STRUKTUR

 

Dalam sebuah perbincangan informal dengan teman-teman senior divisi produksi sebuah stasiun televisi, mereka mengeluhkan para junior yang parah. Kok parah ? Iya. Para junior ini punya kemauan banyak, ide-ide liar tapi sama sekali tanpa konsep. Contohnya bagaimana ? Mereka punya ide untuk menampilkan penyanyi di panggung yang berayun dengan cepat sambil bernyanyi secara live. Bagaimana mungkin ??? Mereka harus memahami cara kerja alat-alat agar ide mereka bisa dieksekusi. Jika idenya adalah penyanyi yang berayun cepat bernyanyi, adakah alat audio yang mendukung ? Sampai saat ini teknologi audio yang tesedia tidak memungkinkan untuk itu. Tapi ketika mereka diberitahu mengenai keterbatasan alat, para junior ini tidak terima.

Seliar apapun sebuah ide, harus berangkat dari sebuah struktur bahwa ide tersebut bisa dieksekusi. Sebuah ide tidak ada gunanya jika tidak tidak bisa dieksekusi. Jika anda punya ide live band musik di landasan pacu pesawat terbang, jangang bangga menganggap itu ide yang unik, karena ide tersebut tidak bisa dieksekusi. Suara bising pesawat terbang tidak memungkinkan menggelar konser musik di situ.

Lho katanya ide harus gila ??? Iya ide harus dianggap gila oleh orang awam karena mereka tidak tahu bagaimana mengeksekusinya, tapi kita harus sangat paham bagaimana mengeksekusinya. Kreatif bukan berarti bebas tanpa struktur. Karena itu, tanpa kemampuan berpikir konsepsional, sebuah ide hanya sekadar angan-angan.

(30 April 2015)

 

PRE CONTEMPLATION

 

Pernahkah anda bicara di depan sekelompok audiens dan anda merasa mereka tidak tertarik dengan materi yang anda sampaikan ?

Siapapun yang berprofesi atau berencana menjadi pembicara publik ada baiknya memahami stage of change dari Prochaska dan DiClemente. Prochaska dan DiClementer menyebut ada 6 tahap perubahan yang mereka temukan ketika berhadapan dengan orang yang kecanduan rokok dan narkoba (lho kok kecanduan narkoba ? Iya, teori ini mengenai tahap perubahan orang untuk lepas dari kecanduan namun bisa diterapkan dalam bidang public speaking). Enam tahap itu adalah pre contemplation, contemplation, preparation, action, maintenance, relapse.

Tahap pre contemplation itu adalah tahap tidak peduli. Contoh, seorang perokok dalam tahap pre contemplation ini sama sekali tidak peduli bahwa merokok itu mengganggu kesehatan. Mungkin dia pernah dinasehati atau disodori artikel tentang bahaya merokok, tapi itu semua tidak membekas dalam benaknya. Dalam tahap ini, sama sekali tidak ada niat untuk berubah dari kondisinya sekarang. Jika si perokok ini kemudian tersadarkan oleh sebuah peristiwa meninggalnya orang terdekatnya karena merokok, dia masuk dalam tahap contemplation: mulai terpengaruh untuk mempertimbangkan kemungkinan berubah. Sebuah perubahan yang sudah lumayan. Dan ketika dia sudah merencanakan untuk berhenti merokok dalam waktu 1 bulan ke depan, itu tandanya dia sudah masuk tahap preparation.

Nah bagaimana penerapan Stage of change di bidang pelatihan atau public speaking ? Katakanlah anda seorang pembicara untuk materi mengenai kewirausahaan dan kemudian anda harus bicara di depan para karyawan baru yang berada pada masa sangat menikmati pekerjaannya, maka bisa diprediksi paparan anda akan mendapat respons yang sangat minimal. Para karyawan ini sedang menikmati proses perjalanan karirnya sehingga sama sekali tidak mempertimbangkan kemungkinan untuk berwirausaha. Maka tugas anda sebagai pembicara sekadar “meracuni” untuk bisa pindah ke tahap contemplation, membuat mereka terpengaruh oleh betapa indahnya dunia wirausaha. Tapi beda ceritanya jika anda mengadakan seminar berbayar untuk tema wirausaha. Siapapun yang datang pasti sudah tertarik dengan dunia kewirausahaan dan bahkan beberapa sudah punya rencana melangkah ke dunia usaha. Artinya, mereka sebagian besar sudah dalam tahap contemplation dan preparation. Dengan audiens seperti ini anda akan dengan mudah mendapat respons positif dari mereka.

