PEMASARAN INTERNAL

 

Pemasaran selalu berkaitan dengan orang di luar: Pelanggan.  Seakan-akan hanya pelanggan sebagai bagian terpenting dari upaya memperkuat brand.  Pihak yang sering dilupakan dalam urusan memperkuat brand ini adalah PEGAWAI.  Tidak mungkin ada brand yang sangat kuat di mata pelanggan jika para pegawai sendiri tidak percaya pada brand itu.

 

Pernahkah anda dengar pegawai sebuah merek mie instan yang justru menyarankan semua anggota keluarga terdekatnya tidak mengonsumsi mie merek tersebut karena dia tahu kandungan kimia yang sebenarnya ?    Pernahkah anda dengar seorang anggota keluarga kita yang menceritakan rahasia sebuah maskapai tempatnya bekerja dan berharap kita –sebagai anggota keluarganya—tidak menggunakan maskapai itu karena aspek keamanannya mengkhawatirkan ?    Pernahkah anda dengar produser program tv yang justru melarang anaknya sendiri untuk menonton program yang menjadi tanggung jawabnya karena menganggapnya sebagai pengaruh buruk ?

 

Bahkan di Amerika Serikat pun,  menurut Harvard Business Review, pemasaran internal (internal marketing) tidak dilakukan dengan benar.  Sebagian atasan menyadari perlunya terus-menerus menginformasikan pada para pegawai mengenai strategi dan arah perusahaan,  namun hanya sedikit yang menyadari perlunya memberi keyakinan pada pegawai mengenai kekuatan brand .  Para eksekutif HRD tidak menguasai keahlian pemasaran untuk mengkomunikasikan dengan baik.  Informasi seringkali disebar ke pegawai dalam bentuk memo dan pengumuman-pengumuman.

 

Karena itu,  Colin Mitchell mengusulkan perlunya mengaitkan antara pemasaran eksternal dan internal.  Untuk bisa mengaitkan itu perlu ada suatu target besar –bahkan hampir tidak mungkin- untuk dicapai semua pegawai.  Contoh yang paling legendaris adalah IBM ketika mengubah haluannya di tahun 1997 menjadi e-business. Berbagai pihak di luar IBM  meragukan keberhasilan  langkah ini karena survai menunjukkan para pelanggan belum siap untuk menerima IBM sebagai pemain hebat di e-business.    IBM pun melakukan kampanye pemasaran internal sedemikian rupa sehingga mengubah cara pikir para pegawai bahkan dalam hal memberi nama produk. Kampanye ini memperkuat rasa percaya diri para pegawai mengenai arah dan makna dari masa depan yang hendak mereka tuju.   Tak lama setelah itu, riset menunjukkan bahwa persepsi masyarakat sudah terjadi peningkatkan empat kali lipat untuk mengasosiasikan IBM dan e-business.

 

Itu yang dikenal dengan “two way branding” dari IBM.  Pemasaran internal menjadi makin kuat karena bertumpu pada “ide besar” yang sama dengan yang disampaikan iklan. Pemasaran konsumen menjadi lebih kuat karena pesan-pesan yang dikembangkan berdasarkan pada perilaku dan sikap pegawai.

 

Jadi, kalau ada pegawai yang justru mematikan brand di  lingkungan eksternal, jangan-jangan memang para pegawai belum tersentuh oleh kampanya pemasaran internal untuk sama-sama meraih target besar dan ide besar.

(16 December 2015)

 

HADIAH

 

 

Ketika sebuah stasiun tv berhasil dengan  game show  yang menawarkan hadiah lebih dari Rp 1 milyar,    stasiun tv lain mencoba gameshow lain dengan hadiah yang lebih besar  tapi tidak berhasil.

 

Ketika sebuah merek sabun cuci memberikan hadiah gelas dan berhasil membuat pelanggan melakukan pembelian berulang,  merek sabun cuci lain mencoba memberikan hadiah piring tapi tidak berhasil mendapat banyak perhatian dari pelanggan.

