KACAMATA KONSUMEN

 

Di suatu petang yang super macet di bilangan Senayan, saya harus ke Jalan Tendean. Angkutan yang paling praktis adalah ojek untuk menembus kemacetan tersebut. Saya datangi para tukang ojek yang mangkal di depan mall.

= mau kemana mas ?
+ Jalan Tendean Mau ? Berapa ?
= Limapuluh ribu mas
+ Tigapuluh aja
= Tigapuluh lima
+ Nggak. Tiga puluh aja.

Ternyata harga jasa tukang ojek itu mentok di angka Rp 35.000. Saya penasaran, berjalan ke pangkalan ojek berikutnya. Ada seorang tukang ojek.

+ Ke jalan tendean mau nggak ? (Si tukang ojek tampak tidak terlalu antusias)
= Macet parah. Capek saya ke sananya. Kalau situ mau limapuluh ribu, saya mau mau aja.
+ O saya pikir bisa tigapuluh ribu

Si tukang ojek menoleh pun tidak. Dia sedang menunjukkan sikap “tarif saya Rp 50.000, take it or leave it.” Akhirnya saya naik taksi. Sesampai di tujuan jalan Tendean argometer menunjukkan angka 50.000 lebih sedikit.
Apa bedanya ojek dan taksi ? Ojek memberi harga atas jasa yang diberikan berdasarkan seberapa capek atau seberapa menderita si pemberi jasa/tukang ojek dalam memberikan jasanya. Dua tukang ojek bisa berbeda harga jasanya. Sementara taksi, penderitaan si pemberi jasa/sopir taksi bukan variabel dalam menentukan harga jasa. Secara umum ada 3 variable penentu harga jasa: cost plus pricing, competitor’s pricing dan perceived value to the customer. Untuk variabel “perceived value to the customer” intinya adalah seberapa besar uang yang ingin dibayarkan pelanggan untuk menerima jasa itu. Di situlah kita harus masuk ke dalam kacamata konsumen. Kesalahan tukang ojek di atas: dia tidak berpikir berapa besar uang yang rela saya bayarkan, dia hanya berpikir berapa uang yang layak untuk mengganti segala kelelahan dalam menyediakan jasa tesebut.

(8 May 2015)