(29 April 2015)

KATO

 

Baru selesai membaca buku Indonesia Di Mata Orang Jepang karya Hisanori Kato menjadi menyentuh. Sebuah buku catatan ringan tentang pengalaman orang Jepang berada di Indonesia.

Awalnya kato merasa benar-benar menjadi orang asing di jakarta. Dia merasa tidak bisa memahami orang Indonesia. Karena tidak bisa memahami, Kato tidak bisa berkomunikasi dengan orang Indonesia. Hingga suatu ketika dia punya ide gila: mengamen di bis bersama rekan Jepangnya. Selesai mengamen dia mendapat tepuk tangan riuh dari seluruh penumpang. Kato mendatangi penumpang satu per satu sambil menadahkan topi, semuanya memberi uang. Sejak itu Kato punya pandangan lain terhadap orang indonesia. Sebuah pandangan yang membuatnya mampu membuka komunikasi dengan orang indonesia. Pandangan itu terjadi karena adanya empati. Kita pun berempati pada kato. Seakan-akan kita menangkap ketulusan Kato untuk bersahabat.

Empati dan komunikasi menjadi sangat terkait. Sebuah komunikasi tanpa empati adalah komunikasi yang tidak meninggalkan jejak apa-apa. Sebuah komunikasi yang dilandasi empati akan memberikan inspirasi yang bertahan jauh lebih lama.

(28 April 2015)

TERLAMBAT

 

Seorang teman mengeluh seandainya dia bermain saham sejak umur 25, sekarang mungkin tidak perlu bekerja karena sudah berkelimpahan uang. Seorang teman yang lain merasa terlambat mulai menabung: seandainya dia mulai menabung sejak umur 19, 10 tahun lagi dia akan mendapatkan uang Rp 3 milyar (entah darimana hitungan ini)

Setiap orang rasanya ada satu bagian dari hidupnya yang merasa terlambat.

Bedanya, ada yang menyesali keterlambatannya hingga merasa minder untuk berkompetisi dengan orang-orang yang lebih dulu ada di bidang tersebut. Ada yang merasa terlambat dan kemudian menetapkan deadline yang sangat ketat untuk bersaing dengan orang-orang yang lebih dulu ada di bidang tersebut. Ada yang merasa terlambat dan kemudian berusaha keras menemukan cara agar dia mampu menjadi unik dan berbeda dari orang-orang yang lebih dulu ada di bidang tersebut. Silakan anda pilih sendiri dari pilihan-pilihan tersebut ketika anda merasa terlambat.

(27 April 2015)

SELESAI

 

Dalam wilayah kreativitas, tidak ada sesuatu yang selesai. Hasil dari pemikiran kemudian lahir ide, lalu direalisasikan menjadi sebuah produk/jasa/prosedur. Setelah produk/jasa/prosedur dihasilkan bukan berarti telah selesai. Kreativitas pasti menuntut untuk menyempurnakan. Atau kreativitas melihat bahwa seiring berjalannya waktu, sebuah produk/jasa/prosedur menjadi tidak sempurna sehingga diperlukan ide-ide baru lagi yang pada gilirannya perlu upaya-upaya baru lagi untuk merealisasikan. Siklus terus berputar spiral. Kreativitas tidak pernah berujung pada satu titik. Tiap kali itu menjadi titik, sebenarnya itu bukan titik yang sempurna karena masih harus dilanjutkan gerakan-gerakan spiral yang baru.

Jadi sebenarnya kreativitas adalah keseharian kita sebagai manusia. Kita adalah kumpulan berbagai hal yang tidak selesai. Kita berusaha menyelesaikan satu per satu. Ketika yang satu selesai, yang lain sedang menunggu upaya penyelesaian dari kita. Begitu seterusnya. Dan itu menjadi takdir kita sebenarnya: tidak pernah selesai. Ketika kita menganggap sudah selesai, maka selesai lah kita.

