MARAH

 

Guru manajemen Tom Peters punya pandangan bahwa orang-orang marah bisa membawa perubahan. Perubahan adalah cikal bakal dari inovasi. Kemudian saatnya merenung: saat ini seberapa marah kita pada kondisi yang ada ? Berapa banyak orang yang sama marahnya dengan kita ?

Ambil contoh secara acak. Layanan internet. Ada berapa banyak orang marah terhadap lambatnya internet di indonesia ? Banyak sekali ! Sebagian malah mengucapkan caci-maki di akun twitter dan facebook mereka masing-masing. Tapi internet kita tetap lambat. Seorang musisi pernah tidak tidur menjelang pementasannya hanya untuk menunggu pengunduhan sebuah lagu beberapa gigayte (sementara orang lain membandingkan betapa cepatnya mengunduh sebuah film yang file-nya ratusan gigabyte di Korea Selatan). Tapi kenapa semua kemarahan orang per orang ini tidak membawa perubahan ? Seakan-akan kemarahan ini hanya sebentuk omelan yang tidak memerlukan respons cepat, bahkan dibiarkan pun tidak akan ada konsekuensi besar.

Ambil contoh lain. Industri penyiaran tv. Berapa banyak orang marah terhadap tayangan tv yang tidak layak ? Banyak sekali !!!! Berbagai komentar protes sering muncul di media sosial maupun surat pembaca di media cetak. Kata-kata yang sering diangkat adalah stasiun tv menggunakan frekuensi milik publik sehingga harus menggunakan semaksimalnya untuk kepentingan dan kemanfaatan publik. Tapi apakah kemarahan ini membawa perubahan ? Tayangan tv terpuji masih sangat jarang.

Apakah ini berarti omongan Tom Peters tidak terbukti ?

Tom peters memberi ilustrasi di sebuah perusahaan. Jika konsumen tak puas itu hanya sebatas menyampaikan ketidakpuasannya pada perusahaan itu, mungkin tidak terjadi apa-apa. Tapi jika ada konsumen menyampaikan kemarahannya, perusahaan itu akan tersadar tentang pentingnya melakukan perubahan.

Sebagian besar dari kita bersifat sangat adaptif terhadap status quo. Sejelek apapun kondisi status quonya kita cenderung bisa memaafkan dan akhirnya menerima kondisi ini. Akibatnya inovasi tidak pernah menemukan lahan subur. Sehebat apapun kita ngomel-ngomel tentang tayangan yang tidak mendidik, para artis-artis itu terap mempunyai fans puluhan juta orang Indonesia, yang artinya tetap mendukung status quo.

Rasanya, memahami kata-kata Tom Peters itu tetap dalam konteks: mestinya kita terus-menerus sadar untuk melakukan perubahan dan inovasi tanpa harus menunggu konsumen atau pelanggan meluapkan kemarahannya.

(01 May 2015)