KOMUNITAS

 

Ada dua macam komunitas. Pertama, kumpulan orang-orang yang ingin meraih sesuatu. Misalnya komunitas wirausaha. Belum tentu semua anggota sudah punya bisnis. Kebanyakan malah masuk komunitas supaya mendapatkan bisnis. Kedua, kumpulan orang yang sudah memiliki sesuatu. Misalnya komunitas pemilik Lamborghini. Siapapun bisa masuk ke situ kecuali yang TIDAK PUNYA Lamborghini. Atau komunitas motor gede, tentu saja yang bergabung adalah orang yang sudah punya motor gede.

Dua komunitas itu sama-sama berfungsi memenuhi hasrat manusia yang mendasar bahwa manusia tidak sendiria. Manusia membutuhkan teman, lebih khusus lagi teman yang senasib. Jika anda pemilik mobil mercy tua, dan menghabiskan banyak waktu dan energi untuk otak-atik mercy tua, anda akan nyambung dengan orang yang sangat mengagumi mercy tua. Anda merasa senasib dengan, anda merasa di antara milyaran orang di dunia ini sungguh sebuah kegembiraan anda bisa bertemu dengan sedikit orang yang sama-sama mencintai mercy tua.

Komunitas pada akhirnya adalah sebuah jasa menyambungkan orang-orang dengan kesamaan tertentu untuk membuat hidup lebih bergairah.

Ketika komunitas mampu menjalankan fungsinya dengan baik untuk menyambungkan orang-orang dengan kesamaan tertentu, maka anggota-anggota komunitas tidak berkeberatan mengeluarkan uang atas jasa itu.

Setahun sekali sebuah komunitas wirausaha mengadakan acara pameran besar-besaran selama 3 hari dan orang rela membayar tiket masuknya untuk jasa mempertemukan dengan orang-orang senasib.

Komunitas penggemar motor gede rela membayar sejumlah uang untuk acara tour ke beberapa kota, yang sebenarnya sebagai pembayaran atas jasa mempertemukan dengan orang-orang senasib sesame penggemar motor gede.

Beberapa orang menasehati, “jangan terlibat di komunitas, nggak ada duitnya.” Mungkin benar jika menjadi pengurus. Tapi komunitas terbukti mampu memaksa anggotanya mengeluarkan uang sehingga pihak sponsor pun bersedia mengeluarkan uang juga.

(04 May 2015)