 

Hadiah uang dan barang tampak menyenangkan.  Tapi tidak serta-merta berhasil mengikat pelanggan.  Bahkan jika hadiah itu tidak berupa uang dan barang pun ternyata bisa berhasil.  Ketika kita berkali-kali bepergian dengan menggunakan satu maskapai, kita dihadiahi oleh maskapai itu status.  Dengan status itu kita diberi keistimewaan:  bisa masuk lounge,  loket tersendiri sehingga tidak antri.

 

Menghadiahi uang dan barang pada akhirnya soal mudah.  Yang sulit adalah sekaligus menyertakan pengalaman menarik dalam mendapatkan hadiah itu.

 

-Memberikan hadiah uang pada pemenang lomba dengan cara ala kadarnya tentu berbeda jika hadiah uang diberikan  melalui tangan pejabat atau artis terkenal.

 

-Memberi hadiah sebuah buku langsung dari toko buku tentu berbeda dengan menghadiahi buku dengan tanda tangan penulisnya.

 

-Memberi hadiah beasiswa secara personal pada murid yang berprestasi tentu berbeda dengan memberi hadiah melalui upacara yang dihadiri seluruh murid.

 

Akan sangat banyak yang mempunyai kemampuan memberikan hadiah uang dan barang. Tapi yang membedakan adalah kemampuan membuat hadiah-hadiah itu berkesan dan memorable karena pengalaman yang menyertainya.

 

(14 December 2015)

RISK & UNCERTAINITY 2

 

Masa depan selalu tidak diketahui.  Dengan kata lain, hasil dari segala usaha kita tidak ada yang bisa menjamin.

 

Siapa yang bisa menjamin lulusan univeritas keguruan akan menjadi guru yang mempunyai reputasi internasional ?

 

Siapa yang bisa menjamin lulusan sebuah  fakultas kedokteran akan menjadi dokter kepala rumah sakit kelas dunia ?

 

Seorang guru atau seorang dokter mempunyai  risk dalam menjalankan profesinya tapi  tidak menghadapi uncertainity sebesar yang dihadapi seorang pembangun startup. Seorang pembangun startup mempunyai kontras yang ekstrem antara berhasil dan bubar.  Tidak ada hitungan probabilitas untuk akhir seperti apa yang terjadi.  Setiap saat harus melakukan perubahan sesuai dengan kebutuhan dan saran dari pelanggan.  Perubahan yang terjadi ke sekian kalinya bahkan sama sekali tak terbayangkan di awal membangun startup. Seorang pembangun startup dengan sengaja menghadapi uncertainity.   Dalam satu titik dia bisa berada dalam situasi “tersesat sepenuhnya”.  Bahkan sebuah startup bisa berada dalam tahap tampak gemilang tapi kemudian tiba-tiba terjadi perubahan hingga membuatnya stagnan selama bertahun-tahun.

Risk dan Uncertainity.  Cerita-cerita pebisnis besar seperti Steve Jobs, Elon Musk, Bill Gates adalah cerita-cerita keberhasilan pribadi-pribadi yang berusaha menerjang uncertainity.

(8 December 2015)

RISK & UNCERTAINITY

 

Apa bedanya risk (risiko) dan uncertainity (ketidakpastian)  ?

 

Menurut ekonom dunia Frank Knight risk dan uncertainity itu berbeda. Frank menggunakan “risk” untuk menggambarkan kasus-kasus dengan probabilitas yang bisa diketahui.  Sebagai contoh, membayangkan McDonald’s mengetahui berapa kali orang akan terpeleset dan jatuh setiap sejuta kunjungan ke tempat mereka. Itu risiko.

 

Uncertainity, menurut Knight, adalah ketika kita tidak tahu probabilitasnya. John Maynard Keynes biasa memberi contoh tentang sebuah perusahaan yang diharuskan membangun smelter untuk tembaga (fasilitas pengolahan hasil tambang yang berfungsi meningkatkan kandungan logam seperti tembaga, emas, perak, nikel dan lain-lain hingga mencapai tingkat yang memenuhi standar sebagai bahan baku produk  akhir)  yang berlangsung bertahun-tahun tanpa batas, di sisi lain perusahaan tersebut tidak tahu sama sekali berapa harga tembaga dalam 20 tahun ke depan, bahkan juga tidak tahu probabalitas dari berbagai kemungkinan harga yang berlaku.

