RADIO

 

Radio lebih membutuhkan sentuhan kreativitas dibandingkan media lain.

Kok bisa begitu ?

Adakah di antara kita yang dengan sengaja menyalakan radio untuk mendengar sebuah program pada jam tertentu ? Bahkan jangan-jangan sudah banyak yang tidak memiliki radio di rumah. Seorang teman ketika mendengar ada perbincangan di sebuah radio tentang topic khusus, dia harus masuk ke mobil dan menyalakan radio di situ.

Beda dengan dulu. Puluhan tahun lalu radio adalah wajib. Setiap berangkat sekolah diiringi siraran berita dari RRI. Ada juga program radio yang ditunggu-tunggu: Sandiwara Radio Saur Sepuh. Sekarang, kita biasa dengar komentar orang, “radio ini enak. Sepanjang hari cuma muter lagu.” Radio bagus justru diidentikkan dengan tidak ada program sama sekali selain memutar lagu.

Program seperti apa yang bisa membuat orang kembali mendengar radio sebagai sebuah rencana ? Bukan sekadar mengisi keisengan di mobil ketika macet atau ketika tidak ada perbincangan dalam mobil.

Salah satu stasiun radio memenuhi siarannya dengan program-program talkshow mulai dari motivasi, manajemen hingga hipnoterapi. Sebagian besar pendengarnya mendengar siaran tersebut dengan rencana. Mereka merencanakan topik apa saja yang akan mereka dengar. Itu pertanda bagus. Berarti program di radio bisa dikaitkan dengan topik-topik yang mempunyai basis di komunitas. Tema-tema mengenai hipnoterapi bisa menjadi peluang program ketika basis komunitasnya cukup besar. Tema-tema mengenai cara meraih sukses, mempunyai basis yang tak kalah besar. Tapi tentu tidak bisa bertumpu pada komunitas pemilik Lamborghini, misalnya. Terlalu segmented. Intinya, setidaknya kreativitas bisa mencari jalan dengan mengaitkan pendengar dan komunitas tertentu.

(05 May 2015)