PENOLAKAN

 

Apakah profesi anda saat ini tidak terlalu bersentuhan dengan risiko penolakan ? Jika jawabannya ya maka perlu intropeksi: jangan-jangan anda berada dalam comfort zone yang begitu hebatnya sehingga anda tidak perlu mengusulkan sebuah ide pun kepada atasan atau teman kerja.

Seorang tenaga sales yang baik menemui banyak sekali penolakan untuk bisa menjadi sales terbaik. Seorang karyawan berprestasi pasti cukup sering ditolak ide-idenya dalam melakukan perbaikan. Seorang produser film mengalami berbagai penolakan investor hingga akhirnya dipercaya sebagai produser yang mampu mengolah investasi film dengan baik.

Penolakan itu setidaknya mempunyai 2 wajah. Wajah yang pertama, yang paling umum, adalah wajah merendahkan dan menghina terhadap produk/ide/saran yang kita punya. Wajah ini menyebabkan kekecewaan dan kemarahan karena seakan-akan merupakan bentuk konfrontasi langsung pada diri kita. Wajah ini mematikan dan membekukan. Siapapun yang menghadapi wajah ini akan menghentikan usahanya. Merasakan ada yang salah dari tindakannya itu sehingga tidak perlu melanjutkan lagi segalah usahanya.

Wajah kedua dari penolakan adalah wajah yang memberi masukan. Wajah ini hanya mengajak berdiskusi mengenai produk/ide/saran kita. Wajah ini tampak ramah untuk mengingatkan bahwa kita mesti berusaha lebih baik lagi. Sehingga kita merasa tak ada yang salah dari tindakan kita untuk menawarkan produk/ide/saran. Justru wajah penolakan ini memberi keyakinan bahwa yang kita lakukan sudah benar, hanya saja kita perlu melakukan dengan lebih baik lagi.

Kabar gembiranya: setiap penolakan bisa kita persepsikan sebagai wajah pertama atau wajah kedua terserah kita. Fakta: pribadi-pribadi berhasil seringkali berhadapan dengan wajah kedua ini.

(12 May 2015)