubungkan karya dan memori khalayak sasaran dalam jangka waktu panjang.

(11 May 2015)

KACAMATA KONSUMEN

 

Di suatu petang yang super macet di bilangan Senayan, saya harus ke Jalan Tendean. Angkutan yang paling praktis adalah ojek untuk menembus kemacetan tersebut. Saya datangi para tukang ojek yang mangkal di depan mall.

= mau kemana mas ?
+ Jalan Tendean Mau ? Berapa ?
= Limapuluh ribu mas
+ Tigapuluh aja
= Tigapuluh lima
+ Nggak. Tiga puluh aja.

Ternyata harga jasa tukang ojek itu mentok di angka Rp 35.000. Saya penasaran, berjalan ke pangkalan ojek berikutnya. Ada seorang tukang ojek.

+ Ke jalan tendean mau nggak ? (Si tukang ojek tampak tidak terlalu antusias)
= Macet parah. Capek saya ke sananya. Kalau situ mau limapuluh ribu, saya mau mau aja.
+ O saya pikir bisa tigapuluh ribu

Si tukang ojek menoleh pun tidak. Dia sedang menunjukkan sikap “tarif saya Rp 50.000, take it or leave it.” Akhirnya saya naik taksi. Sesampai di tujuan jalan Tendean argometer menunjukkan angka 50.000 lebih sedikit.
Apa bedanya ojek dan taksi ? Ojek memberi harga atas jasa yang diberikan berdasarkan seberapa capek atau seberapa menderita si pemberi jasa/tukang ojek dalam memberikan jasanya. Dua tukang ojek bisa berbeda harga jasanya. Sementara taksi, penderitaan si pemberi jasa/sopir taksi bukan variabel dalam menentukan harga jasa. Secara umum ada 3 variable penentu harga jasa: cost plus pricing, competitor’s pricing dan perceived value to the customer. Untuk variabel “perceived value to the customer” intinya adalah seberapa besar uang yang ingin dibayarkan pelanggan untuk menerima jasa itu. Di situlah kita harus masuk ke dalam kacamata konsumen. Kesalahan tukang ojek di atas: dia tidak berpikir berapa besar uang yang rela saya bayarkan, dia hanya berpikir berapa uang yang layak untuk mengganti segala kelelahan dalam menyediakan jasa tesebut.

(8 May 2015)

APA GUNANYA BERITA ?

 

Saya serius bertanya itu. Mungkin karena terbiasa mengkonsumsi berita, kita jadi merasa ganjil menanyakan apa gunanya berita.
Berkat membaca buku Black Swan karya Nassim Nicholas Taleb, saya pernah punya kebiasaan untuk mengikuti anjurannya, yaitu membaca koran dengan terlambat. Untuk hari ini saya membaca koran 2 hari sebelumnya. Hidup jadi lebih nyaman. Membaca koran hanya perlu waktu kurang dari 5 menit. Berita-berita menyedihkan tidak pernah mampir lama di kepala karena toh kejadiannya sudah 2 hari lalu dan terbukti di hari ini tidak menimbulkan kehebohan. Untuk mengikuti berita cukup dari sosial media secara sekilas mengenai berita-berita yang banyak diperbincangkan.

Apa gunanya berita ?
Pertanyaan ini juga sebentuk sikap skeptis terhadap berita-berita yang beredar. Sekarang adalah era setiap orang bisa memproduksi berita. Berita tidak hanya dibuat oleh para reporter konvensional tapi juga oleh warganegara biasa. Bill Kovach, sebagai biang-nya ilmu jurnalistik, lewat bukunya “BLUR: how to know what’s is true in the age of overload information” mengatakan bahwa ada 4 model jurnalistik. Salah satu di antara 4 model itu adalah interest group journalism “targeted Web sites or pieces of work, often investigative, that are usually funded by special interests rather than media institutions and designed to look like news.” Dan, sepertinya model jurnalisme seperti ini yang banyak beredar di sosial media.