 

Dengan demikian risk dan uncertainity bisa langsung dibedakan.

 

Adalah risk jika memperhitungkan sebuah restoran mengalami penurunan pelanggan ketika mencapai usia 2-3 tahun,  tapi itu adalah uncertainity jika sewaktu-waktu ada perubahan kebijakan dari pemda setempat yang mengharuskan resto itu pindah dari lokasi tersebut.

 

Seorang teman menghitung risk lembaga pendidikan  sekolah selama 5 – 10 tahun ke depan dalam bentuk jumlah murid minimal yang harus didapatkan, namun yang tidak diperhitungkan adalah uncertainity ketika tiba-tiba ada aturan yang mengharuskan sebuah lembaga pendidikan harus memiliki sertifikat sendiri sehingga terpaksa lembaga pendidikan ini harus ditutup karena masih menumpang pada sertifikat orang lain (kejadian ini sama sekali tidak diketahui probabilitasnya pada saat awal membangun lembaga pendidikan tersebut)

 

Seorang penyanyi bisa menghitung risk mengeluarkan uang seberapa besar hingga akhirnya mempunyai album sendiri, tapi sama sekali tidak bisa mengetahui probabilitas sejuta orang mau membeli albumnya.

 

Masa depan selalu tidak diketahui.  Dalam risiko, kita masih bisa memperhitungkan kemungkinan keluar angka 1,2,3,4,5,6 dari dadu yang dilempar.  Dalam uncertainity, kita bahkan tidak tahu apakah dadu yang dilempar, ataukah emas batangan ataukah seekor gajah yang akan menimpa kita.

 

(7 December 2015)

MENIRU PUN BERESIKO

 

Dalam perbincangan dengan Faza Meonk, kreator dari komik Juki yang sangat terkenal itu,  saya mendapat satu pelajaran:  bahkan jika kreator si Juki sendiri berusaha meniru langkah-langkah keberhasilan si Juki belum tentu menghasilkan keberhasilan untuk kreasi yang lain.

Sebuah karya itu berhasil  setelah melalui berbagai jalan buntu dan kemudian mencoba melakukan berbagai adaptasi. Itulah customer development.  Meniru adalah upaya melakukan jalan pintas untuk tidak melalui berbagai jalan buntu, dan akibatnya tidak bersifat adaptif terhadap perubahan. Meniru adalah sebuah kemanjaan menghasilkan produk cepat saji terhadap pelanggan tanpa melalui proses panjang untuk mengenal karakter pelanggan dan berbagai perubahan yang mungkin muncul.

Tentu saja meniru juga bisa berhasil. Tapi yang menjadi kelemahannya adalah mempunyai basis pelanggan yang sangat lemah.  Setiap saat pelanggan akan bisa tergoda membandingkan dengan karya yang ditiru.  Jika itu program tv, maka akan muncul pertanyaan-pertanyaan “kenapa tidak selucu program A ya ?”,    “kenapa jalan ceritanya tidak semengharukan program B ?”, “kenapa tidak semeriah program C?” dan sederetan kenapa yang lain. Pelanggan hanya bisa dipuaskan jika mendekati atau sama dengan karya yang ditiru.   Pada akhirnya ruang untuk bisa melakukan adaptasi terhadap keinginan pelanggan menjadi sangat terbatas.

Ketika kita memutuskan meniru, berarti kita memutuskan untuk membatasi ruang penyesuaian terhadap keinginan pelanggan.  Dan itu berarti tidak bisa jangka panjang.

(3 December 2015)

COBA-COBA

 

Ada perbedaan cukup mencolok antara coba-coba dan percobaan.

