FIND YOUR WHY(12 September 2017)

“The goal is not  just to sell to people who need what you have; the goal is to sell to people who believe what you believe. The goal is not just to hire people who need a job but it’s hire people who believe what you believe.”

 

Itu kata-kata Simon Sinek yang menulis buku sangat populer Start with Why dan kemudian disusul Find Your Why.  Simon mengatakan ada tiga lingkaran  berlapis.  Yang inti adalah why, kemudian how dan paling luar adalah What.  Sebagian besar perusahaan yang biasa-biasa saja,  hanya berkutat di lingkaran how dan what saja.  Belum sampai pada tingkatan why.   Begitu juga dengan Apple.   Bagi Simon, Apple tak ada bedanya dengan perusahaan komputer yang lain.  Yang membuatnya berbeda jauh dengan kompetitornya adalah Apple menjual apa yang dipercayainya kepada orang-orang yang percaya pada Apple.

 

Penjelasan Simon Sinek ini bisa menjadi momen perenungan bagi siapapun yang berbisnis.  Apakah selama ini kita terfokus pada apa yang dijual ?  Apakah kita pernah mencari jalan untuk berkoneksi pada orang-orang yang percaya pada apa yang kita percayai ?  Apakah kita sudah menemukan why dari bisnis kita ?

 

Contoh yang sangat kelihatan adalah industri penyiaran televisi.   Apakah para stasiun tv itu sekadar menjual pada orang-orang yang membutuhkan apa yang stasiun tv punya (yaitu program hiburan )  ?  ataukah para stasiun tv menjual pada orang-orang yang percaya pada apa yang dipercayai stasiun tv ?  Langsung bisa ditemukan jawabannya pada stasiun tv hanya sekadar menjual program tv karena persaingan mereka adalah persaingan memperebutkan jumlah pasang mata yang menonton.  Karena sekadar menjual, penonton hanya mencari-cari program yang pada saat itu memenuhi kebutuhannya.  Tidak peduli dari stasiun tv mana.  Penonton tidak loyal.   Karena memang tidak ada stasiun tv yang mengkomunikasikan apa yang dipercayainya.  Stasiuns tv bisa berubah-ubah.  Setahun lalu jualan komedi, saat ini jualan horor.   Bagi stasiun tv bersangkutan, tidak adanya WHY membuatnya sangat pragmatis terbatas hanya sekadar menjual program.  Bagi penonton, tidak adanya WHY membuatnya tidak merasa perlu loyal pada stasiun tv tersebut.   Kalau ada program yang sesuai kebutuhan ya ditonton, kalau tidak ada ya tonton stasiun tv lain.

 

Bayangkan jika ada stasiun tv yang mengkomunikasikan Why-nya begini:  kami percaya bahwa kehidupan kita bersama akan menjadi lebih baik jika kualitas tontontan diperjuangkan untuk lebih baik dan lebih baik.  How-nya adalah  memproduksi program-program yang eksekusi produksinya berkualitas dan inspiratif.  What-nya  berbagai program-program tv.

 

Bayangkan jika penonton tv bukan sekadar “membeli”  program yang dibutuhkan saat itu, tapi menonton  tv  karena mempercayai apa yang dipercayai stasiun tv tersebut.  Ada nggak ya stasiun tv seperti itu  ?

OUTPUT KREATIF(23 August 2017)

Orang bisa dengan gampang mengaku sebagai kreatif.  Tapi pada akhirnya pengakuan itu dicocokkan dengan outputnya.  Apa saja output kreatif  itu  ?  Segala hal dalam bentuk tulisan,  disain gambar,  strategi bisnis,  bentuk bisnis,  film, lagu,  notasi dan segala macam yang riel.

 

Orang bisa dengan gampang untuk loncat dari satu fokus ke fokus lain tapi pada akhirnya tetap dilihat outputnya.  Apakah outputnya konsisten ada atau sekadar  perpindahan dari pengalaman satu ke pengalaman lain tanpa output  ?   Di sini pada akhirnya konsistensi tetap diperlukan bagi orang-orang kreatif.  Bukan sekadar rutinitas tanpa ide-ide baru.  Tapi rutinitas menghasilkan ide-ide baru dalam bentuk output yang riel.

 

Mari berkaca pada pengarang-pengarang  produktif yang pada masa hidupnya  mampu menghasilkan ribuan cerpen dan puluhan novel.  Bagaimana mungkin bisa seproduktif itu tanpa rutinitas untuk menghasilkan output ?  yang rutin adalah aktivitasnya.  Olah pikirnya selalu baru.  Pasti sesekali terjadi  tubuh menolak untuk menjalankan rutininitas, entah karena kebosanan atau rasa malas.  Jika rutinitas dalam menghasikan output terhenti,   output pun terhenti untuk bertambah.

 

Sehingga, perbedaan antara orang kreatif satu dengan orang kreatif lain adalah konsistensi dan persistensi dalam melakukan aktivitas-aktivitas yang menghasilkan pertambahan output kreatif.  Dalam  konsistensi dan persistensi pasti ada pemaksaan (dalam istilah Seth Godin adalah penaklukan terhadap otak reptil)  sekaligus kemampuan mengolah pikiran untuk fokus menuntaskan sebuah output seiring waktu.

ORANG DAN IDE(8 August 2017)

Setidaknya ada 3 macam orang dalam kaitan dengan  ide.

 

Pertama,  orang yang merasa bahwa dirinya adalah satu-satunya penghasil ide yang kompeten.  Alhasil,  ide terbaik hanya berasal dari dirinya.  Siapapun yang mendengar  idenya harus merasa beruntung karena diberi ide yang sangat hebat  itu.  Jika ada orang  yang menunjukkan respons negatif terhadap ide itu, maka orang itu   tidak mempunyai imajinasi cukup baik dalam memahami  hebatnya ide itu .

 

Kedua, orang yang merasa bahwa ide baru itu tidak penting:   dunia sudah berjalan dengan sendirinya sehingga tidak ada gunanya berusaha menghadirkan ide-ide baru dalam menciptakan cara baru  dunia berjalan.  Berbagai pemikiran (tak perlu baru) hanya muncul sebagai respons terhadap problem yang menghambat jalannya dunia. Ketika mesin produksi ngadat, baru direspons untuk mencari cara membuat mesin itu berjalan normal lagi.  Tapi selama mesin itu tak bermasalah,  maka tidak perlu  pemikiran-pemikiran baru untuk efisiensi atau apapun.

