PROBLEM SOLVING

 

Jika suatu kali atap rumah kita bocor sehingga air menetes dari plafon waktu turun hujan maka solusinya sederhana:  cari ember atau kaleng atau gayung untuk menampung tetesan air hujan itu.  Dalam kondisi seperti kita tidak berpikir ideal, misalnya:  menggambar dengan teliti kira-kira bentuk artistik seperti apa yang layak sebagai penampung tetesan air hujan agar sesuai dengan bentul mebel yang ada di rumah.

 

Dalam problem solving biasanya tidak perlu berpikir terlalu lama, begitu terpikir sebuah solusi langsung dipraktekkan.  Tanpa berpikir divergen mencari ide,  tanpa perencanaan,  tanpa membuat sebuah prototype.

 

Bagaimana dengan skala yang lebih besar ?   Misalnya krisis dalam perusahaan. Sama-sama mencari solusi atas sebuah masalah, tapi apakah mengatasi krisis dalam perusahaan tidak perlu berpikir divergen, tidak perlu perencanaan dan tidak perlu  membuat sebuah prototype  ?

 

Perusahaan yang dilanda krisis memang serasa dikejar-kejar waktu, tapi  tidak berarti terburu-buru dalam melahirkan solusi.  Solusi yang tergesa-gesa biasanya lahir dari kemalasan untuk memikirkan masalah yang ada secara menyeluruh.  Pilihannya ada 2:  pertama, menghasilkan solusi  dengan cepat-cepat tapi punya risiko membuat kerusakan yang makin parah karena tidak mendalami permasalahan yang ada.  Kedua, melahirkan solusi melalui proses evaluasi dan berpikir divergen untuk menemukan ide-ide.

 

Pilihan pertama sudah banyak contohnya.  Pilihan kedua juga ada beberaoa contohnya.  Intinya, mengatasi krisis dalam perusahaan bukanlah proses problem solving tapi proses berinovasi.

(28 May 2015)