 

-Seseorang bisa coba-coba membuka rumah makan di sebuah lokasi.  Orang lain melakukan percobaan dengan menu sarapan ringan  untuk restorannya yang biasa menyajikan makanan berbasis nasi.

 

-Seseorang  bisa coba-coba menjadi fotografer.  Orang lain melakukan percobaan apakah akan banyak yang suka pada foto dengan dominasi warna  biru.

 

-Seseorang bisa coba-coba membuat film.  Orang lain melakukan percobaan membuat film dengan tema percintaan yang tidak happy ending.

 

-Seseorang bisa coba-coba menjadi developer perumahan. Orang lain melakukan percobaan membuat rumah untuk segmen pasangan muda kelas menengah lulusan luar negeri.

 

Dalam coba-coba, cenderung umum dan tak terukur.  Dalam percobaan, biasanya mempunyai hipotesis tertentu yang ingin dibuktikan karena itu terukur.

 

Dalam coba-coba, fokus itu dianggap tidak penting. Dengan begitu ketika gagal, tak ada rencana cadangan yang dijalankan.  Dalam percobaan,  selalu penting untuk fokus pada berbagai respons yang diberikan pelanggan/khalayak sasaran.

 

Dalam coba-coba, jarang dilandasi oleh sebuah pemikiran yang kuat atas sebuah konsep.  Dalam percobaan, seringkali itu menjadi bagian pengembangan dari sebuah konsep yang memang sudah kuat.

 

Antara coba-coba dan percobaan yang membedakan adalah komitmen dan kedisiplinan untuk tumbuh.

 

(30 November 2015)

PENDIDIKAN KREATIVITAS

 

Darimana mulainya anak berkenalan dengan kreativitas dalam tahap paling awalnya ketika di bangku sekolah ?

 

Sebagian dari kita mengingat bahwa riwayat pengalaman bersekolah kita dipenuhi dengan pengalaman menghapal dan disalahkan ketika jawaban kita tidak sama dengan kunci jawaban. Kita tidak diajak berpikir tapi diperintah menjawab.   Sejak awal kita dihambat untuk mempunyai ide sendiri.   Puluhan tahun yang lalu Ki Hajar Dewantara sudah mengenal konsep kreativitas di bangku sekolah.

 

“Hidup dan tumbuhnya anak-anak itu terletak di luar kecakapan dan kehendak kita sebagai kaum pendidik.  Anak-anak itu sebagai makhluk, sebagai manusia, sebagai benda hidup, teranglah hidup dan tumbuh menurut kodratnya sendiri  (buku Pendidikan, hal. 21)

 

“…kemerdekaan hendaknya dikenakan terhadap caranya anak-anak berpikir, yaitu jangan selalu “dipelopori”,  atau disuruh mengakui buah pikiran orang lain, akan tetapi biasakanlah anak-anak mencari sendiri segala pengetahuannya dengan menggunakan pikirannya sendiri…  (peringatan Taman Siswa 30 tahun  1952)

 

Sejak awal Ki Hajar sudah mempunyai konsep bahwa anak-anak mestinya dibiasakan menemukan jawabannya sendiri.  Anak-anak tidak semestinya didikte terus-menerus mengenai jawaban yang benar.  Dengan demikian, yang dilatih terus adalah cara berpikir divergen. Berusaha menemukan berbagai kemungkinan. Mencari sebanyak-banyaknya jawaban.  Menjadi bingung pada awalnya adalah wajar. Tapi kemudian anak-anak merdeka dan bertanggung jawab terhadap jawaban atau ide yang dimilikinya. Anak-anak dilatih untuk mengenal dirinya sendiri.  Mengenali potensinya. Para guru menjadi bagian dalam mendorong anak-anak untuk mampu mengembangkan potensinya.

 

Kata kreativitas mungkin belum pernah disebut Ki Hajar Dewantara, tapi seluruh ajarannya menunjukkan kesadaran penuh akan potensi kreativitas setiap anak. Sekolah nantinya yang akan punya pilihan:  mematikan atau menumbuhkan potensi itu.