 

Ketiga, orang yang merasa bahwa ide adalah bagian terpenting dirinya dalam beraktualisasi:  apapun bidangnya dia selalu merasa berkebutuhan untuk mendengar ide-ide dari banyak orang.  Dari kolega, bawahan bahkan orang-orang di luar perusahaan. Rutinitas tak ubahnya arus sungai yang membuat orang lengah.   Setiap ide baru dihargai sebagai sebuah kesempatan untuk menjadi lebih baik dan lebih baik.  Sehingga orang ini cenderung menjadi pendengar yang baik meski kadang-kadang pengalaman menunjukkan bahwa ide yang bisa diterapkan dengan sangat baik tak lebih dari 1% dari seluruh ide yang muncul.     Orang seperti ini mengalir riang di antara kegagalan dan keberhasilan ide-ide sepanjang hidupnya.  Kegagalan dan keberhasilan tak akan menghentikannya  untuk menghasilkan ide-ide. Karena, menurut pemahamannya,  dalam hati setiap manusia pada dasarnya tersimpan hasrat untuk mencipta.

VAD MODEL(19 July 2017)

Kita selalu penasaran dengan mengapa materi-materi tertentu bisa viral –bahkan luarbiasa viral—di media sosial sedangkan materi yang lain tidak sama sekali.  Dari berbagai  berita viral belakangan ini ada 3 berita (video) viral yang bisa jadikan contoh.   Ketiganya berkaitan dengan kekerasan fisik dan bullying.  Yang pertama  kasus seorang perempuan yang menampar petugas bandara,  dan 2 yang lain merupakan kasus  perundungan (bullying) yaitu yang menimpa salah satu siswi SMP  di sebuah mall dan seorang mahasiswa berkebutuhan khusus di sebuah universitas terkenal.  Mengapa ketiganya begitu sangat viral  hingga pihak berwenang harus bertindak ?

 

Penelitian  Jacopo Staino dari Sorbonne University dan Marco Guerini dari Trento Rise menyoroti peran dari  valensi (valence), gugahan (arousal) dan dominasi secara bersama-sama dalam menyebabkan viral. Temuan penelitian ini mengindikasikan bahwa satu emosi saja tidak akan menyebabkan viralitas.  Yang paling berpengaruh terhadap viralitas adalah ketika emosi itu berada dalam  Valence-Arousal-Dominance (VAD) model.   Model ini sering digunakan dalam psikologi untuk mengkategorisasi emosi.   Emosi manusia adalah kombinasi dari 3 karakteristik:

 

- Valensi (valence)  adalah sisi positif atau negatif dari sebuah emosi.  Kebahagiaan adalah valensi positif.  Sedangkan takut adalah valensi negatif

 

- Gugahan (arousal)  berkisar antara  kegairahan (excitement) hingga proses rileks.  Marah itu  emosi gugahan tinggi sedangkan  sedih itu gugahan rendah

 

- Dominasi (dominance) berkisar antara kepasrahan hingga merasa pegang kendali.  Takut atau dominasi rendah, sedangkan kekaguman termasuk dominasi tinggi.

 

Penelitian ini memeriksa 65.000 artikel di dua situs baru dimana pembaca diberi tugas untuk memberikan nilai emosi terhadap artikel-artikel itu.  Kemudian mereka mencari pola di antara cerita-cerita vial,  mengukur viralitas dengan jumlah komentar dan berbagi sosial dari setiap artikel yang diterima.  Jelas sekali ada keterkaitan dari beberapa konten viral dengan konfigurasi tertentu dari valensi-gugahan-dominasi

 

Temuan utama dari penelitian ni adalah mengenai berbedanya peran yang dimainkan gugahan dan dominasi dalam perilaku mengomentari  dibandingkan dengan perilaku berbagi sosial.  Artikel yang punya banyak komentar tercatat mempunyai kemampuan memunculkan emosi gugahan tinggi seperti kemarahan dan kebahagiaan digabung dengan emosi-emosi dominasi renda dimana orang merasa kurang pegang kendali, seperti takut.  Ketiga kasus viral yang disebutkan di atas mewakili konfigurasi ini:  ada kemarahan sangat tinggi (terhadap kesewenang-wenangan yang terjadi) sekaligus takut ini terjadi pada diri mereka sehingga mereka tergerak untuk mengomentarinya.  

 

Di sisi lain, perilaku berbagi sosial sangat terkait dengan perasaan dominasi tinggi, dimana orang merasa pegang kendali,  seperti perasaan terinspirasi atau kekaguman.  Ini sejalan dengan buku Contagious karya Jonah berger bahwa orang  berbagi di media sosial ketika merasa sangat kagum .  Sehingga ketika seorang peserta Britain Got Talent,  Susan Boyle -- yang penampilannya sangat tidak meyakinkan--  membius ribuan penonton dengan suaranya yang sangat merdu, maka dalam waktu bersamaan ada ratusan ribu orang menyebarkan video Susan Boyle bernyanyi.

 

Valensi emosi kurang punya keterkaitan dengan viralitas.  Cerita-cerita viral ada yang positif, ada juga yang negatif.  Tapi setidaknya peneliti melihat bahwa emosi negatif mempunyai peluang lebih besar untuk menghasilkan cerita-cerita viral.

 

VAD Model tentu sangat berguna bagi siapapun yang punya kepentingan untuk merancang strategi komunikasi di media sosial.

REVERSE THINKING(15 June 2017)

Ada beberapa penulis mempromosikan teknik reverse thinking (berpikir terbalik). Salah satunya adalah Cyriel Kortleven. Kita tidak mengikuti logika normal dari sebuah masalah (atau elemen penting dari masalah)  tapi membaliknya dan menemukan ide-ide yang berlawanan.  Berbagai pengalaman menunjukkan selalu menyenangkan untuk melihat sisi berlawanan atau negatif dari sebuah masalah. Menurut Cyriel, ada 2 hal yang bisa dilakukan dalam kaitan dengan reverse thinking ini.

 

 1.  kita membalik  “ide-ide salah” itu sekali lagi dan pada saat bersamaan kita  buat ide-ide itu lebih kuat (membuat ide menjadi lebih kuat ini sangat penting karena kalau tidak kita hanya mendapatkan ide rata-rata yang sudah ada sebelumnya )

 

Contoh:  “saya tidak akan pernah bawa kartu nama lagi”

 

Dibalik menjadi  “saya akan selalu bawa kartu nama dalam jumlah banyak.”

 

Dan membuat ide itu menjadi lebih kuat:  “saya akan memberi kartu nama pada setiap orang yang saya temui dalam kegiatan  bersama”

 

atau

 

“saya bawa sebuah printer kecil dan bisa mencetak kartu nama dimanapun saya inginkan”

 

2.  Kita sengaja berada dalam atmosfer  “ide yang dibalik” itu dan memunculkan ide-ide baru.

 

Contoh:  “Saya tidak akan pernah bawa kartu nama lagi.”