(25 April 2015)

5 VS 77

 

Pendapatan novel Harry Potter dari buku saja mencapai Rp 77 Trilyun. Sedangkan jumlah omzet industri perbukuan indonesia selama setahun sekitar rp 5 trilyun. Berarti penjualan harry potter setara dengan omzet industri perbukuan indonesia selama 15 tahun ! Mungkinkah ada buku indonesia yang mampu booming dengan nilai minimal 1% saja dari penjualan novel harry potter atau sekitar Rp 770 milyar ? Jika harga buku itu Rp 80.000 maka berarti harus jual 9.625.000 eksemplar untuk bisa mencapai Rp 770 milyar. Mampukah ? Harus ! Laskar pelangi berhasil menjual 1,2 juta eksemplar. Berarti mesti ditingkatkan 9 kali lagi. Dalam kreativitas memang tidak ada hitung-hitungan seperti ini. Tapi hitung-hitungan ini mungkin perlu untuk memancing mimpi lebih tinggi lagi.

(24 April 2015)

TEMAN

 

Pernahkah anda meng-unfollow orang dalam twitter ? Atau berapa banyak anda telah meng-unfriend orang-orang yang ada dalam daftar teman anda di facebook ? Mungkin sebagian alasan anda meng-unfollow atau meng-unfriend itu karena emosional. Anda tidak setuju dengan beberapa tweet orang tertentu atau merasa terganggu dengan status orang tertentu di facebook sehingga anda memutuskan untuk tidak berelasi lagi dengan orang tersebut di dunia internet. Nasehat yang dulu sering kita dengar adalah semakin banyak teman adalah semakin baik. Tapi dalam dunia yang saling terkoneksi di dunia internet, kata “punya banyak teman” adalah sesuatu yang tidak langsung bisa menjelaskan orang tersebut pintar berteman atau tidak.

Lepas dari punya banyak teman atau tidak di media sosial, kemampuan kita memelihara relasi sangat sangat terbatas. Dunbar menyebut angka 150. Artinya kemampuan kita memelihara relasi sosial itu paling banyak itu dengan 150 teman. Jadi kalau ada orang yang meng-unfollow atau meng-unfriend itu bukan dalam rangka memutuskan silaturahmi tapi sekedar fokus pada jumlah yang memang bisa dipeliharanya untuk menjadi relasi sosial yang stabil.

Dan ketika di facebook teman sudah lebih dari 5000 sehingga harus membuat akun baru lagi, pertanyaan yang harus dijawab adalah kita sedang memelihara relasi dengan teman atau memelihara relasi dengan para fans atau pengagum kita ?

(23 April 2015)

SAFETY ZONE

 

Istilah comfort zone sudah sangat sering disebut. Lepas dari pemaknaan yang betul atau tidak.

Seth Godin menambah satu istilah lagi yang sangat jarang disebut: safety zone. Ada perbedaan antara comfort zone dan safety zone. Seorang pendaki gunung yang paham kapan dia berada di luar safety zone akan merasakan gangguan terhadap comfort zone-nya sehingga dia menunda pendakian sampai keesokan harinya. Seluruh kehidupan kita, menurut godin, adalah persoalan koordinasi antara comfort zone dan safety zone. Belajar kapan saatnya menekan, kapan saatnya mundur, memahami bagaimana rasanya jika berhadapan dengan sesuatu yang tampaknya berbahaya. Sampai suatu titik dimana kita tidak punya waktu lagi untuk terus-terus menerus mengevaluasi safety zone kita. Kita pun hanya berkonsentrasi pada comfort zone. Akhirnya kita pun berasumsi bahwa apa pun yang membuat kita nyaman (comfort zone) pasti membuat kita aman (safety zone). Zaman berubah, dunia ekonomi berubah. Segala aturan berubah. Akibatnya: safety zone ikut berubah, tapi comfort zone tidak berubah.

Menurut Godin, kita melakukan kesalahan. Kita menetapkan sebuah safety zone yang tidak cukup kuat yaitu safety zone yang bertumpu pada otoritas dan kepatuhan. Kita membangun comfort zone di antara sikap yang berusaha patuh (pada otoritas) sekaligus ingin tidak terlihat (tersembunyi dari siapapun). Akibatnya kita menjadi sangat jauh dari gerak perubahan.