(27 November 2015)

KERTAS

 

Dua tahun lalu seorang teman mengundurkan diri dari jabatan cukup terpandang dalam jajaran redaksi sebuah majalah.  Alasannya ?  Dia merasakan bahwa media cetak pelan-pelan dibuat mati oleh internet.  Apalagi  harga kertas makin mahal sehingga tidak ada peluang untuk mampu bertahan.  Teman ini memilih untuk lebih dulu keluar dari kapal sebelum kapal itu benar-benar tenggelam.

 

Seminggu lalu saya dengar cerita anak muda yang keluar dari pekerjaanya dan memilih berbisnis kertas.  Dia menyewa ruko 3 lantai dan siap berjualan kertas.  Ketika ditanya apakah yakin dengan bisnis ini ditengah kertas makin terdesak, dia menjawab, “Yakin. Keluarga saya bisnis di bidang ini dan sampai saat ini bisnisnya masih bagus.”   Kemudia dia bercerita bahwa toko kertas itu tidak punya limbah.  Potongan kertas kecil-kecil hasil potong sehari-hari sudah ada yang menampung dengan harga bagus.  Salah satu pelanggannya adalah para pembuat terompet di akhir tahun.

 

Jadi sebenarnya kertas masih akan terus hidup atau bagaimana ?

 

Sebagian koran memang mati tapi sebagian koran lagi malah menempuh hidup baru.  Tumbuh koran-koran lokal di kota-kota kecil.  Kertas seakan menolak untuk mati.  Meski undangan bisa lewat sms atau WA, tapi undangan resmi ditulis di atas kertas masih lazim digunakan.  Meski kitab suci bisa diakses lewat situs di internet atau lewat apps,  tapi tetap diperlukan catatan yang ditulis di atas kertas bagi yang mempelajari kita suci.  Meski para wartawan dengan mudah merekam segala interview atau pernyataan lewat handphone atau smartphone, tapi mereka tetap perlu mencatat detail atau ide di atas kertas. Meski ada mindmapping yang dilakukan lewat piranti lunak,  tapi sangat sering dianjurkan ditulis tangan di atas kertas sehingga lebih otentik.  Meski sudah cukup jarang orang menggunakan tulisan tangan,  tapi ahli yang bisa membaca karakter lewat tulisan tangan tetap populer dimana-mana. Meski penjualan mainan susun modul sangat luar biasa, tapi permainan lipat kertas dan origami  tetap menjadi permainan kegemaran anak-anak. Meski e-book mulai banyak diluncurkan, tapi buku-buku konvensional yang dicetak di atas kertas tetap mendatangkan uang yang sangat besar.

 

Seperti halnya kita selalu diingatkan akan keterbatasan energi namun kita selalu menemukan energi-energi yang terbarukan sehingga tidak (atau belum) benar-benar terjadi krisis energy, begitu pula dengan kertas.  Siapa pun yang meramalkan kematian kertas, tak akan menyangka bakal seringnya terjadi transformasi kreatif fungsi kertas.  Selalu akan ditemukan dan diciptakan fungsi-fungsi baru.

HARAPAN(25 November 2015)

Ada beberapa kendaraan yang biasa disebut untuk mencapai sukses.  Passion,  kebiasaan, optimisme, inspirasi, dan lain-lain.  Ada satu kendaraan yang menurut beberapa ahli psikologi dianggap remeh selama ini.  Kendaraan itu adalah harapan (hope).

 

Harapan bukan  konsep yang benar-benar baru dalam psikologi. Di tahun 1991 seorang ahli psikologi positif Charles R. Snyder dan koleganya mengembangkan  Hope Theory. Menurut teori ini,  harapan itu terdiri dari  agency  dan pathways.   Agency itu adalah fenomena psikologi sentral yang harus diperhitungkan untuk setiap kerangka penjelasan mengenai tindakan manusia.  Pathways adalah sebuah rangkaian tempat berlangsungnya sebuah proses.   Orang yang punya harapan mempunyai kemauan dan determinasi untuk meraih berbagai tujuan dan mempunyai berbagai strategis  untuk meraih tujuan tersebut.   Sederhananya:  dalam harapan itu ada kemauan untuk bisa sampai satu tujuan tertentu  sekaligus ada berbagai cara untuk sampai pada tujuan tersebut.