 

Dibalik  menjadi   “saya akan mengikuti pelatihan ingatan  dan akan mengingat semua detail kontak dari orang-orang yang pernah saya ajak  bicara  (dan mengirimkan email kepada orang tersebut dalam waktu 24 jam)”

 

atau

 

“saya akan selalu mengenakan kaos bertuliskan detail kontak saya  dan meminta orang lain untuk memotret kaos saya”

 

atau

 

“di setiap kegiatan jaringan, saya melakukan  sesuatu yangt luar biasa sehingga setiap orang akan ingat dan pada saat itulah saya  meneriakkan alamat website saya (peluangnya besar orang-orang akan ingat.)

 

Intinya, dalam reverse thinking, sebuah ide bisa dibalik lebih dari satu kali untuk merangsang ide yang unik.  Sejalan dengan berbagai teknik lain dalam kreativitas, sebuah metode akan sangat bermanfaat dalam menghasilkan berbagai ide baru. Dan semua itu dalam kerangka cara berpikir divergen dengan adagiumnya yang terkenal: cara paling tepat untuk menghasilkan ide terbaik adalah memproduksi ide sebanyak-banyaknya.

SEINFELD(8 June 2017)

Dua komedian bekerja sama membuat acara tv  berdurasi  90 menit. Mereka tak berpengalaman menulis naskah tv  sehingga kemudian dengan cepat kehabisan bahan.   Karenanya mereka mengubah konsep   menjadi acara tv mingguan berdurasi 30 menit.    Ketika mereka mengirimkan naskah mereka, sebagian besar pejabat  jaringan televisi tidak menyukai atau tidak paham.   Tapi tetap disetujui untuk diproduksi satu episode pilot

 

Setelah ada  episode pilot,  lalu diadakan Focus Group Discussion (FGD).  Seratus orang  dikumpulkan di Los Angeles untuk mendiskusikan kekuatan dan kelemahan acara tv  tersebut.  Para penonton ini menyebut acara  ini sebagai kegagalan total.  Salah seorang penonton berkomentar terus terang,  ”mereka ini pelawak yang tidak lucu,  siapa yang mau menonton ?!”   Setelah 600 penonton diperlihatkan juga episode pilot ini di 4 kota berbeda, laporan ringkasnya menyimpulkan, “ Tak ada satu segmen penonton pun yang mau menonton acara ini untuk kedua kalinya”.  Dipastikan program ini akan mendapat rating rendah.

 

Episode pilot itu  akhirnya ditayangkan juga dan tak berhasil, seperti yang sudah diduga.  Jadi berdasarkan hasil FGD dan hasil penayangan itu,  sudah tidak ada  ampun lagi buat program ini. Namun salah satu pejabat jaringan tv justru mendorong untuk memproduksi 4 episode lagi. Setahun setelah penayangan episode pilot itu,  4 episode baru ini ditayangkan. Dan sekali lagi gagal.  Dengan waktu yang semakin menipis jaringan tv itu memesan setengah musim (6 episode) sebagai pengganti acara yang dibatalkan . Namun salah satu penulis naskah sudah mau berhenti karena kehabisan ide.  Untungnya dia berubah pikiran. 

 

Setelah itu….yang tersisa hanyalah  kisah sukses:   selama sepuluh tahun berikutnya  mendominasi rating tv  Nielsen dan meraih   pendapatan lebih dari 1 miliar dolar AS.   Acara ini menjadi acara tv paling populer  di Amerika Serikat  dan majalah TV Guide menobatkannya sebagai program terbaik sepanjang masa. Itulah acara tv Seinfeld.

 

Banyak hal bisa disimpulkan dari pelajaran Seinfeld ini.  Yang terutama adalah sehebat apapun seorang manager tv tetap tidak bisa memastikan sebuah program sukses atau tidak.  Yang kedua, bahkan FGD yang melibatkan 600 orang pun tak mampu mencium sedikit bau kesuksesan dari program tesebut.  Lalu apa implikasinya dari dua hal poin tersebut  ?

 

Itu bisa mewakili beberapa pilihan. Pertama,   karena FGD atau  penelitian kualitatif  apapun  tidak mampu mendeteksi keberhasilan sebuah program, maka setiap program tv baru tidak perlu mengadakan FGD, cukup produksi 10 episode lalu tayangkan dan lihat hasilnya.  Kedua,   FGD gagal mendeteksi 1 episode pilot karena masih merasa asing dengan ide baru yang ditawarkan sebuah program tv, karena itu minimal dalam sebuah FGD harusnya ada 3 episode pilot.  Ketiga,  buang semua asumsi-asumsi dasar mengenai pola keberhasilan program tv, dan berilah ruang eksperimen untuk program tv yang benar-benar original dan berbeda dari program tv yang pernah ada.

ORIGINALS(5 June 2017)

Adam Grant dalam bukunya Originals memberi analogi yang sangat tepat mengenai  ide baru sulit sekali untuk bisa dipresentasikan agar diterima orang lain.  Ibaratnya kita melakukan ketukan dengan jari tangan  kita di meja mengikuti irama sebuah lagu dan orang lain diminta merasakan lagu yang sama.  Ada variasi jutaan lagu yang ada di benak orang lain. Tak mungkin tertebak. Kecuali jika kita memberi kode atas lagu yang kita mainkan lewat ketuk jari tersebut.

 

Misalnya,  kita menyebutkan 2  lagu yang sangat populer “nina bobo” dan  “bintang kecil, maka dengan mudah kita akan mengarahkan persepsi orang lain untuk menebak  lagu yang kita mainkan lewat ketukan jari tersebut.  Dengan kata lain,   pendengar harus dibuat merasa familiar dengan ide baru tersebut.  Berdasarkan penelitian, setidaknya ide baru itu harus disebut selama minimal 20 kali agar pendengar merasa akrab dengan ide baru tersebut. Setelah itu pendengar terbukti lebih siap untuk mendengarkan ide baru yang akan disampaikan.

 

Tentu saja cara untuk membuat ide baru itu menjadi familier itu bisa macam-macam.  Misalnya dalam pertemuan informal sebelum presentasi resmi beberapa kali melontarkan atau menyebut  ide baru tersebut.  Intinya,  otak perlu mendapatkan pembiasaan atas sebuah ide.  Ide yang terlalu asing atau tidak dikenali akan mengalami penolakan yang sangat kuat.

KOMENTAR(30 May 2017)

Apakah komentar itu penting ?

 

Bisa jadi kita diminta secara khusus oleh seseorang untuk memberikan komentar mengenai sesuatu.    Tapi setelah kita bersungguh-sungguh memberikan komentar, ternyata orang tersebut sebenarnya tidak perlu-perlu amat dengan komentar itu.  Sehingga komentar itu tidak mengubah apapun atau tidak memberi pengaruh apapun.

