APA GUNANYA BERITA ?

 

Saya serius bertanya itu. Mungkin karena terbiasa mengkonsumsi berita, kita jadi merasa ganjil menanyakan apa gunanya berita.
Berkat membaca buku Black Swan karya Nassim Nicholas Taleb, saya pernah punya kebiasaan untuk mengikuti anjurannya, yaitu membaca koran dengan terlambat. Untuk hari ini saya membaca koran 2 hari sebelumnya. Hidup jadi lebih nyaman. Membaca koran hanya perlu waktu kurang dari 5 menit. Berita-berita menyedihkan tidak pernah mampir lama di kepala karena toh kejadiannya sudah 2 hari lalu dan terbukti di hari ini tidak menimbulkan kehebohan. Untuk mengikuti berita cukup dari sosial media secara sekilas mengenai berita-berita yang banyak diperbincangkan.

Apa gunanya berita ?
Pertanyaan ini juga sebentuk sikap skeptis terhadap berita-berita yang beredar. Sekarang adalah era setiap orang bisa memproduksi berita. Berita tidak hanya dibuat oleh para reporter konvensional tapi juga oleh warganegara biasa. Bill Kovach, sebagai biang-nya ilmu jurnalistik, lewat bukunya “BLUR: how to know what’s is true in the age of overload information” mengatakan bahwa ada 4 model jurnalistik. Salah satu di antara 4 model itu adalah interest group journalism “targeted Web sites or pieces of work, often investigative, that are usually funded by special interests rather than media institutions and designed to look like news.” Dan, sepertinya model jurnalisme seperti ini yang banyak beredar di sosial media.

Apa gunanya berita ?
Kali ini saya menemukan guna lain dari berita. Kebiasaan saya sudah kembali untuk membaca koran hari ini. 2 hari lalu saya membaca berita “Ekonomi Kreatif: Ide Jadi Jaminan Pinjaman Modal”. Sebuah tema yang menarik bagaimana mungkin ide bisa menjadi jaminan pinjaman. Karena selama ini di masyarakat seringkali ada salah kaprah dengan menyamakan antara ide dan hak cipta. Kemudian saya men-tweet ini lewat twitter. Termasuk menyebut akun twiter pak Triawan Munaf sebagai kepala Badan Ekonomi Kreatif Indonesia. Pak Triawan membalas bahwa dia berterima kasih jika wacana tersebut bisa didiskusikan. Ternyata diskusi berlangsung cukup hangat. Ada penjelasan panjang dari seorang praktisi hukum HAKI, pelaku industri kreatif dan pakar digital.
Dari pengalaman itu, saya terpikir guna berita yang lain: menjadi titik mula dari relasi antar pribadi-pribadi yang mempunyai kepentingan dan minat yang sama.

Jika berita tersebut saya tweet 2 hari kemudian, tentu responsnya berbeda. Pada akhirnya aktualitas berita bukan sesuatu yang sama sekali kuno karena di balik aktualitas itu ada simpul-simpul yang menghubungkan kita dengan pribadi-pribadi tertentu untuk menangani masalah secara bersama.

(7 May 2015)