Apa gunanya berita ?
Kali ini saya menemukan guna lain dari berita. Kebiasaan saya sudah kembali untuk membaca koran hari ini. 2 hari lalu saya membaca berita “Ekonomi Kreatif: Ide Jadi Jaminan Pinjaman Modal”. Sebuah tema yang menarik bagaimana mungkin ide bisa menjadi jaminan pinjaman. Karena selama ini di masyarakat seringkali ada salah kaprah dengan menyamakan antara ide dan hak cipta. Kemudian saya men-tweet ini lewat twitter. Termasuk menyebut akun twiter pak Triawan Munaf sebagai kepala Badan Ekonomi Kreatif Indonesia. Pak Triawan membalas bahwa dia berterima kasih jika wacana tersebut bisa didiskusikan. Ternyata diskusi berlangsung cukup hangat. Ada penjelasan panjang dari seorang praktisi hukum HAKI, pelaku industri kreatif dan pakar digital.
Dari pengalaman itu, saya terpikir guna berita yang lain: menjadi titik mula dari relasi antar pribadi-pribadi yang mempunyai kepentingan dan minat yang sama.

Jika berita tersebut saya tweet 2 hari kemudian, tentu responsnya berbeda. Pada akhirnya aktualitas berita bukan sesuatu yang sama sekali kuno karena di balik aktualitas itu ada simpul-simpul yang menghubungkan kita dengan pribadi-pribadi tertentu untuk menangani masalah secara bersama.

(7 May 2015)

SARAPAN

SARAPAN(6 May 2015)

Kualitas layanan dari sebuah hotel bisa dilihat dari sarapannya.

Ada hotel yang begitu ramainya sehingga ketika sarapan suasananya seperti sedang sarapan di pasar. Riuh dan tak menimbulkan selera. Yang standar adalah ucapan selamat pagi dan bertanya nomer kamar berapa. Tempat duduk favorit saya adalah kursi lurus yang menempel di tembok atau meja di sebelah jendela kaca sehingga bisa menikmati pemandangan di luar. Menjadi kurang nyaman ketika tempat sarapan ini dikelilingi tembok-tembok tanpa pemandangan sama sekali.

Setelah memilih tempat duduk, yang pertama saya cari adalah egg station : tempat melayani pesan telur omelet atau mata sapi. Saya biasa memesan telur mata sapi setengah matang. Saya anggap layanannya baik jika telur mata sapi setengah matangnya pas. Tidak terlalu mentah, tidak terlalu matang, dan ¨ yang penting ¨ tidak dibalik. Ada hotel yang melalaikan pesanan sehingga baru membuatnya ketika ditagih. Ada hotel yang membuat tapi kemudian menghidangkannya dalam keadaan sudah dingin.

Setelah egg station, tempat kedua yang ditengok adalah buah. Ada hotel yang mempersiapkan bagian buah ini dengan seirus. Jenis buahnya lengkap hingga salad yang juga lengkap. Ada hotel yang menyediakan buah ala kadarnya alias minimalis. Cuma 3 jenis: semangka, melon dan pepaya. Kualitas buah yang baik menurut saya ¨ tentu saja ini subyektif — bisa dilihat dari pepayanya: matang tapi tidak lembek sehingga bisa dikunyah

Giliran berikutnya yang ditengok adalah bagian roti. Roti yang harus ada adalah jenis baguette. Semacam roti buaya dengan ukuran jauh lebih kecil yang kita iris sendiri dengan pisau tajam tersedia di situ. Cukup dioles dengan mentega sudah enak. Mentega ini dalam kemasan kecil dengan merek yang bervariasi. Ada hotel yang meletakkan mentega ini dalam tumpukan es batu. Namun mentega yang terlalu dingin dan keras menyebabkan agak merepotkan untuk dioleskan dalam roti. Ada hotel yang menyajikan mentega dalam mangkuk kecil. Buat saya kurang menarik selera karena kesannya seperti mentega curah. Ada tambahan, menjadi bonus menyenangkan buat saya jika ada selai coklat, apalaginya jika coklatnya sedap.

Buat saya, sarapan sangat vital dalam membentuk customer experience yang akan membuat saya ingat dengan hotel itu atau melupakannya sama sekali. Sarapan adalah layanan utama sebuah hotel yang mestinya dirancang dengan sangat teliti agar pelanggan mendapatkan suasana pagi yang sempurna di hotel itu. Gagal dalam mendisain layanan sarapan ini akan berakibat langsung pada apakah pelanggan akan datang lagi atau tidak.

(6 May 2015)

RADIO

 

Radio lebih membutuhkan sentuhan kreativitas dibandingkan media lain.

Kok bisa begitu ?