 

Bisa jadi kita secara spontan memberi komentar pujian atas penampilan seseorang  kemudian setelah itu kita dikenang sebagai orang yang punya selera atas fashion.   Artinya,  komentar itu memberi pengaruh secara langsung.

 

Bisa jadi kita tergerak memberikan komentar atas sebuah masalah hangat di media sosial tapi tak ada satu pun yang menyingggung atau menyebut komentar kita. Komentar kita tenggelam dalam lautan komentar yang semuanya sekadar menjadi angka berapa banyak.

 

Bisa jadi kita menjadi bersemangat ketika banyak orang memberikan komentar yang setuju dan positif atas ide yang kita berikan.

 

Pada akhirnya komentar  hanya sampingan.  Komentar tidak pernah menjadi esensial.  Tak ada komentar pun dunia tetap berjalan biasa.   Karena itu tak semestinya kita meletakkan rasa percaya diri kita pada pondasi berupa komentar-komentar orang lain.  Tapi di sisi lain, komentar kita bisa mencuri perhatian orang lain atas kualitas diri kita.

PENGULANGAN(29 May 2017)

Untuk media penyiaran tv,  bulan puasa adalah bulan seasonal untuk programnya.  Strategi programnya memang khusus selama 1 bulan puasa.  1 bulan yang dianggap spsesial.  Lokasi prime timenya pun berbeda dibandingkan 11 bulan lainnya.  Di bulan-bulan biasa prime time nya ada di pk 18.00 sampai 22.00. Sedangkan di bulan puasa ditambah lagi pk 03.00 – 05.00 yaitu waktu orang sahur.

 

Namun,  strategi khusus di  bulan spesial ini sekaligus menunjukkan pengulangan strategi program.   .  Jika tahun sebelumnya sukses dengan acara drama A, maka acara drama A harus dibuatkan sekuelnya untuk bisa tayang di tahun berikutnya. Begitu seterusnya sehingga tidak  heran ada sebuah drama yang sudah sampai 10 jilid alias 10 tahun.

 

Kesimpulannya:  masing-masing stasiun tv berlomba untuk menang di bulan special  ini agar ketika ketemu bulan ini lagi  di tahun  berikutnya tidak perlu starategi baru, cukup mengulang saja (tentu saja ini berpengaruh terhadap pendapatan iklan karena di tahun berikutnya dianggap punya strategi program yang terbukti ampuh).

 

Strategi baru diperlukan ketika ada program yang gagal di bulan ini, sehingga tahun berikutnya diperlukan ide baru dalam mengganti program ini.  Selebihnya sama seperti tahun lalu. Strategi program di bulan ini adalah keteraturan. Disusun satu per satu menjadi bangunan yang kokoh agar di tahun berikutnya tetap bisa di andalkan. Pengalaman membuktikan bahwa bangunan yang kokoh ini mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam menjamin kemenangan sebuah stasiun tv di bulan ini.  Lalu dimana posisi kreativitas ?   Yang jelas kreativitas bukan berfungsi menghancurkan bangunan-bangunan yang kokoh dan nyaman  untuk  menghasilkan ide-ide yang benar-benar baru dan segar  tapi semata-mata sebagai alat untuk memecahkan persoalan ketika bangunan yang kokoh itu mempunyai masalah di beberapa bagiannya.  Selebihnya adalah pengulangan.

PREDIKSI(23 May 2017)

Mungkinkah memprediksi tindakan manusia ?

 

Ide seperti itu yang menjadi inti dari cerita film seri Person of Interest karya Jonathan Nolan.  Menciptakan sebuah mesin yang menyerap semua video  yang merekam segala aktivitas manusia di seluruh dunia kemudian melalui perhitungan algoritma akan memberikan berbagai kesimpulan untuk mencegah terjadinya kejahatan atau bencana.

 

Mesin ini memang membantu memecahkan masalah, tapi mesin ini tidak bisa meramalkan dirinya sendiri.  Mesin tidak mampu memprediksi adanya campur tangan manusia lain terhadap dirinya.

 

Film seri ini seakan bicara tentang kecenderungan manusia untuk mampu memprediksi masa depan dengan cara memprediksi perilaku manusia. Tapi pada akhirnya masa depan tetap sebuah ketidakpastian.   Mungkin saja kita mampu mengumpulkan kepastian-kepastian kecil berdasarkan data untuk memprediksi masa depan.  Tapi begitu banyaknya variabel dalam perilaku manusia membuat masa depan akan tetap menjadi ketidakpastian.  Dan bukankah itu justru menariknya ketika masa depan seperti kejutan untuk kita ?

 

DUNIA LEWAT MATA INTROVERT(22 May 2017)

Introvert adalah kecenderungan untuk lebih menyukai kesendirian dibandingkan bersama orang lain.  Seorang introvert, sebagian atau seutuhnya puas dengan kesendirian.   Banyak aktivitasnya membutuhkan ketenangan.    Orang-orang yang memisahkan diri dari kerumunan pesta hampir bisa dipastikan sebagai introvert.  Tapi orang yang sedang mengalami depresi bukan berarti introvert.  Introvert  bahagia dengan kesendiriannya.  Tentu saja orang introvert perlu teman seperti orang-orang lain dan butuh kehidupan sosial,  tapi dia tidak butuh harus bersama orang-orang lain untuk merasa bahagia.  Aktivitas yang melihatkan banyak orang membuat orang introvert cemas. Orang introvert bukannya punya kecemasan dalam berhubungan dengan orang ramai,  mereka hanya tidak menyukai itu.

 

Sehingga orang introvert cenderung sangat selektif dalam memilih aktivitas, yang pada gilirannya menjadikannya pandai dalam manajemen waktu.   Bill Gates dan Warren Buffet adalah termasuk introvert.  Karena itu menarik juga mencoba mendengar persepsi orang-orang introvert atas beberapa hal  (berdasarkan imajinasi atas karakter introvert)

 

Reuni:  “ini adalah aktivitas konyol.  Ngapain reuni berulang-ulang.  Seakan-akan orang-orang itu ingin mengawetkan masa lalu.  Iya benar kita pernah satu kelas saat SMP.   Kita kenal semuanya,  tapi ingat:  bukan semuanya teman dekat kita.  Kita paling bersahabat dengan dua atau tiga orang. Yang selalu bersama-sama dan saling memberi kabar terakhir.  Jadi ngapain 30 sampai 40 orang dalam satu kelas dikumpulkan lagi berulang-ulang setelah 30 tahun kemudian.  Apakah mereka pikir setelah puluhan tahun kita menjadi teman dekat.  Tidak.  Yang kita merasa tidak nyambung ya tetap tidak nyambung.  Yang kita merasa asing ya tetap asing berapa puluh tahun pun setelah itu.    Reuni cukup sekali dalam sepuluh tahun.  Setelah itu biarkan mereka secara alamiah berkumpul sendiri-sendiri berdasarkan apa yang mereka sebut sebagai persahabatan.

