catatan dan inspirasi

MAHAL

 

Mahal  itu ketika kita masuk  kafe dan melihat harga sepotong kecil kue itu Rp 40.000.  Mahal itu ketika kita masuk resto biasa dan ternyata harga sepiring nasi goreng Rp 95.000.  Mahal itu ketika melihat sebuah sepatu dengan merek yang sama sekali tidak terkenal diberi harga Rp 1.500.000.

Mahal itu semacam ketidakpercayaan terhadap nilai sebuah produk.   Kue tersebut tidak layak diberi harga Rp 40.000 seenak apapun dia nantinya.   Nasi goreng itu tidak layak diberi harga Rp 95.000 karena ini kan resto biasa bukan resto mewah atau hotel bintang lima.  Sepatu itu tidak layak diberi harga Rp 1.500.000  karena sepatu yang bermerek saja harganya bisa di bawah itu.

Ketidakpercayaan terhadap nilai produk ini langsung atau tidak langsung memang hasil dari perbandingan dengan harga lain. Standar harga itu sudah terbentuk di pikiran konsumen.  Batas-batasnya sangat jelas.

Namun ketika nilai sebuah produk sangat dipercayai konsumen,  batas-batas harganya menjadi tidak jelas.  Perbandingan harga menjadi tidak relevan.  Kalau sudah seperti ini, apakah ini berarti konsumen emosional ?   Tentu tidak.  Konsumen justru rasional.

(19 May 2015)

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *