ANTRI

 

 

Jika sebuah produk dibeli secara antri oleh konsumen itu bisa menjelaskan beberapa hal tentang produk tersebut.

 

Pertama,  produk yang memang suplainya sangat terbatas sehingga di beberapa kesempatan terjadi ledakan konsumen yang mau tak mau mereka harus mengantri.  Contoh: tiket kereta api.  Untuk kereta api hanya pemerintah yang mengelola. Kursi yang tersedia terbatas karena unit kereta apinya juga terbatas. Sehingga di hari-hari lbur terjadi ledakan konsumen yang memaksa mereka untuk antri di depan loket.  Menjelang hari raya idul fitri, konsumen bahkan mengantri semalam sebelumnya.  Sepanjang apapun yang antri di depan loket, sama sekali tidak menunjukkan bahwa produk tersebut disukai secara masif.  Konsumen mengantri secara terpaksa.

 

Kedua,  produk tersebut mengindikasikan “sekarang atau tidak sama sekali”.  Contoh paling gampang adalah bahan bakar premium.  Satu hari menjelang kenaikan BBM, bisa dipastikan SPBU dipenuhi mobil mengantri untuk mengisi tangki mobilnya sebelum harga BBM naik. Banyaknya konsumen mengantri juga tidak mengindikasi produk tersebut punya nilai kualitas tertentu,  itu hanya karena ada psikologi massa yang membuat konsumen merasa bisa mendapatkan keuntungan dari selisih harga BBM sebelum naik.

 

Ketiga,  produk tersebut bagian dari hype.  Sebuah produk dibanjiri konsumen yang rela antri karena konsumen ini menyukai produk ini secara masif.  Karena menyukainya secara bersama-sama,  mereka ini seakan-akan merupakan sebuah komunitas. Ini terjadi di produk iPhone dan Samsung .   Konsumen rela antri berjam-jam untuk mendapatkan produk terbaru di sebuah kesempatan meskipun mereka sadar bahwa satu minggu atau satu bulan dari hari tersebut mereka bisa mendapatkan produk yang sama dengan harga yang relatif tidak berbeda.  Produk sebagai bagian dari hype ini telah membuat konsumen tidak menyia-nyiakan pengalaman membelinya.  Ada customer experience yang cukup berharga untuk dikenang.  Dalam kerangka seperti ini pula, orang rela antri novel Harry Potter meski bukunya secara fisik belum ada, mereka hanya antri sebagai pemesan.

 

Dalam era seperti sekarang yang memungkinkan setiap orang mengakses dan berbagi informasi mengenai evaluasi terhadap produk apapun,  maka meraih kategori nomer tiga tersebut adalah prestasi yang luar biasa

(31 May 2015)

IDE KONYOL

 

 

Kata Seth Godin “jika kesulitan menemukan ide brilian, mulailah dengan menemukan ide konyol.”  Tapi sebagian orang malas menemukan ide konyol sehingga malah melakukan kekonyolan dengan mengulang ide-ide yang jelas-jelas pernah gagal sebelumnya tanpa modifikasi.

 

Mengulang ide yang pernah gagal tanpa alasan yang kuat adalah salah satu bentuk dari spekulasi asal-asalan. “siapa tahu mungkin kali ini berhasil.”   “siapa tahu kemarin momennya belum tepat dan sekarang adalah momennya.”

 

Misalnya ide program tv drama yang akhirnya ditentukan oleh penonton.  Penonton diharapkan memberi masukan mengenai bagaimana akhir dari cerita tersebut.  Pilihan terbanyak akan ditampilkan sebagai akhir drama tersebut.  Setidaknya sudah ada 3 stasiun tv yang pernah mencoba ide ini tanpa modifikasi apapun.  Ketiganya gagal.  Sampai saat ini premis untuk program drama masih belum berubah:  penonton menonton drama karena mengharap kejutan cerita, bukan membuat sendiri kejutan tersebut.

 

Bahkan sebuah ide konyol pun punya syarat:  bukan pengulangan mentah-mentah  dari ide yang sudah pernah gagal.

(30 June 2015)

PROBLEM SOLVING

 

Jika suatu kali atap rumah kita bocor sehingga air menetes dari plafon waktu turun hujan maka solusinya sederhana:  cari ember atau kaleng atau gayung untuk menampung tetesan air hujan itu.  Dalam kondisi seperti kita tidak berpikir ideal, misalnya:  menggambar dengan teliti kira-kira bentuk artistik seperti apa yang layak sebagai penampung tetesan air hujan agar sesuai dengan bentul mebel yang ada di rumah.

 

Dalam problem solving biasanya tidak perlu berpikir terlalu lama, begitu terpikir sebuah solusi langsung dipraktekkan.  Tanpa berpikir divergen mencari ide,  tanpa perencanaan,  tanpa membuat sebuah prototype.

 

Bagaimana dengan skala yang lebih besar ?   Misalnya krisis dalam perusahaan. Sama-sama mencari solusi atas sebuah masalah, tapi apakah mengatasi krisis dalam perusahaan tidak perlu berpikir divergen, tidak perlu perencanaan dan tidak perlu  membuat sebuah prototype  ?

 

Perusahaan yang dilanda krisis memang serasa dikejar-kejar waktu, tapi  tidak berarti terburu-buru dalam melahirkan solusi.  Solusi yang tergesa-gesa biasanya lahir dari kemalasan untuk memikirkan masalah yang ada secara menyeluruh.  Pilihannya ada 2:  pertama, menghasilkan solusi  dengan cepat-cepat tapi punya risiko membuat kerusakan yang makin parah karena tidak mendalami permasalahan yang ada.  Kedua, melahirkan solusi melalui proses evaluasi dan berpikir divergen untuk menemukan ide-ide.

 

Pilihan pertama sudah banyak contohnya.  Pilihan kedua juga ada beberaoa contohnya.  Intinya, mengatasi krisis dalam perusahaan bukanlah proses problem solving tapi proses berinovasi.

(28 May 2015)

BENAR

 

Ada yang esensinya benar dianggap media sebagai benar dan dipercaya banyak orang sebagai benar.  Ada yang esensinya tidak benar dianggap media sebagai benar dan dipercaya banyak orang sebagai benar.  Ada yang esensinya benar dianggap media tidak benar tapi banyak orang percayai itu benar.  Ada yang esensinya tidak jelas benar atau tidaknya dan media menganggap itu sebagai benar sehingga banyak orang bingung.

 

Benar dan tidak benar sering menimbulkan diskusi yang gaduh.  Orang kreatif terkesan tidak peduli terhadap kegaduhan.  Mereka sibuk mengerjakan sesuatu yang bermanfaat bagi orang banyak dengan cara-cara yang benar tanpa peduli apakah banyak orang percaya atau tidak.

(27 May 2015)

DIDENGAR

 

Kita berada dalam era yang memungkinkan setiap orang bicara pada ORANG BANYAK.  Melalui media sosial setiap orang bisa bicara pada orang banyak.  Perbedaannya terletak pada jumlah pendengar. Ada yang jumlah pendengarnya sedikit. Ada yang jumlah pendengarnya banyak, bahkan amat sangat banyak.

Setidaknya ada tiga cara yang memungkinkan didengar orang banyak.

Provokatif.   Lemparkan saja pendapat yang kontroversial. Apalagi jika menyangkut elemen yang sangat sensitif di Indonesia, seperti agama.  Anda akan mengundang kehebohan. Kehebohan memungkinkan disebarkan ke lebih banyak orang lagi untuk mendengarkan anda.  Tapi mereka mendengarkan dengan kemarahan, atau setidaknya dengan perasaan yang tidak positif. Setidaknya pendengar anda banyak,  meski ada risiko anda diseret ke ranah hukum.

Celebrity’s friend.   Jika seorang selebritas mampu mengumpulkan jutaan pendengar,  menjadi temannya atau memposisikan diri sebagai teman selebritas memungkinkan untuk kecipratan pendengar si selebritas.  Ceritakan keseharian bersama selebritas itu,  tampilkan foto-foto bersama selebritas itu, ceritakan sesuatu yang tidak diceritakan oleh infotainment dan berita hiburan mengenai selebritas tersebut.  Anda punya banyak pendengar dengan menjalankan fungsi sebagai mata pemantau terhadap kehidupan selebritas yang mempunyai banyak pendengar.

Empati.  Seperti kata Daniel H Pink,  sekarang adalah era konsepsional, era yang menekankan empati. Sehingga empati lah yang mestinya menjadi dasar untuk didengar orang banyak.  Apapun bidang anda jika kata-kata anda merupakan bentuk empati terhadap masalah para pendengar anda,  itu akan berlangsung lebih lama dan lebih tulus. Para pendengar akan menunggu perkataan-perkataan anda,  karena memang itu perkataan bernilai dalam perspektif para pendengar.

(26 May 2015)

KURSI EMPUK

 

 

Ada sebuah cerita yang cukup terkenal.  Suatu kali dalam talkshow,  seorang pengusaha papan atas berusia di atas 80 tahun dipersilakan menempati kursi yang telah disediakan di atas panggung.  Pengusaha ini  berjalan ke atas panggung dan tertegun memandangi sofa yang ada di hadapannya. Kemudian dia berbisik kepada panitia supaya disediakan kursi biasa yang keras.  Menurut dia,  dia memaksa dirinya untuk tidak bersantai-santai atau berleha-leha dengan duduk di atas kursi empuk.  Karena itu di rumahnya pun lebih banyak kursi kayu.  Kursi kayu membuatnya selalu tegap dan bersikap militan.

 

Dalam sebuah survei ditemukan bahwa orang cenderung mengiyakan jika duduk di atas kursi empuk. Sehingga jika anda berniat bernegosiasi, persilakan lawan bicara anda duduk di atas kursi empuk sedangkan anda duduk di kursi keras. Duduk di kursi keras akan membuat anda lebih tegas dan afirmatif.

 

Kursi empuk memang lambang kenyamanan, rileks dan tenang. Dalam talkshow seperti Ellen Degeneres atau Oprah Winfrey, menggunakan kursi empuk karena  berharap sebuah masalah bisa diperbincangkan dengan ritme yang lambat dan storytelling. Berbeda dengan Larry King yang menggunakan kursi keras karena berharap ada diskusi yang efektif, cepat dan kadang-kadang provokatif.

 

Kursi empuk di restoran bisa membuat orang berlama-lama.  Di sebuah resto atau café yang sajian utamanya adalah kopi,  kursi empuk alias sofa memang biasanya ada. Tapi tidak semuanya.  Sisanya tetap ada kursi keras.  Orang yang duduk di kursi keras tentu tidak akan bisa terlalu berlama-lama. Dengan begitu sirkulasi orang keluar dan masuk akan bisa terjaga. Bayangkan jika semua kursi yang ada di restoran adalah kursi empuk dan semua orang ingin berlama-lama, maka itu bisa berpengaruh langsung pada omzet.

 

Kursi empuk memang nyaman tapi kebutuhan pelanggan akan kenyamanan tidak selalu identik dengan kursi empuk. Ketika niatnya untuk rapat atau meeting di sebuah resto,  kursi keras akan membuat para peserta rapat sadar waktu sehingga rapatnya cenderung cepat  dan efektif.

(25 May 2015)

ARTIFISIAL

 

 

Setiap kita pasti pernah melihat sebuah sinetron yang kesannya sangat dibuat-buat.  Aktingnya dibuat-buat.  Logikanya dibuat-buat. Dan kita sama sekali merasa tidak diyakinkan oleh cerita tersebut.  Itulah artifisial.

 

Tantangan seorang seniman:  membuat  sesuatu dengan hasil yang tidak dianggap sebagai dibuat-buat.

 

Kita semua adalah seniman. Setiap hari kita berkaitan dengan ‘membuat sesuatu’.  Dari tingkat paling sederhana sampai paling rumit.  Seringkali karena ingin membuat sesuatu yang sangat indah  justru menghasilkan sesuatu yang dibuat-buat. Artifisial.

 

Keinginan kuat untuk memperindah justru akan meninggalkan kewajaran. Sebuah presentasi yang dipenuhi berbagai ornamen dekorasi justru akan membuat kesan terlalu rumit.   Sebuah kesan tentang sesuatu yang terlalu rumit tentu tidak mendukung efektivitas penyampaian pesan.

 

Pada akhirnya, seperti kata Plato ribuan tahun lalu, “beauty of style and harmony and grace and good rhythm depend on simplicity.”     Keindahan itu justru ada di kewajaran.

(21 May 2015)

MAHAL

 

Mahal  itu ketika kita masuk  kafe dan melihat harga sepotong kecil kue itu Rp 40.000.  Mahal itu ketika kita masuk resto biasa dan ternyata harga sepiring nasi goreng Rp 95.000.  Mahal itu ketika melihat sebuah sepatu dengan merek yang sama sekali tidak terkenal diberi harga Rp 1.500.000.

Mahal itu semacam ketidakpercayaan terhadap nilai sebuah produk.   Kue tersebut tidak layak diberi harga Rp 40.000 seenak apapun dia nantinya.   Nasi goreng itu tidak layak diberi harga Rp 95.000 karena ini kan resto biasa bukan resto mewah atau hotel bintang lima.  Sepatu itu tidak layak diberi harga Rp 1.500.000  karena sepatu yang bermerek saja harganya bisa di bawah itu.

Ketidakpercayaan terhadap nilai produk ini langsung atau tidak langsung memang hasil dari perbandingan dengan harga lain. Standar harga itu sudah terbentuk di pikiran konsumen.  Batas-batasnya sangat jelas.

Namun ketika nilai sebuah produk sangat dipercayai konsumen,  batas-batas harganya menjadi tidak jelas.  Perbandingan harga menjadi tidak relevan.  Kalau sudah seperti ini, apakah ini berarti konsumen emosional ?   Tentu tidak.  Konsumen justru rasional.