 

Antara konser dan nonton film:   “sungguh tak pernah terpikirkan untuk jingkrak-jingkrak bersama dengan dilihat banyak orang dalam sebuah keramaian yang terlalu berisik.  Saya lebih suka menonton film.  Saya bisa menikmati kedalamannya.  Saya bisa menikmati pesan-pesannya.  Kalau kemudian terhanyut sendirian,  itu melegakan bisa meneteskan air mata tanpa dilihat orang lain.

 

Rapat: “masih saja ada pemborosan waktu melakukan rapat dengan sangat banyak orang untuk menyelesaikan masalah.  Untuk mendapatkan gambaran mengenai akar permasalahan saja mesti menghabiskan waktu bermenit-menit untuk mendengarkan belasan versi berbeda mengenai sebuah masalah.  Mestinya  saya sendiri bisa mengidentifikasi masalah dan mencari solusinya dengan bicara dengan orang-orang yang punya kaitan tanggung jawab dengan masalah  itu satu per satu.  Itu lebih efektif.

CERITA BURUK(5 May 2017)

Ada seorang teman yang berkarya sebagai sutradara dokumenter dan sesekali film iklan.  Hasil karyanya banyak yang layak diberi nilai  9 dalam skala 1 sampai 10 karena  detil, indah dan memiliki kealaman.   Suatu ketika dia berada dalam masa “berpuasa” karena tidak ada pesanan selama beberapa bulan. Akhirnya dia merelakan editornya untuk mengambil pekerjaan yang lain. Kali ini editor itu mengambil pekerjaan mengedit sinetron yang tayang setiap hari di sebuah  stasiun tv. 

 

Beberapa bulan kemudian, editor ini telah “berubah”.   Beberapa aturan dasar yang ada dalam produksi video dilanggarnya karena pengalaman beberapa bulan belakangan mengijinkan dirinya untuk melanggar aturan-aturan itu.  Pemakluman yang sering keluar, “ayolah.  Nggak usah terlalu taat aturan dan pakem,  ini kan cuma sinetron.”      Padahal mereka semua sadar bahwa jika salah satu aturan dilanggar bisa mengurangi nilai kualitasnya.   Bagi mereka kualitas bukan prioritas.  Sehingga tak heran sering kali muncul keluhan mengenai kualitas sinetron yang di bawah rata-rata

 

Pelajaran yang bisa diambil:   misi untuk menghasilkan sebuah cerita yang baik bisa digagalkan oleh anggota-anggota tim yang punya mental sekadar menyelesaikan pekerjaannya.

 

Cerita adalah hasil kerja dari sebuah tim.  Bahkan seseorang yang tampil sendirian di atas panggung untuk bercerita , entah itu pendongeng atau komedian tunggal,  membutuhkan tim untuk mematangkan konsep cerita dan berceritanya.  Ada tahap demi tahap pencapaian yang harus dilalui sampai akhirnya cerita itu sampai ke audiensnya.  Pengabaian tahap-tahap ini akan menghasilkan cerita yang belum layak muncul.  Alias cerita buruk.

 

Mungkin benar audiens tidak terlalu peduli apakah pencahayaannya kurang , atau komposisi gambar tidak tepat,  atau  antar adegan yang tidak nyambung dan lain-lain.  Audiens hanya bisa menilai ceritanya baik atau buruk. Dan, percayalah,  cerita buruk seringkali terjadi akibat anggota tim tidak menjalankan komitmennya dalam memprioritaskan kualitas. 

PEMBICARA PUBLIK(12 April 2017)

Ada berbagai sebab hingga orang menjadi pembicara publik.

 

Ada yang memang sejak awal bercita-cita menjadi pembicara publik.  Mendekati, mengakrabi dan berguru pada beberapa pembicara publik yang sudah lebih dulu dikenal.  Bagi orang ini, menjadi pembicara publik adalah sesuatu yang penahapan pencapaian.  Mesti dikerjakan tahap demi tahap hingga menjadi tingkat tertinggi. Ujian dituntaskan satu per satu untuk mencapai standar tertinggi sebagai pembicara publik.

 

Ada yang sudah terkenal dulu sebelum menjadi pembicara publik. Entah itu karena dia sering muncul di tv sebagai artis sinetron atau pemain musik hingga akhirnya dia sering berada dalam situasi harus berbicara di depan banyak orang yang menjadi fansnya. Lalu disadarinya kemudian bahwa bicara di depan orang banyak itu menyenangkan. Dia menikmati perannya yang tidak sengaja ini.

 

Ada yang menjadi pembicara publik karena karya-karyanya dikenal.  Entah penulis novel atau pewirausaha sukses.  Karena produk-produknya telanjur sangat dikenal luas di masyarakat maka dia pun mempunyai daya magnet untuk memberikan nasehat-nasehat.  Bagi penulis novel terkenal, tentu saja ditunggu-tunggu nasehat mengenai tips menulis novel yang best seller. Bagi pewirausaha sukses, pasti sangat dinanti berbagai tipsnya dalam mengelola sebuah bisnis hingga berhasil.

 

Apapun dari ketiga itu pada akhirnya yang akan dikenang adalah apakah anda pembicara publik yang menyampaikan ide baru atau tak lebih mengulang-ulang sebuah wacana.

POTENSI TERBAIK(22 March 2017)

Sekali lagi belajar dari Seth Godin.  Kita seringkali sengaja masuk dalam sebuah komunitas agar potensi terbaik kita muncul.  Bersama anggota komunitas lain yang lebih senior atau lebih ahli, kita berharap ada peningkatan dalam wawasan dan keahlian kita.

 

Tapi adakalanya kita masuk dalam sebuah komunitas yang justru menguatkan semangat eksklusif,  berpandangan picik dan bersikap tidak toleran terhadap perbedaan.

 

Begitu kita masuk dalam sebuah komunitas, pilihannya adalah hanyut sebagai anggota atau sekadar menjadi penonton yang tidak  ambil peran.  Tidak mungkin mengubah budaya yang telanjur dikembangkan dan berkembang dalam komunitas itu.

 

Tantangannya pada akhirnya adalah memilih komunitas yang  paling sesuai.  Jika kita tidak mampu menemukan,   mengapa tidak membentuk komunitas baru yang sesuai dengan bayangan ideal mengenai budaya seperti apa yang akan memunculkan potensi terbaik kita ?

POLITIK(21 March 2017)

Ada beberapa macam tipe orang dalam memandang pemilu dan pilkada

 

Tipe pengikut,  menganggap ada kebenaran dari salah satu calon peserta pemilu sehingga merasa sangat sepadan untuk  ikut berjuang membuat  calon peserta pemilu ini menang.  Kemenangan si peserta pemilu adalah kemenangan dirinya. Dia dengan sukarela menjadi pembela jika ada serangan terhadap calon peserta pemilu yang diikutinya.