 

Penjelasan lebih lanjut,   adanya harapan itu membuat emosi yang mengikuti kognisi, bukan sebaliknya.  Penting bahwa harapan itu melekat dengan kognisi. Dengan demikian, harapan mengarahkan pada learning goals, yang kondusif terhadap pertumbuhan. Orang yang mempunyai learning goals akan secara aktif terlibat dalam pembelajaran mereka, secara konsisten merencanakan berbagai strategi untuk mencapai tujuan-tujuan dan memantau kemajuan mereka untuk tetap berada dalam jalur yang benar

 

Menurut Snyder,  orang yang tidak punya harapan cenderung mengadopsi mastery goals.  Orang yang punya mastery goals akan memilih tugas-tugas ringan yang tidak memberikan tantangan atau peluang untuk tumbuh.  Ketika gagal, mereka berhenti.  Orang yang punya mastery goals itu tak berdaya, dan merasa tidak punya kendali atas lingkungan sekitarnya.  Orang ini tidak mempercayai kapasitasnya dalam meraih masa depan yang diinginkan. Dia tidak punya harapan.

 

Harapan bisa dibedakan dari kendaraan psikologis yang lain, seperti self-efficacy dan optimisme.  Self-efficacy itu sebuah keyakinan bahwa anda bisa mengusai sebuah bidang tertentu.  Optimisme itu sebuah harapan umum bahwa “semuanya akan baik-baik saja”.    Orang yang mempunyai self-efficacy berharap  akan bisa menguasai sebuah keahlian atas bidang tertentu.  Optimisme melibatkan ekspektasi positif terhadap kemungkinan  masa depan tanpa memperhitungkan adanya kendali seseorang atas kemungkinan tersebut.  Berbeda dengan self efficacy dan optimisme,  orang yang mempunyai harapan mempunya kemauan,  jalan  dan strategi yang diperlukan untuk mencapai tujuan-tujuannya.

 

Kreativitas membutuhkan harapan.  Karena kreativitas tidak sekadar ide-ide tapi juga merealisasikan ide-ide.  Merealisasikan ide-ide itu melibatkan kemauan, jalan dan strategi untuk sampai ke tujuan tersebut.  Kreativitas tanpa harapan adalah mustahil.

 

(23 November 2015)

BURSA MOBIL

 

Pernahkah anda berjalan menyusuri bursa mobil bekas di Jakarta yang biasanya menempati ruang parkir di sebuah mall ?   Kalau belum pernah, cobalah sekali-sekali karena akan memberikan pengalaman baru.  Bukan karena di begitu beragam produk mobil bekas yang dipajang,  tapi begitu beragamnya kualitas pelayanan dari berbagai pedagang mobil ini.

 

Ada pedagang yang begitu ditanya mobilnya sudah berapa kilometer, dia langsung menjawab sekian kilometer.  Tapi begitu ditanya lagi mengapa angka kilometernya masih sedikit (di bawah rata-rata mobil dengan tahun yang sama),  dia menjawab dengan nada tinggi “mana saya tahu ?!   saya cuma jualan di sini !”

 

Di pedagang lain,  seorang anak muda menghampiri dengan ramah, tersenyum dan mengajak jabat tangan. Dia menjelaskan kondisi produknya.  Lalu ketika disampaikan pertanyaan yang sama: “kenapa kilometernya masih sedikit ?”   Dia menjawab dengan ramah:  “o iya pak. Bukan karena jarang pakai,  kebetulan si pemilik ini kantornya dekat sekali.  Setiap hari mobil ini jalan kurang dari 10 kilo pak.”   Dia menjawab semua pertanyaan dengan baik dan membujuk supaya mau mencoba menyetir.

