DENGKUL

 

Apa pentingnya dengkul ? Tanpa dengkul orang tidak bisa berdiri dan berjalan. Sebegitu pentingnya peran dengkul, mengapa dengkul menjadi elemen utama dalam hinaan ?

Dengan mudahnya orang mengejek “mana mungkin bisnis modal dengkul” (maksudnya modal dengkul itu berbisnis tanpa modal) atau ketika marah terhadap tindakan bodoh orang lain, keluar kata-kata itu “lu otak ditaruh dengkul !!!” (maksudnya hanya orang bodoh yang otaknya di dengkul, padahal bodoh juga menganggap ada kemungkinan otak ada di dengkul).

Sebuah kata ternyata juga bisa menjadi obyek bullying. Dia semata-mata digunakan untuk pengertian negatif. Sekali sebuah kata digunakan untuk pengertian-pengertian negatif, seterusnya kata tersebut seakan tidak bisa lepas dari pemaknaan yang telah diberikan banyak orang.

Padahal, sekarang adalah era pemaknaan, kata Daniel H Pink. Semua hal bisa diberi makna baru atau disisipi makna baru. Sebuah produk tidak hanya semata-mata isinya tapi juga pemaknaan dari orang-orang penggunanya. Dan, tentunya, pemaknaan itu bisa diarahkan. Sebuah kata “Apple” mempunyai makna yang bukan lagi buah, tapi kedigdayaan inovasi di abad ini. Kata google yang sebelumnya kata tanpa arti, kini dimasukkan dalam sebuah entri ensiklopedi bahasa Inggris.

Dengkul. Mungkinkah kata dengkul mengalami pemaknaan ulang sehingga berkonotasi positif ? Mungkin saja. Mungkin saya atau anda yang akan lebih dulu memberi pemaknaan ulang pada kata dengkul.

(02 May 2015)

SECRET

 

Selama ini the secret yang kita kenal adalah istilah yang dipopulerkan oleh Rhonda Byrne. Istilah lainnya adalah law of attraction. Intinya adalah kekuatan positif pikiran kita akan menarik berbagai imbalan positif bagi diri kita. Saya selama ini hanya menyimak sekilas the secret dari Rhonda Byrne ini sampa kemudian saya menemukan the secret yang lain. The Secret yang saya maksud itu ada dalam buku Zero To One karya Peter Thiel, pendiri PayPal. Bagi saya buku yang hebat adalah buku yang mampu membuat pembaca meragukan kembali keyakinan yang selama ini dianutnya. Dan, Thiel berhasil mengajak pembaca –setidaknya saya — berpikir ulang mengenai kompetisi yang telanjur kita yakini selama ini. Dan lebih dari itu, Peter Thiel membuat bahasan satu bab sendiri mengenai secrets. Kata secrets menandakan kata jamak. Artinya, tidak membahas satu-satunya rahasia tapi berbagai rahasia.

Secrets-nya Peter Thiel ini secara ringkas begini: banyak orang terjebak untuk percaya bahwa cuma ada dua jenis pekerjaan, yaitu pekerjaan yang bisa dilakukan dan pekerjaan yang mustahil dilakukan. Padahal ada jenis pekerjaan ketiga, pekerjaan yang mungkin dianggap orang banyak sebagai mustahil tapi di waktu depan ternyata sebuah solusi yang luar biasa. Misalnya, dalam dunia politik Amerika Serikat, masyarakat kulit hitam yang bisa diterima sebagai warna negara biasa pada awalnya adalah sesuatu yang tidak mungkin untuk dikerjakan. Tapi tokoh-tokoh tertentu yang menjadikannya sebagai secrets, sebuah misi yang dikerjakannya dengan sekuat tenaga meski banyak orang yang menganggapnya sebagai mustahil.

Begitu juga dengan Google dan Facebook. Bukannya ikut dalam persaingan yang ada, mereka justru memilih memilih melakukan sesuatu yang dianggap mustahil dan justru karena itu tidak ada pesaingnya. Dan sekarang Google dan Facebook bisa dikatakan monopoli karena teknologinya sudah tidak bisa dikejar atau disamai oleh kompetitor manapun.

Dalam sebuah interpretasi yang lebih spesifik, kita bisa fokus pada 10.000 jam mastery skills seperti yang dianjurkan Malcolm Gladwell atau fokus pada secret kita masing-masing. Seorang pengusaha menekuni secrets bahwa dia akan memberikan sebuah solusi hebat yang dalam jangka 5 � 10 ke depan. Seorang trainer menekuni sectret-nya untuk menghadirkan sebuah solusi hebat dalam jangka waktu 5 � 10 tahun ke depan. Begitu juga dengan profesi lainnya. Pada akhirnya jika pekerjaan hanya untuk memperdalam skill, maka suatu saat tak terhindarkan kita akan kehilangan makna.

(02 May 2015)