(19 May 2015)

PRODUKTIVITAS

 

Dalam artikelnya di New York Times, Tony Schwarz menyebut istilah strategic renewal dan dampaknya terhadap produktivitas. Kita semua punya waktu 24 jam. Waktu tidak bisa kita perpanjang. Yang bisa dilakukan adalah mengoptimalkan energi kita dalam bekerja. Tony menyebut work block, setelah bekerja maksimal 90 menit tubuh dan pikiran butuh istirahat. Jadi poinnya adalah bagaimana dalam sehari kita mengatur berbagai work block secara efektif. Kalau tubuh dan pikiran dipaksa bekerja nonstop lebih dari 2 jam, hasilnya tidak optimal. Itu yang menjadi kelemahan jam kerja normal. Bekerja dari jam 8 dan baru istiraha jam 12, 4 jam. Nilai 4 jam itu -menurut konsep tony- nilai produktivitasnya lebih rendah ketimbang kerja 2 kali 90 menit yang di tengahnya ada istirahat.

Apa yang bisa selesai dalam 90 menit ? Sebuah laporan bulanan ? Sebuah cerpen 2500 kata ? Sebuah proposal rencana bisnis ? Tentu tidak bisa dengan percobaan sesekali, mesti berkali-kali hingga akrab dengan work block dan mampu bekerja optimal.

(17 April 2015)

CERITA KOPI

 

Sekarang adalah era yang memungkinkan memberi banyak nama pada satu barang dan setiap nama itu bisa dijual.

Sama-sama kopi tapi namanya beda-beda. Bisa Starbuck, Coffee Bean, Bengawan, Excelso dan lain-lain.

Pernahkah terpikir sekali-sekali usil dalam satu hari penjualan kopi bernama A diselipkan satu gelas dari kopi bernama B ? Akankah ada pelanggan yang menyadari ? Jika ada pelanggan yang merasakan ketidakkonsistenan rasa yang biasanya dia rasakan, apa yang akan dia lakukan ? Protes pada barista atau melaporkan pada polisi ? Jika sekadar protes pada barista, maka akan segera diganti dengan kopi baru – yang tentu saja bernama A supaya si pelanggan tersebut puas. Lapor pada polisi ? Ah rasanya berlebihan.

Nama itu istilah kerennya adalah brand.

Setiap orang bisa memberi nama pada kopinya dan menjualnya. Masalahnya, ada yang berhasil ada yang tidak.

Bagi yang ingin berhasil bisa belajar dari Stanley Hainworth yang berhasil membawa Starbuck menjadi pemain besar dalam bisnis kopi

Dua pertanyaan ini adalah salah satu di antara sekian banyak pertanyaan dalam wawancara dengan majalah FastCompany.

Apa aspek paling penting untuk dipertimbangkan ketika menciptakan sebuah brand ?

“Bagi saya, itu berkaitan dengan bagaimana mempunyai sebuah cerita untuk disampaikan. Itu yang kan memberi kemampuan pada anda untuk menciptakan sebuah pengalaman di sekitar brand.”

Apa yang anda maksud dengan “sebuah cerita” ?

“setiap brand adalah sebuah cerita, entah itu cerita mengenai para pendirinya atau alasan brand itu dilahirkan. Beberapa brand tidak pernah menyampaikan ceritanya dengan baik, atau kehilangan cerita mereka. Microsoft adalah contoh bagus mengenai sebuah brand yang tidak pernah menyampaikan ceritanya dengan baik. Microsoft adalah platform produk piranti lunak yang sangat besar, sebuah konglomerat mega raksasa, dan tidak ada cinta di situ. Tidak ada cerita emosional di sekelilingnya. Cerita Bill Gates adalah cerita yang luar biasa tapi tidak pernah benar-benar disampaikan melalui brand tersebut.

Adalah sangat menarik untuk melihat berbagai brand menjadi tua, dan menghadapi lebih banyak kompetitor di pasar, dan berjuang untuk tetap relevan. Lihatlah Levi’s atau Gap atau brand besar Amerika lainnya yang tenggelam dalam perjuangannya ini. Lihatlah Starbuck. Dalam rangka menangkap ulang spirit mereka, mereka hampir selalu kembali pada inti mereka. Mungkin mereka kelihatan lupa untuk beberapa saat, kemudian mereka ingat lagi, “Oya kami adalah perusahaan kopi !” Lalu mereka melupakan film-film dan rak-rak berisi CD dan fokus pada kopi lagi.”

Mungkin pelajaran yang didapat di sini: memberi nama pada sebuah kopi dan kemudian menjualnya itu mudah, yang sulit adalah menciptakan cerita yang bertahan lama dari nama kopi tersebut.

(17 May 2015)