LEMBAGA SURVAI

 

Kalau anda menjadi juara satu di kelas, orang tua anda tidak akan memprotes para guru. Ungkapan itu berlaku di dunia penyiaran televisi, siapa pun yang menjadi top five tidak punya persoalan dengan lembaga survai yang menentukan rating.

Dalam perbincangan antar orang tv sudah biasa mengomentari kualitas lembaga survai yang dianggap masih banyak kelemahannya. Entah soal metodologi, entah soal responden. Tapi ketika berhadapan dengan para pengiklan, hasil survai ini yang ditunjukkan.

Ada standar ganda di sini. Di satu sisi dicaci maki, di sisi lain tetap jadi andalan untuk mencari duit.

Harus diakui hasil dari lembaga survai mengenai rating ini sudah sangat menentukan budaya kerja di stasiun tv. Kinerja karyawan diukur berdasarkan rating. Seorang karyawan tidak bisa disebut kreatif kalau tidak berbanding lurus dengan hasil rating yang didapat dari program tv yang dikelolanya. Dan, jangan-jangan, sebutan kreatif itu menjadi tidak penting ketika sebuah program tv yang secara kualitatif obyektif jelek menghasilkan rating besar yang pada gilirannya menghasilkan uang banyak.

Kemudian terdengar lagi kritik yang sudah basi dari stasiun tv: jangan salahkan kami jika kami menghasilkan program-program yang berselera rendah karena memang itu yang diinginkan penonton. Berarti ada 2 hal di sini: menyalahkan lembaga survai dan menyalahkan selera penonton.

Padahal bukan itu poin terpentingnya. Sebagai akibat terlalu fokus pada rating, stasiun tv mengabaikan penonton. Stasiun tv punya rumusan sendiri dalam meraih rating berdasarkan analisis terhadap pola siaran sekian puluh tahun. Analisis ini pada akhirnya menempatkan penonton sekadar sebagai variable dari penentuan rating.

Padahal mestinya penonton adalah klien utama stasiun tv. Stasiun tv tak lebih sebagai penyedia jasa (hiburan atau berita). Ketika banyak penonton puas, rating dengan sendirinya akan besar. Karena penonton adalah klien utama, mestinya riset diarahkan pada kebutuhan penonton. Bahkan mestinya proses penciptaan program tv pun melibatkan penonton (sebagaimana yang biasa disebut prinsip co creative dalam service design). Tapi itu tidak pernah dilakukan.

Stasiun tv harus mulai mengutamakan penonton. Jika tidak, industri lain yang akan melakukannya. Misalnya, industri internet lewat internet tv atau website.

(14 May 2015)