 

Sementara di pedagang lain ada anak muda berjaga.  Pakaiannya casual biasa.  Dia tidak hanya bercerita tentang produknya tapi bercerita tentang  bisnis mobil.  Ketika ditanya kenapa tidak ada warna lain selain hitam, dia menjawab bahwa pasar memang lebih menginginkan hitam.  Dia pernah jual mobil dengan warna perak tapi perlu waktu lebih dari 2 bulan untuk laku.  Lalu dia menunjukkan mobil di sebelahnya yang selama lebih dari 6 bulan tidak laku karena warnanya merah.  Dia menasehati, untuk mobil bekas sebaiknya ambil warna hitam karena begitu bosan dengan mobil ini lebih mudah untuk dijual lagi ke bursa mobil.  Warna hitam itu abadi, begitu katanya.

 

Di bursa mobil bekas kita akan belajar bahwa pelayanan yang baik itu bisa membuat kita percaya pada produk yang dijualnya.

(22 December 2015)

 

 

10.000

 

Angka 10.000 sudah telanjur dimiliki oleh Malcolm Gladwell.  Setiap menyebut atau menulis angka 10.000 pasti sudah tertebak kelanjutannya adalah menjelaskan pernyataan Malcolm yang menyatakan bahwa untuk bisa tahap expert harus melampaui latihan selama minimal 10.000 jam.  Entah sudah berapa banyak pembicara dan trainer yang menyelipkan pandangan Malcolm ini dalam salah satu slide-nya.

 

Tapi pandangan berlatih 10.000 jam ini pun sudah banyak penggugatnya.

 

Contohnya cerita ini.  Sekitar tahun 2003 Magnus Carlsen yang waktu itu berumur 13 tahun menimbulkan kehebohan di dunia catur ketika dia mengalahkan mantan juara dunia catur Anatoly Karpov dalam sebuah turnamen catur di Reykjavik, Islandia.  Di hari berikutnya pecatur peringkat atas Garry Kasparov – yang dipandangsebagai pemain catur terbaik dunia—berhasil dipaksa remis oleh Carlsen.    Kehebatan Carlsen terus berlanjut, dia mendapat gelar Grandmaster di tahun 2014,menjadi nomer satu dalam Norwegian Chess Championship tahun 2006, pemain termuda dalam sejarah yang pernah meraih posisi nomer satu dunia di tahun 2010 dan peringkat teratas dalam sejarah di tahun 2012.

 

Tentu saja yang menjadi pertanyaan kemudian: Bagaimana menjelaskan keberhasilan spektakuler semacam ini ?  Apa yang membuat seseorang melampaui posisi semua orang di musik, games, olah raga, bisnis atau ilmu pengetahuan ?

 

Di dunia animasi dan games Indonesia, katakanlah,  aturan 10.000 jam berlatih itu seakan-akan sesuatu yang tidak  bergaung.  Kita bisa terkaget-kaget dengan karya-karya baru (dari anak-anak yang masih belia) yang kehebatannya melampaui karya para senior yang mestinya lebih unggul dalam jam terbang.

 

Di sebuah sekolah dasar di Jakarta selatan ada yang berpandangan bahwa untuk membuat murid mampu mengerjakan soal-soal ujian nasional SD tidak perlu waktu bertahun-tahun.  Sekolah ini hanya fokus pada upaya membuat anak-anak “senang belajar” (pembelajar),  untuk menghadapi ujian nasional para murid hanya perlu ketrampilan ringan yang bisa dilatih hanya dalam waktu 3 bulan dan terbukti berhasil.

 

Tentu saja, pandangan latihan 10.000 jam Malcolm Gladwell ini tetap banyak pendukungnya.  Tapi substansinya, dalam soal karya,  siapa pun punya peluang untuk menjadi nomer satu bahkan jika harus  bersaing dengan para senior yang sudah berlatih lebih dari 10.000 jam.  Tak perlu kecil hati bagi yang belum 10.000 jam. Dalam setiap balapan, sebuah mobil yang jauh tertinggal di belakang pun tetap punya peluang untuk melampaui satu per satu hingga menjadi nomer satu.

 

(19 November 2015)