 

Tipe pengamat,  menganggap pemilu atau pilkada adalah laboratorium dari segala analisisnya.   Pemilu adalah kesempatan untuk menunjukkan kejelian dalam memandang berbagai aktivitas dan tindakan peserta pemilu.   Jika kejelian dan kecermatan itu terlihat publik, maka akibatnya bisa sangat positif dan langsung terhadap prestis dan penghasilan mereka.

 

Tipe pebisnis, menganggap pemilu atau pilkada  adalah sebuah momen menuju perubahan yang mendukung atau membahayakan bisnisnya selama ini.   Kalau pun mereka merasa tidak mampu menjadi aktor utama yang mengendalikan perubahan tersebut,  maka mereka akan mempersiapkan diri agar mampu beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi.

 

Selain dari 3 golongan ini adalah golongan yang menganggap pemilu atau pilkada sekadar pernik-pernik demokrasi yang menganggap sikap apolitik adalah sah-sah saja.

 

3 golongan ini mewakili kepetingan apa yang sedang diperjuangkannya dalam kaitan dengan pemilu. Dan golongan pebinis lah yang selalu sadar mengenai perubahan (politik) sehingga dengan sadar pula harus mengumpulkan kekuatan dalam merealisasikan ide yang mendukung kepentingan mereka. Golongan pebisnis harus selalu menemukan ide-ide baru, bahkan dalam dunia politik.

KONSISTENSI(16 March 2017)

Kalau anda menganggap  pencapaian kreatif itu membutuhkan konsistensi, belajarlah pada  Dr. Andre Geim:  Satu-satunya orang yang pernah meraih penghargaan Ig Nobel dan penghargaan Nobel Fisika.   Kita tahu ada Penghargaan Nobel  ada juga penghargaan Ig Nobel.   Penghargaan Ig Nobel adalah parodi terhadap penghargaan nobel yang diberikan setiap musim gugur untuk 10 pencapaian yang tidak biasa atau aneh dalam riset sains.  Penghargaan ini diberikan sejak tahun 1991 dengan tujuan untuk “menghargai pencapaian yang membuat orang tertawa dan kemudian membuat kita berpikir.”

 

 Dr Andre Geim mendapatkan penghargaan Ig nobel pada tahun 2000 karena upayanya  mengangkat seekor katak hidup dengan magnet.    Gambar katak terbang pertama kali muncul di majalah Physics World edisi April 1997,  meskipun banyak yang menduga ini adalah bagian April Mob,  ngerjain orang di bulan April. Kebanyakan dari kita diajarkan bahwa sifat magnetis dari air itu  milyaran kali lebih lemah dari besi,  bahkan tidak cukup kuat untuk melawan gravitasi,  tapi demontrasi menunjukkan kekuatan yang sesungguhnya dari sifat magnetis air.. 

 

Geim menjadi sangat ingin tahu mengenai magnetism ketika dia tidak mendapatkan peralatan untuk melanjutkan eksperimenya saat bekerja di Radboud University Nijmegen’s High Field Magnet Laboratory di Belanda.    Jadi  di suatu jumat malam dia menyetel   elektromagnet hingga kekuatan maksimum  lalu menuangkan air langsung ke mesin mahal tesebut.  Dia lupa  mengapa dia “bertindak sangat tidak profesional”  seperti itu tapi dia bisa melihat  bagaimana air yang mengucur itu “terdiam”  dalam lobang bertikal.  Bola bola air mulai mengapung. Bola-bola air itu terangkat.   Dia menemukan “kekuatan responsive magnetik air”  yang bisa bertindak melawan kekuatan gravitasi bumi.   Seekor katak terangkat dalam lobang vertikal dalam sebuah medan magnet di  Nijmegen High Field Magnet Laboratory.

 

Apa yang kelihatannya seperti becandaan dan tidak serius ini kemudian berubah menjadi aktivitas yang disebut Geim sebagai “Friday Night Experiment”.  Dalam eksperimen ini,  laboratorium Geim mengerjakan “hal-hal gila yang mungkin remeh temeh tapi jika dilakukan mungkin bisa memberikan hasil yang  sangat-sangat mengejutkan”.  Dari awal karir Geim,  setidaknya dia mencurahkan 10 persent dari waktu laboratoriumnya untuk riset semacam itu.

 

Dalam perspektif Geim “lebih baik salah daripada membosankan”.  dari 24 lebih eksperimen yang pernah dilakukan di Friday Night Experiment, ada yang berhasil,  tingkat keberhasilannya 12,5%.  Katak terbang itu keberhasilannya yang pertama,  yang kedua adalah penciptaan “gecko tape” zat perekat  yang bisa memberi kemampuan memanjat seperti kadal.  Ketiga, isolasi terhadap Graphene.  Yang ketiga inilah penemuan sangat penting yang mengantar Geim mendapatkan penghargaan Nobel Fisika yang sesungguhnya pada tahun 2010. 

 

Secara sederhana, graphene (grafena) adalah molekul yang terdiri dari atom karbon murni.  Atom-atom ini terkait satu sama lain, membentuk pola heksagonal dua dimensi menyerupai sarang lebah. Singkatnya, dapat dikatakan bahwa graphene merupakan unit struktural dari grafit.    Setelah penemuan isolasi Graphene oleh Geim itu,  graphene telah menjadi subyek dari penelitian yang tak terhitung jumlahnya dalam beberapa tahun terakhir.   Pemanfaatan graphene di masa depan bisa menjadi akhir bagi plastik, berbagai komponen elektronik, dan banyak teknologi yang kita gunakan saat ini.

 

 “Perjalanan terbesarnya adalah bergerak ke dalam area yang anda bukan ahlinya, “kata Geim.  “Kadangkala saya bercanda bahwa saya tidak tertarik dalam melakukan riset (re-search) tapi hanya tertarik melakukan pencarian (seach).   Filosofi karir  Geim adalah “bermain di air dangkal”:  “Lakukan sesuatu di sebuah bidang baru selama beberapa tahun lalu tinggalkan !”

BERITA(6 March 2017)

Saya termasuk yang pesimis terhadap berita.  Berita begitu berkelimpahan tanpa saya rasakan manfaatnya.  Manfaatnya hanya sekadar menjadi lebih tahu, tidak lebih jauh dari itu.  Dalam pengalaman saya,   mengikuti perkembangan sebuah perisiwa adalah sesuatu yang absurd.  Mengapa harus terus-menerus mengikuti peristiwa yang berputar-putar jika  yang benar-benar kita perlu tahu itu sekadar bagaimana posisi peristiwa itu pada akhirnya.   Dalam uji coba saya untuk tidak baca berita koran, melihat berita tv,  selama setahun ini minimal     saya tidak merasa ketinggalan tapi justsru merasa lebih produktif karena tidak dirongrong oleh berita-berita yang tak perlu.

