PRODUKTIVITAS

 

Dalam artikelnya di New York Times, Tony Schwarz menyebut istilah strategic renewal dan dampaknya terhadap produktivitas. Kita semua punya waktu 24 jam. Waktu tidak bisa kita perpanjang. Yang bisa dilakukan adalah mengoptimalkan energi kita dalam bekerja. Tony menyebut work block, setelah bekerja maksimal 90 menit tubuh dan pikiran butuh istirahat. Jadi poinnya adalah bagaimana dalam sehari kita mengatur berbagai work block secara efektif. Kalau tubuh dan pikiran dipaksa bekerja nonstop lebih dari 2 jam, hasilnya tidak optimal. Itu yang menjadi kelemahan jam kerja normal. Bekerja dari jam 8 dan baru istiraha jam 12, 4 jam. Nilai 4 jam itu -menurut konsep tony- nilai produktivitasnya lebih rendah ketimbang kerja 2 kali 90 menit yang di tengahnya ada istirahat.

Apa yang bisa selesai dalam 90 menit ? Sebuah laporan bulanan ? Sebuah cerpen 2500 kata ? Sebuah proposal rencana bisnis ? Tentu tidak bisa dengan percobaan sesekali, mesti berkali-kali hingga akrab dengan work block dan mampu bekerja optimal.

(17 April 2015)

CERITA KOPI

 

Sekarang adalah era yang memungkinkan memberi banyak nama pada satu barang dan setiap nama itu bisa dijual.

Sama-sama kopi tapi namanya beda-beda. Bisa Starbuck, Coffee Bean, Bengawan, Excelso dan lain-lain.

Pernahkah terpikir sekali-sekali usil dalam satu hari penjualan kopi bernama A diselipkan satu gelas dari kopi bernama B ? Akankah ada pelanggan yang menyadari ? Jika ada pelanggan yang merasakan ketidakkonsistenan rasa yang biasanya dia rasakan, apa yang akan dia lakukan ? Protes pada barista atau melaporkan pada polisi ? Jika sekadar protes pada barista, maka akan segera diganti dengan kopi baru – yang tentu saja bernama A supaya si pelanggan tersebut puas. Lapor pada polisi ? Ah rasanya berlebihan.

Nama itu istilah kerennya adalah brand.

Setiap orang bisa memberi nama pada kopinya dan menjualnya. Masalahnya, ada yang berhasil ada yang tidak.

Bagi yang ingin berhasil bisa belajar dari Stanley Hainworth yang berhasil membawa Starbuck menjadi pemain besar dalam bisnis kopi

Dua pertanyaan ini adalah salah satu di antara sekian banyak pertanyaan dalam wawancara dengan majalah FastCompany.

Apa aspek paling penting untuk dipertimbangkan ketika menciptakan sebuah brand ?

“Bagi saya, itu berkaitan dengan bagaimana mempunyai sebuah cerita untuk disampaikan. Itu yang kan memberi kemampuan pada anda untuk menciptakan sebuah pengalaman di sekitar brand.”

Apa yang anda maksud dengan “sebuah cerita” ?

“setiap brand adalah sebuah cerita, entah itu cerita mengenai para pendirinya atau alasan brand itu dilahirkan. Beberapa brand tidak pernah menyampaikan ceritanya dengan baik, atau kehilangan cerita mereka. Microsoft adalah contoh bagus mengenai sebuah brand yang tidak pernah menyampaikan ceritanya dengan baik. Microsoft adalah platform produk piranti lunak yang sangat besar, sebuah konglomerat mega raksasa, dan tidak ada cinta di situ. Tidak ada cerita emosional di sekelilingnya. Cerita Bill Gates adalah cerita yang luar biasa tapi tidak pernah benar-benar disampaikan melalui brand tersebut.

Adalah sangat menarik untuk melihat berbagai brand menjadi tua, dan menghadapi lebih banyak kompetitor di pasar, dan berjuang untuk tetap relevan. Lihatlah Levi’s atau Gap atau brand besar Amerika lainnya yang tenggelam dalam perjuangannya ini. Lihatlah Starbuck. Dalam rangka menangkap ulang spirit mereka, mereka hampir selalu kembali pada inti mereka. Mungkin mereka kelihatan lupa untuk beberapa saat, kemudian mereka ingat lagi, “Oya kami adalah perusahaan kopi !” Lalu mereka melupakan film-film dan rak-rak berisi CD dan fokus pada kopi lagi.”

Mungkin pelajaran yang didapat di sini: memberi nama pada sebuah kopi dan kemudian menjualnya itu mudah, yang sulit adalah menciptakan cerita yang bertahan lama dari nama kopi tersebut.

(17 May 2015)