Adakah di antara kita yang dengan sengaja menyalakan radio untuk mendengar sebuah program pada jam tertentu ? Bahkan jangan-jangan sudah banyak yang tidak memiliki radio di rumah. Seorang teman ketika mendengar ada perbincangan di sebuah radio tentang topic khusus, dia harus masuk ke mobil dan menyalakan radio di situ.

Beda dengan dulu. Puluhan tahun lalu radio adalah wajib. Setiap berangkat sekolah diiringi siraran berita dari RRI. Ada juga program radio yang ditunggu-tunggu: Sandiwara Radio Saur Sepuh. Sekarang, kita biasa dengar komentar orang, “radio ini enak. Sepanjang hari cuma muter lagu.” Radio bagus justru diidentikkan dengan tidak ada program sama sekali selain memutar lagu.

Program seperti apa yang bisa membuat orang kembali mendengar radio sebagai sebuah rencana ? Bukan sekadar mengisi keisengan di mobil ketika macet atau ketika tidak ada perbincangan dalam mobil.

Salah satu stasiun radio memenuhi siarannya dengan program-program talkshow mulai dari motivasi, manajemen hingga hipnoterapi. Sebagian besar pendengarnya mendengar siaran tersebut dengan rencana. Mereka merencanakan topik apa saja yang akan mereka dengar. Itu pertanda bagus. Berarti program di radio bisa dikaitkan dengan topik-topik yang mempunyai basis di komunitas. Tema-tema mengenai hipnoterapi bisa menjadi peluang program ketika basis komunitasnya cukup besar. Tema-tema mengenai cara meraih sukses, mempunyai basis yang tak kalah besar. Tapi tentu tidak bisa bertumpu pada komunitas pemilik Lamborghini, misalnya. Terlalu segmented. Intinya, setidaknya kreativitas bisa mencari jalan dengan mengaitkan pendengar dan komunitas tertentu.

(05 May 2015)

KOMUNITAS

 

Ada dua macam komunitas. Pertama, kumpulan orang-orang yang ingin meraih sesuatu. Misalnya komunitas wirausaha. Belum tentu semua anggota sudah punya bisnis. Kebanyakan malah masuk komunitas supaya mendapatkan bisnis. Kedua, kumpulan orang yang sudah memiliki sesuatu. Misalnya komunitas pemilik Lamborghini. Siapapun bisa masuk ke situ kecuali yang TIDAK PUNYA Lamborghini. Atau komunitas motor gede, tentu saja yang bergabung adalah orang yang sudah punya motor gede.

Dua komunitas itu sama-sama berfungsi memenuhi hasrat manusia yang mendasar bahwa manusia tidak sendiria. Manusia membutuhkan teman, lebih khusus lagi teman yang senasib. Jika anda pemilik mobil mercy tua, dan menghabiskan banyak waktu dan energi untuk otak-atik mercy tua, anda akan nyambung dengan orang yang sangat mengagumi mercy tua. Anda merasa senasib dengan, anda merasa di antara milyaran orang di dunia ini sungguh sebuah kegembiraan anda bisa bertemu dengan sedikit orang yang sama-sama mencintai mercy tua.

Komunitas pada akhirnya adalah sebuah jasa menyambungkan orang-orang dengan kesamaan tertentu untuk membuat hidup lebih bergairah.

Ketika komunitas mampu menjalankan fungsinya dengan baik untuk menyambungkan orang-orang dengan kesamaan tertentu, maka anggota-anggota komunitas tidak berkeberatan mengeluarkan uang atas jasa itu.

Setahun sekali sebuah komunitas wirausaha mengadakan acara pameran besar-besaran selama 3 hari dan orang rela membayar tiket masuknya untuk jasa mempertemukan dengan orang-orang senasib.

Komunitas penggemar motor gede rela membayar sejumlah uang untuk acara tour ke beberapa kota, yang sebenarnya sebagai pembayaran atas jasa mempertemukan dengan orang-orang senasib sesame penggemar motor gede.

Beberapa orang menasehati, “jangan terlibat di komunitas, nggak ada duitnya.” Mungkin benar jika menjadi pengurus. Tapi komunitas terbukti mampu memaksa anggotanya mengeluarkan uang sehingga pihak sponsor pun bersedia mengeluarkan uang juga.

(04 May 2015)