 

Bagi saya,  berita telanjur sekadar fakta.  Fakta tidak bicara apa-apa jika hanya dipaparkan begitu saja tanpa dikaitkan dengan ide-ide tertentu.   Sulit membuktikan premis saya ini sampai akhirnya saya bertemu dengan film dokumenter Where to Invade Next karya Michael Moore.   Michael Moore  punya reputasi sebagai pembuat dokumenter nyeleneh karena memaparkan fakta-fakta menjadi sebuah cerita yang sangat memojokkan pemerintah AS.  Lewat film tersebut,  Michael Moore  tetap menyajikan fakta-fakta menjadi sebuah cerita, tapi kali ini bukan untuk menyerang siapapun tapi memprovokasi penontonnya dengan sangat brilian.

 

Ide Michael Moore sederhana:   Amerika Serikat tidak boleh berbangga sebagai negara adikuasa sehingga menutup mata terhadap kemungkinan negara-negara tertentu lebih baik daripada AS.    Di negara masa saja Amerika Serikat bisa mengadopsi ide-ide luar biasa yang telah dijalankan ?   Michael Moore menunjuk negara-negara  Italia, Finlandia, Jerman,  Slovenia,  Portugal, Tunisia.

 

Fakta-fakta satu demi satu ditampilkan. Di Finlandia misalnya, fakta-fakta menunjukkan betapa hebatnya sistem pendidikan di Finlandia.  Pemerintah Finlandia berpandangan bahwa pendidikan adalah kebutuhan dasar warga Finlandia sehingga pendidikan merupakan pelayanan publik. Pengelolaan sekolah diambil alih oleh negara, dan sepenuhnya diusahakan dan dikerjakan demi kebaikan anak didik. Seorang guru Finlandia mengatakan, “waktu saya dapat kesempatan pelatihan sebagai guru di Amerika Serikat,  saya mendengar tetangga saya menasehati anaknya.  Dia bilang, “nak kamu bisa menjadi apa saja yang kamu saat dewasa nanti.”  Saya menganggap ini bohong.  Sampai kemudian saya mendapatkan kesempatan untuk mengajar di Finlandia.  Sekolah-sekolah di Finlandia  mendasarkan filosofi pengajarannya pada apa yang disukai anak dan bagaimana anak memandang masa depannya. Atas filosofi itu, saya kemudian merasakan bahwa sama sekali tidak salah jika kita mengatakan pada anak-anak “kamu bisa menjadi apapun yang kamu mau saat dewasa nanti”  karena sejak dini anak-anak sudah disemangati dan dibimbing untuk mewujudkan itu.”

 

Fakta-fakta ketika disusun untuk sebuah konteks yang inspiratif, cerita yang  dihasilkannya bisa kuat dan positif.   Dan cerita seperti itu tidak mungkin diadakan setiap hari.

PENUNDA(25 January 2017)

Manusia adalah makhluk penunda yang parah.  Seakan-akan ada mantra yang tertanam dalam benak kita “kalau bisa dikerjakan nanti, mengapa harus dikerjakan sekarang ?”.     Bahkan ketika sudah dimulai pun, godaannya begitu besar untuk tidak menuntaskan.  Macam-macam yang berkecamuk dalam pikiran “jika nanti benar-benar sudah selesai apakah mendapat respons yang sebanding dengan segala kerja keras ini”,  “jangan-jangan apa yang sedang aku kerjakan ini bukan sesuatu yang benar-benar berarti.”   Setiap 3 menit kita mengalami interupsi.  Dalam pekerjaan apapun, setiap 3 menit ada godaan untuk teringat hal-hal lain di luar yang kita kerjakan pada saat tersebut.  Itu hasil penelitian Gloria mark guru besar informatika dari University of California.  Untuk mampu menuntaskan pekerjaannya,  manusia perlu tenggat waktu.

 

 Untuk membuat tenggat waktu yang positif, Scott H Young punya 22 tips.  Kali ini cukup 10 tips saja dulu.

 

  1. Use Parkinson’s Law –    Hukum Parkison menyatakan bahwa tugas-tugas  cenderung merambah ke luar dari  waktu-waktu yang telah disediakan.    Dengan menetapkan tenggat waktu yang ketat di awal,  anda bisa menghentikan perambahan waktu ini dan fokus pada hal-hal yang paling penting.

 

  1. Timebox –   Tetapkan  tenggat waktu singkat antara 60 -90 menit untuk mengerjakan sebuah tugas yang spesifik.  Setelah waktunya habis, berhentilah.  Cara ini bisa menghentikan penundaan  dan memaksa anda untuk menggunakan waktu dengan bijaksana.

 

  1. 80/20 –   Prinsip Pareto menyatakan bahwa 80% dari nilai itu merupakan  20% dari input.  Tetapkan aturan terhadap proyek-proyek anda untuk fokus pada 20% yang penting ini baru kemudian kerjakan yang 80% jika masih ada waktu.  

 

  1. Project VS Deadline –   Semakin fleksibel proyek anda, semakin ketat tenggat waktu yang harus anda tetapkan.  Jika sebuah tugas mempunyai fleksibilitas yang terbatas dalam penyelesaiannya,  tenggat waktu yang lunak  akan membuat anda merasa nyaman. 

 

  1. Break it Down –   Setiap tenggat waktu yang lebih dari 1 hari  harus diurai dalam unit-unit yang lebih kecil.  Tenggat waktu panjang seringkali gagal untuk menggerakkan  anda jika tidak diuraikan dalam unit-unit yang bisa dikelola. 

 

  1. Hofstadter’s Law –  Pada dasarnya hukum ini menyatakan bahwa kenyataannya kita selalu melakukan lebih lama dari waktu yang kita pikirkan.  Bahkan sebuah aturan dari  pengembangan piranti lunak adalah waktunya  dua kali lebih lama daripada yang dipikirkan atau direncanakan.  Lalu tambahkan enam bulan.  Karena itu, bersabarlah dan beri waktu yang longgar untuk proyek-proyek yang kompleks. 

 

  1. Backwards Planning –   Tetapkan tenggat waktu lebih dulu baru kemudian putuskan bagaimana mencapainya. Pendekatan ini sangat baik ketika pilihan sangat banyak dan proyek itu mempunyai kemungkinan-kemungkinan yang tak terbatas.