Ini kata-kata penting dari Godin: sebanyak apapun buku yang dibaca dan sebanyak apapun seminar yang dihadiri, tapi jika anda tidak memperhitungkan bagaimana menyatukan comfort zone dengan safety zone saat ini, semua strategi tidak akan berhasil membantu anda.

Kesimpulannya sederhana: Tetap ada safety zone tapi tempatnya telah bergeser dari tempat semula. Bukan di tempat yang membuat anda nyaman. Safety zone yang baru adalah tempat dimana seni dan inovasi dan destruksi dan kelahiran kembali terjadi. Safety zone yang baru adalah bentuk penciptaan tanpa henti secara personal yang jauh lebih dalam.

(22 April 2015)

KLISE

 

Klise adalah ungkapan atau pernyataan atau perkataan yang begitu sering diucapkan orang sehingga tidak lagi mampu memberi efek penggugah. Contohnya, frasa “berguna bagi nusa dan bangsa”. Kata-kata ini begitu sering diucapkan sampai-sampai untuk sebagian besar orang kata-kata tersebut tidak punya makna lagi.

Ada lagi kata-kata nasehat seperti jangan pandang sebuah gelas itu setengah kosong tapi setengah penuh. Ini salah satu bentuk nasehat yang menganjurkan optimisme. Orang yang memandang gelas itu setengah kosong itu orang yang pesimis. Begitu banyak yang mengatakan seperti itu sehingga pendengar menjadi enggan, atau lebih parah lagi menuduh si pembicara malas mencari kata-kata baru. Padahal ada banyak kutipan yang bisa digunakan untuk menggambarkan optimisme. A pessimist sees only the dark side of the clouds and mopes; a philosopher sees both sides, and shrugs; an optimist doesnt see the clouds at all hes walking on them (leonard louis levinson) seorang pesimis melihat sisi gelap awan dan bersedih, filsuf melihat kedua sisi, dan angkat bahu; seorang optimis tidak melihat awan sama sekali dia berjalan di atasnya.

Paradoksnya, dalam membuat tagline, kita mesti mengulangnya berkali-kali agar masuk dalam persepsi khalayak. Tapi di sisi lain, jangan sampai tagline ini menjadi klise. Dan, memang dibolehkan slogan iklan mengalami perubahan seiring waktu. Dari kurun waktu 1886 sampai 2015, slogan Coca Cola telah mengalami perubahan lebih dari 45 kali. Mulai dari “Drink Coca Cola and enjoy it” (1886) hingga “Make it Happy” (2015)

(21 April 2015)

OPRAH

 

Di sebuah kamar hotel secara kebetulan saya menyaksikan Oprah Winfrey show episode memberi penghargaan pada perjuangan seorang ibu. Kali ini si ibu bernama Monica. Saat melahirkan anak kedua, si ibu terkena sejenis bakteri yang menyebabkan dia harus diamputasi 2 tangan dan 2 kakinya. Sebuah cobaan yang dahsyat. Monica bercerita ketika diputuskan harus diamputasi, dia hanya mengatakan lakukan amputasi itu. Tuhan hanya menguji saya untuk melakukan segala hal tidak dengan lebih mudah.

Kemudian narasi mengatakan bahwa bukannya meratapi kemalangannya, Monica menjalani hidupnya dengan optimisme yang sangat mengagumkan. Lihatlah ekpresi Oprah. Tidak terlihat ekspresi mengasihani. Yang ada adalah ekspresi kekaguman pada perjuangan Monica. Penonton pun tersentuh.

Oprah kemudian menghadirkan Nate Berkus, seorang disainer interior. Nate mengungkapkan rasa perhargaannya pada Monica dengan kalimat dan ekspresi yang begitu tertata sehingga tidak bisa tidak penonton merasakan ketulusan Nate Berkus. Berikutnya Oprah memberitahu Monica bahwa Nate Berkus sengaja merancang khusus sebuah rumah agar Monica bisa menjalani kehidupan sehari-hari sebagai istri dan ibu dari 2 anak dengan jauh lebih mudah.

Empati itu sebentuk kebajikan. Empati juga sekaligus tema yang mendominasi era konsepsional. Empati yang dikelola dengan sangat kreatif dalam sebuah tayangan televisi itu akan menyebarkan kebajikan dan keindahan.

(20 April 2015)