 

  1. Prototype –   Jika anda mencoba sesuatu yang baru,  lakukan   percobaan atas versi yang lebih kecil  dari proyek tersebut untuk memutuskan sebuah tenggat waktu final.  Tulislah sebuah e-book 10 halaman sebelum menulis novel 300 halaman atau coba untuk meningkatkan 10% penghasilan anda sebelum menjadikannya dua kali lipat

 

  1. Find the Weak link  –  Cari tahu apa yang bisa merusak berbagai perencanaan anda dan  temukan solusinya.  Mengetahui apa yang tidak diketahui akan membantu anda  memformat tenggat waktu anda. 

 

  1. No Robot Deadlines –   Robot bisa bekerja tanpa tidur, rilaksasi atau distraksi.  Kita semua bukan robot. Jangan membuat jadwal tenggat waktu dengan mengharapkan anda bisa bekerja 16 jam setiap hari untuk menyelesaikan itu.  

LEBIH MURAH(24 January 2017)

Untuk produk yang sama,  bagaimana membuatnya bisa terjual selain lebih murah ?

 

Salah satunya lewat penipuan.  Di sebuah pasar yang menjual beragam tas, seorang pengunjung mampir di toko paling depan.  Dia melihat-lihat sebuah koper.  Penjual bergaya tak terlalu semangat  menjual koper itu.  “ini memang berkualitas pak. Karena itu harganya agak tinggi.”    Dia menyebut angka satu juta enam ratus ribu rupiah.  Pengunjung tampak tak tertarik dengan angka semahal itu.   Penjual memaksa untuk memberi angka penawaran.  Pengunjung tampak enggan menawar.   Penjual langsung menurunkan hingga Rp 850.000.  Dari sini saja sudah mencurigakan karena harga turun dengan sangat drastis.  Tapi lumayan membuat pengunjung itu merasa bersalah jika tidak memberi penawaran.  Dalam waktu yang genting ini,  pengunjung jadi terburu-buru hingga menyebut angka yang sembarangan “saya pikir harganya tidak lebih dari Rp 700.000”.   Angka itu dianggap angka penawaran.  Penjual pun merespons “ya sudahlah, agar jadi,  750 ribu saja.”   Pengunjung tidak mau mengubah tawaran (dalam hatinya merasa menyesal telah menyebut angka Rp 700 ribu).  Penjual pun melepas dengan harga Rp 700 ribu.   Ketika mengunjungi toko lain di belakang, pengunjung ditawari harga Rp 600 ribu untuk barang sejenis.

 

Menipu adalah cara putus asa untuk menjual. Penjual ini merasa satu-satunya peluang adalah posisi tokonya di depan sehingga merupakan kunjungan pertama dari pengunjung.  Dia harus cari cara agar terjadi closing sebelum pengunjung berkeliling membandingkan harga-harga.  Penjual ini tidak sadar bahwa membandingkan harga  semudah membuka internet di  ponsel.  Ada banyak toko online yang menyebutkan harga.  Mungkin dia merasa beruntung bisa menipu salah seorang pengunjung – yang kebetulan lengah-- tapi itu pasti kejadian yang tidak bisa diulang-ulang.

 

Seorang pengusaha restoran memberi resep lain,  yang penting itu bukan lebih  murah tapi tidak lebih mahal.  Jelas itu berbeda.  Anda tidak perlu berusaha membuat produk anda semurah mungkin.  Tapi bagaimana agar terkesan tidak mahal.  Pengusaha ini memberi ilustrasi:  di toko material manapun harga semen adalah sama. Kalau sampai harga semen di sebuah toko material itu lebih mahal dari toko material lain, maka seluruh barang jualan toko material itu akan dipersepsi lebih mahal.   Begitu juga dengan restoran,  ada menu-menu tertentu yang harus dijaga untuk tidak mahal agar seluruh produk lain dipersepsi tidak mahal.

 

Tentu saja harga tidak bisa disamakan untuk semua daerah.  Setiap daerah mempunyai biaya yang berbeda-beda.   Antara toko di Kemang dan toko di Mangga Dua tentu sangat berbeda dalam menanggung biayanya.  Tapi bagaimana caranya sebuah toko kamera di Kemang tetap bisa bertahan meski menjual kamera yang sama dengan kamera yang dijual di toko Mangga Dua ?   Harga kamera pasti sama tapi yang membedakan adalah harga-harga asesorisnya.

 

Berusaha menjadi lebih murah bisa bikin frustrasi. Permainannya adalah bagaimana caranya agar tidak dipersespsi lebih mahal. Di sinilah tetap diperlukan olah kreativitas.

ROLF SMITH(20 January 2017)

Di awal tahun 1990-an Rolf Smith sudah bicara mengenai 7 level of change.  Ada 7 tingkatan dalam melakukan inovasi.  Inovasi bukan sesuatu yang tiba-tiba.  Inovasi bukan sesuatu yang dilakukan dengan cara melompat tanpa pondasi apapun.   7 level of change ini lah yang bisa disebut pondasi.

 

LEVEL 1:                Effectiveness                     DOING the right things

 

LEVEL 2:                Efficiency                             DOING things right

 

LEVEL 3:                Improving                           DOING things better

 

LEVEL 4:                Cutting Stopping              DOING things

 

LEVEL 5:                Copying                           DOING things other people are doing

 

LEVEL 6:                Different                            DOING things no one else is doing

 

LEVEL 7:                Impossible                          DOING things that can't be done

 

 

Dalam paradigma Rolf Smith ini kita tidak bisa tiba-tiba loncat ke level 5. Dalam contoh yang ekstrim, kita tidak bisa loncat ke level 5 mencontek perusahaan sebesar Apple.   Harus dimulai dari level 1.

 

 

Mari coba menggunakan ilustrasi ini.  Sebuah stasiun tv swasta baru terbentuk.   Lebih dari 50% karyawan berasal dari stasiun tv lain sehingga stasiun tv ini terkesan bisa langsung “running”.  Dengan sangat percaya diri stasiun tv baru ini langsung ke level 6.  Dia yakin mempunyai sesuatu yang berbeda dari stasiun-stasiun tv yang ada.  Akibatnya,    stasiun tv ini melupakan level 1 hingga level 5.  Banyak sekali pertanyaan yang harus dijawab:   Apakah stasiun tv itu sudah menerapkan prinsip efektivitas ?   Sudah efisien ?  sudahkah dilakukan perbaikan-perbaikan atas evaluasi efektivitas dan efisiensi sebelumnya ?    dan seterusnya.

 

 

Tentu saja akan muncul bantahan:   kalau harus menuruti level-level itu,   kapan bisa mengejar stasiun tv yang lain ?    bagaimana pun 7 level of change ini adalah sebuah pendekatan.  Pendekatan ini berasumsi kita tidak bisa mengejar atau melompat tanpa susunan pondasi yang kokoh.  Sampai detik ini, paradigma ini masih belum ada yang membuktikan kesalahannya.